SALAM RINDU, IBU…

Sebongkah rindu yang kini merangkul
hampir saja menuai tetes di pipiku
tatkala terbersit wajah hangatmu
namun cepat ku kuatkan tekadku

berandai tak mampu jelaskan sirat
juga tak merubah kenyataan
sungguh manusiawinya dirku
menyimpan rindu padamu ibu..

ternyata mimpi kau ada disini
padahal diri kita jauh berada
hanya balutan do’a yang bisa membuat kita
tetap menjadi satu

rindupun tak bersalah karena diapun diciptakan
namun kitalah yang harus membuatnya berkah
kita adalah titipan Allah lah yang lebih berhak
salam rinduku ibu…

Pasca Akselerasi Toga

Mungkin terlalu dini aku harus mengakhiri jenjang pendidikan ini..
tapi, sku percaya, bahwa semua ini sudah menjadi takdir dan kehendakNya..
terlepas dari apapun itu, takdir ini telah terjadi, dan telah berlalu..

aku memakai toga, yang notabene dibanggakan bagi para mereka yang mendambakan kelulusan dalam pendidikan,
terutama pendidikan perguruan tinggi..
aku termenung, sendiri… sedangkan ribuan orang asik dengan keadaan saat itu..

3,5 tahun, aku berjuang untuk kululusan ini,
dimulai dari meminta uang jajan dll pada orang tua dan keluarga,
juga bekerja paruh waktu karena keterbatasan ekonomi keluarga,
permasalahan-permasalahan domestik yang selalu membuat kepalaku puyeng,
belum lagi beban batin yang mendera membawaku pada posisi kesakitan…

saat dimana Mamah meninggal dunia,
saat dimana ia mengharapkanku memakai toga,
saat itu… saat itu yang selalu kita nantikan, Mah…

3,5 tahun yang berproses pahit manis, namun kebanyakan pahit!
yah, kepahitan itulah yang sebenarnya membuat aku sampai pada titik ini..
kepahitan inilah yang memotivasi aku untuk mampu berada disini, dan tidak menghiraukan yang lainnya…

disaat yang bersamaan, saat aku duduk termenung di aula utama..
terlintas wajah-wajah pejuang yang lainnya, yang mungkin saat ini sedang dalam kesakitan juga…
yah, mungkin memang aku tidak setia kawan,,
tapi kalian bisa menerimanya kan?

Lima Jari, atau Five Fingers ..
adalah keluarga yang sangat berarti dalam hidupku…
mereka menjadi motivasiku..
mereka bisa menjadi adik, kakak, keluarga, sahabat…
mereka-merekalah yang membuat aku mampu tertawa disaat aku merasa tak akan ada lagi tawa itu setelah kepergian Mamah…
LJ/FF… mampukah kita terus terikat meski waktu memisahkan.. meski jarak menjauhkan raga kita ini ??

kulihat saat itu airmata menetes dari pelupuk Ayah tercinta,
haru saya kira…
ahhh… Mamah,,,

entah apa lagi yang harus aku tulis, pada akhirnya bertitik pada sebuah kelu.

Proposal Kegiatan Peringatan Isra Mi’raj

PROPOSAL KEGIATAN

PERMOHONAN BANTUAN DANA
PERINGATAN ISRA MI’RAJ
DAN MENYAMBUT BULAN SUCI RAMADHAN TAHUN 1434 H
( Kampung Cicarita RW 16 Ds. Ciwaruga Kec. Parongpong Kab. Bandung Barat )

KABUPATEN BANDUNG BARAT
1434 H / 2013
PERMOHONAN BANTUAN DANA
PERINGATAN ISRA MI’RAJ
DAN MENYAMBUT BULAN SUCI RAMADHAN TAHUN 1434 H
KARANG TARUNA GERAKAN MUDA MUDI CICARITA (GMC)

A. Pendahuluan
Ukhuwah Islamiyah harus terus menerus dibangun dan dipelihara dimuka bumi ini, sebagai penjabaran dari aplikasi aktif untuk seluruh ummat muslim dalam menjaga kemasahatan di dunia dan akherat.
Dengan peringatan hari besar Islam untuk mengingat sejarah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqso yang didalamnya yaitu ialah perintah menjalankan sholat 5 (lima) waktu dalam sehari semalam. Berdasarkan sejarah Nabi yang sering kita dengan, mari kita petik pelajaran dari perjalanan Nabi Muhammad SAW tersebut, yang mana beliau selalu berpegang teguh dengan tali silaturahim dan kesabaran, keimanan serta ketaqwaan kepada Allah SWT. Dan semoga Allah selalu memberi taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua sampai akhir zaman. Amiin…
B. Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan dilaksanakannya kegiatan Isra Mi’raj ini antara lain :
1. Sebagai sarana / kegiatan Syiarnya Agama Islam.
2. Meningkatkan tali silaturahim antara Umat Islam .
3. Menambah dan memperluas wawasan tentang Agama Islam.
4. Memperkokoh solidaritas antar Umat Islam.
5. Sebagai wadah para remaja, dan para pemuda dalam menyalurkan potensi dan kreatifitas diri yang dimilikinya.

C. Dasar Kegiatan
1. Program kegiatan kreasi seni anak anak Madrasah Dinniyah Nurul Iman
2. Program kerja Karang Taruna Gerakan Muda Mudi Cicarita (GMC)
3. Agenda Kegiatan Tahunan dalam Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) Kampung Cicarita RW 16 Ciwaruga, Parongpong, Bandung Barat.
D. Nama dan Tema Kegiatan
1. Nama Kegiatan : Peringatan Isra Mi’raj dan Menyambut Bulan Suci Ramadhan
Tahun 1434 H
2. Tema Kegiatan : Mengabdi Diri Menjunjung Tinggi Nilai-Nilai Syari’at Islami
dan Membentuk Masyarakat yang Agamis Toleransi.
E. Waktu dan Tempat Kegiatan
Adapun waktu dan tempat pelaksanaannya pada hari :
Hari/Tanggal : Sabtu – Minggu , 22-23 Juni 2013
Pukul : 09.00 WIB s.d. Selesai
Tempat : Halaman Madrasah Dinniyah Nurul Iman Kampung Cicarita RT.03/016 Desa Ciwaruga Kecamatan Parongpong Bandung.
Penceramah : Ustadz H. Hamim Suhadi
F. Sumber Dana
1. Kas Karang Taruna
2. Donatur – donatur
G. Susunan Panitia
Terlampir
H. Rencana Anggaran Dana
Terlampir
I. Susunan Acara
Terlampir
J. Uraian Penutup
Demikian proposal ini kami buat, dengan harapan kegiatan PHBI Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan Menyambut Bulan Suci Ramadhan 1434 H, di Kampung Cicarita RW 16 Ciwaruga Bandung ini, dapat terrealisasikan dengan lancar, sukses dan mendapat sambutan baik dari pihak masyarakat dan instansi terkait. Sehingga dapat berguna dan memberikan masukan yang berarti bagi perkembangan ilmu Agama dan pendidikan. Semoga dengan Ridho Allah SWT, kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik.
Kerja keras dan keyakinan yang kuat akan menjadi motivasi dan pendukung utama kegiatan ini, ditambah bantuan dan partisipasi aktif dari semua pihak demi suksesnya kegiatan ini. Akhirnya hanya kepada Allah Yang Maha Pemurah kami berserah diri atas segala urusan.

Bandung, Mei 2013

LEMBAR PENGESAHAN

Ketua Penyelenggara Sekretaris

Iran Suparlan Restu Setiyadi

Mengetahui,
Ketua Karang Taruna “GMC” Ketua Rukun Warga 16

Aep Suryana Uhi Hidayat

Menyetujui,

Camat Parongpong Kepala Desa Ciwaruga

( ………………………. ) Sulaeman Jajuli, S.Pd

Lampiran 1
RENCANA ANGGARAN DANA
PERINGATAN HARI BESAR ISLAM (PHBI)
ISRA MI’RAJ NABI MUHAMMAD SAW
DAN MENYAMBUT BULAN SUCI RAMADHAN 1434 H

A. KESEKRETARIATAN
No Nama Barang Satuan Volume Harga Satuan Total
1 Proposal 10 Bundel Rp 4.000 Rp 40.000
2 Amplop 2 Box Rp 10.000 Rp 20.000
3 Tinta Stempel 1 Buah Rp 10.000 Rp 10.000
4 Map Biru/Merah 24 Buah Rp 2.000 Rp 48.000
5 Alat Tulis 8 Buah Rp 2.000 Rp 16.000
6 Kertas A4 1 Rim Rp 33.000 Rp 33.000
7 Kertas F4 1 Rim Rp 33.000 Rp 33.000
Jumlah Rp 200.000

B. PERLENGKAPAN
No Nama Barang Jumlah
1 Sewa Soundsystem Rp 500.000
2 Sewa Panggung & Tenda Rp 1.000.000
3 Dekorasi Rp 300.000
Jumlah Rp 1.800.000

C. KONSUMSI
No Nama barang Satuan Volume Harga Satuan Total
1 Aqua Gelas 60 Dus Rp 12.000 Rp 720.000
2 Aqua Botol 5 Dus Rp 20.000 Rp 100.000
3 Roti 200 Buah Rp 1.000 Rp 200.000
4 Buah Jeruk 2 Kg Rp 10.000 Rp 20.000
5 Kue dan Lontong 1000 Rp 3.000 Rp 3.000.000
Jumlah Rp 4.040.000
D. DANA LAIN LAIN
No Nama Kebutuhan Total
1 Penceramah Rp 2.000.000
2 Pembaca Al Quran (Qori) Rp 500.000
3 Humas Penjemputan Ustadz Rp 700.000
4 Keamanan Rp 500.000
5 Alat Pentas Seni Rp 1.500.000
Jumlah Rp 5.200.000

E. AKUMULASI
A Kesekretariatan Rp 200.000
B Perlengkapan Rp 1.200.000
C Konsumsi Rp 4.040.000
D Dana lain lain Rp 5.200.000
Jumlah Rp 10.640.000

Terbilang : Sepuluh Juta Enam Ratus Empat Puluh Ribu Rupiah

Bandung, 25 Mei 2013
Bendahara

Hilman A

Lampiran 2
SUSUNAN PANITIA
PENYELENGGARA PERINGATAN HARI BESAR ISLAM (P3HBI)
ISRA MI’RAJ NABI MUHAMMAD SAW
DAN MENYAMBUT BULAN SUCI RAMADHAN 1434 H

1. Penanggung Jawab :
– Bapak H.Iskandar (Ketua DKM Masjid Nurul Iman)
– Ibu Eni Nuraeni
2. Penasehat :
– Bapak Uhi Hidayat (Ketua RW 16 Cicarita)
– Bapak Rahmat Firmansyah
3. Ketua Penyelenggara :
– Iran Suparlan
4. Wakil Ketua :
– Jajang Saepuloh
5. Sekretaris :
– Restu Setiyadi
6. Bendahara :
– Hilman
– Riska Cahyani
7. Seksi – Seksi
SEKSI ACARA :
Ketua : Siti Rukmini
Anggota :
– Yayan Suryani – Kokom Komariah
SEKSI DEKORASI :
Ketua : Aep Suryana
Anggota :
– Ode – Riki
– Dada – Ade
SEKSI PENCARI DANA :
Ketua : Opan Sopandi
Anggota :
– Kokon – Idin
– Agus – Bapak Yayan
SEKSI KONSUMSI :
Ketua : Nesti
Anggota :
– Atikah – Risna
– Nita – Yayan
– Uun – Sae
– Kokom – Yuli
SEKSI PERALATAN :
Ketua : Atep
Anggota :
– Oman – Anay
– Iden – Rendi
SEKSI KEAMANAN :
Ketua : Away
Anggota :
– Aji – Pian
– Andri – Dani
– Aris – Entis
SEKSI HUMAS :
Ketua : Yaya
Anggota :
– Cecep – Eca
– Riki – Sandi
– Ade

Lampiran 3
RENCANA DAFTAR UNDANGAN
PARADE KESENIAN ISLAMI

No Nama Undangan Alamat
1 DKM Al-Ikhlas Ciwaruga RW 01
2 PKK Sawargi Ciwaruga RW 02
3 DKM Nurul Huda Ciwaruga RW 03
4 DKM Al-Barkah Ciwaruga RW 04
5 DKM Al-Furqan Ciwaruga RW 05
6 PKK Ciwaruga 05 Ciwaruga RW 05
7 DKM An-Nur Ciwaruga Atas RW 06
8 DKM As-Surur Ciwaruga Atas RW 07
9 PKK Cibeureum 08 Cibeureum RW 08
10 DKM Al-Huda Ciwaruga Bawah RW 09
11 DKM Al-Aqso Ciwaruga Bawah RW 10
12 PKK Ivoga 1 Ivoga RW 11
13 DKM Nahdlatul Jannah Ivoga RW 12
14 SDN 11 Ciwaruga Ivoga RW 12
15 DKM Asy-Syiraj Parigilame RW 13
16 DKM Al-Amanah Parigilame RW 13
17 DKM Al-Qomar Parigilame RW 13
18 DKM Asy-Syifa Kp. Parigilame RW 14
19 MI Nurul Huda Parigilame RW 14
20 DKM Al-Ikhwan Parigilame RW 15
21 DKM Daarussalam Lame RW 15
22 DKM Ar-Rasyid Cicarita RW 17
23 PKK Cicarita 18 Cicarita RW 18
24 DKM As-Salam Cicarita RW 19
25 DKM Ash-Sahaddah Cipanjak RW 01
26 DKM Firdaus Cibadak RW 02
27 DKM Al-Jami’ah Babakan RW 05
28 DKM Nurussalam Cigugur RW 07
29 ECO Daarut Tauhid Cigugur RW 09
30 DKM Al-Ikhlas Kebon Hui RW 12
31 DKM Al-Jawami’ Pangsor RW 13
32 DKM Muhammad Yasir Karyawangi RW 17
33 PKK-PAUD Al-Barkah Karyawangi RW 18
34 Karang Taruna Parongpong Parongpong RW 02
35 DKM Nurul Anwar Parongpong
… … …

Lampiran 4
RENCANA SUSUNAN ACARA
PERINGATAN HARI BESAR ISLAM (PHBI)
ISRA MI’RAJ NABI MUHAMMAD SAW
DAN MENYAMBUT BULAN SUCI RAMADHAN 1434 H

No Waktu Nama Kegiatan
1 Sabtu siang, 22 juni 2013 Kreasi seni anak anak Madrasah Dinniyah Nurul Iman
2 Sabtu Malam Pengisian acara akustik religi Karang Taruna “GMC”
3 20.00 – 21.00 Kabaret religi Karang Taruna “GMC”
4 21.00 – 21.30 Doa dan penutupan
5 Minggu siang,23 juni 2013 Parade kesenian Islam Se-Kecamatan Parongpong Bdg
6 18.30 – 19.00 Pembukaan
7 19.00 – 20.00 Pembacaan ayat kursi Al Qur’an
8 20.00 – 20.30 Sambutan sambutan
9 20.30 – 22.00 Penceramah
10 22.00 – 23.00 Doa penutup

Bandung, 25 Mei 2013
KetuaPenyelenggara

Iran Suparlan

Kisah Sang Toga

Lagu ini aku buat untuk sebuah akhir dan awal perjalanan bagi mereka yang Lulus kuliah, dan memulai kehidupan baru setelahnya. lagu ini masih memerlukan saran dan kritik,. aku tak mampu menyempurnakannya… karena teman-temankulah yang harus menyempurnakannya., semoga sebelum semuanya benar-benar jauh, lagu ini minimal jadi sebuah kenangan buat mereka yang merasakah arti dari lyric nya.. Amien.,

cek idott…

Disebuah tempat terindah

terukir nyata kisah kita

disana kita berada

melukis hari membawa mimpi..

bersama,, merangkai warna di hidup kita

meski nanti akan ada akhir kebersamannya

Reff :

ku yakini kisah ini

takan mampu terlupakan

meski jauh

kan terkenang selalu..

.Gambar

Autobiografi -> Pupu Pia Supiati / Annisa Nur Laila

Goresan tinta ini, tidak mampu menggambarkan jelas seluk beluk kehidupanku… namun goresan tinta pada kertas ini, cukup menjadi bukti dan saksi, kisah sejarah hidupku yang akan selalu dikenang…
Berawal dari sebuah perjuangan seorang Ibu rumah tangga, bernama Aan Hotimah, yang melahirkanku dengan segala kekuatan, keringat, tenaga dan letihnya. Aku diberi nama Pupu Pia Supiati, lahir di kota Bandung, 06 Agustus 1992. Ayahku bernama Carwita Solihin, beliau pensiunan guru. kami Alhamdulillah Muslim.

________________________________________
Season Kucel and the Kumel alias Kuleuheu (MI)
Ini tentang kisah hidupku…
Entah sejak kapan, aku sebagai wanita, tetapi kepribadianku tomboy, seingat aku, sejak dari SD (Sekolah Dasar), aku menyukai hal-hal simple, kepemimpinan, dan kemandirian. Terbukti dengan menjadi komandan di sekolah saat upacara-upacara, dan juga menjadi ketua saat di ekstrakulikuler Pramuka, belum lagi kesenangan bermain layangan, kelereng, dan futsal. Tetapi, dari sana pulalah aku mempunyai prinsip, untuk menjadi seseorang yang mandiri, tidak cengeng, tegar dan belajar disiplin, meskipun aku seorang perempuan dan juga sebagai anak bungsu. Aku anak ke empat dari empat bersaudara sekandung (se-ibu se-Apa), dan anak ketujuh dari total seluruh kakak yang berbeda orangtua, (dua se-Apa, dan dua se-ibu tetapi satu dari kakak se-ibu telah wafat.
Awal pertama masuk MI/SD, di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Huda Ciwaruga Bandung, saat itu aku tidak belajar di kelas, aku asyik sendiri bermain di lapangan, disana aku bermain rumah-rumahan yang dibentuk dari bekas tusuk sate, yang kemudian aku tusukkan kepada lumut-lumut benteng sekolahku. Maklum, saat itu aku belum genap berusia enam tahun, tetapi aku sudah ingin bersekolah dan memakai seragam merah putih, guru-guru pun membiarkanku tetap bermain, sedangkan yang lain fokus belajar.
Sekalipun aku tomboy, tapi saat aku kelas empat MI, disekolah mengadakan berbagai perlombaan dalam rangka Ibu Kartini, saat itu aku mengikuti lomba busana muslim, dan tidak disangka-sangka, aku juara satu. Haha… Ibuku tidak mempercayainya, tapi saat aku memberikan hadiahnya yang tertera tulisan Juara 1 Lomba Busana muslim, Ibuku percaya, sambil geleng-geleng kepala dan menahan tawanya.
Tumbuh dari keringat seorang Ayah, yang berpendidikan lebih tinggi dari Ibu, yang menjadikannya guru dan kepala sekolah di SDN Ciwaruga Dua, tiga puluh tahun yang lalu. Aku terbiasa menyebut kedua orang tuaku Apa, dan Mamah.
Apa, adalah seorang Ayah yang sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya, meskipun terkadang caranya keras, tetapi tujuan Apa hanya ingin membuat anak-anaknya berprestasi, membanggakan, sehingga masa depan anak-anaknya lebih baik.
Tetapi, cara keras Apa justru malah menimbulkan pemberontakan dari anak-anaknya, kakak laki-lakiku yang ke enam bernama Muksin, sejak SD sampai SMP nyaris tidak pernah mendapat nilai buruk, malah hanya satu kali mendapat peringkat empat di kelasnya, tetapi saat SMA, kakak berontak dengan selalu bolos sekolah, dan nyaris terjerumus minuman keras, hingga tidak dapat meneruskan sekolah menengah atasnya. Juga dengan kakak perempuanku yang ke lima bernama Dewi, ia mempunyai keberanian secara langsung menentang Apa karena tidak mau di atur, apa lagi jika sudah emosi, Apa selalu ingin memukul anaknya yang rewel, namun itu tidak terjadi, karena Mamah selalu bisa meluluhkan hati Apa.
Saat ini, di keluargaku hanya aku saja yang dapat mengenyam pendidikan hingga kuliah, yang sekarang kini aku belajar di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Kakak perempuanku yang ketiga bernama Iim, memang pernah kuliah, namun berhenti dan tidak melanjutkan perkuliahan lagi, etnah kenapa. Sedangkan dengan kakakku yang lainnya, hanya tamatan SMP saja, dan mereka kini bekerja sebagai pedagang.
Mamahku seorang Ibu rumah tangga yang menurutku sangat mandiri, ia mempunyai keahlian dalam menjahit pakaian, membuat kue bolu dan berbagai macam kue lainnya, sehingga tidak hanya mengandalkan uang dari Apa saja. Sejak dahulu, Mamah selalu giat dalam bekerja, baik itu menjahit, ataupun berdagang.
Saat aku masuk MI, aku tidak mau di antarkan Mamah ataupun Apa, karena begitu inginnya aku sekolah dan memakai atribut sekolah, dan memang pada dasarnya tidak dimanja, jadi hari pertama masuk MI aku pergi sendirian, sedangkan di sekolah banyak teman-temanku yang diantar orang tuanya.
Aku pernah menjuarai lomba PBB (Peraturan Baris ber Baris) ekstrakulikuler Pramuka saat kelas empat di Cihanjuang Cimahi (Jinjirigil), saat itu pasukanku bernama Sun Flower mendapat juara Favorit ke Satu. Darisanalah aku menyadari, ada sedikitnya pengaruh pembentukan karakter aku, karena mengikuti ekstrakulikuler Pramuka tersebut.

Masih Season Kuleuheu tapi sedikit berubah (MTs)
Jenjang Menengah Pertama, aku masuk ke MTsS Al-Inayah Kota Bandung, saat itu aku pernah mengikuti ekstrakulikuler Pencak Silat, Pramuka, dan aktif pula di OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah). Saat itu pula aku pernah menjuarai lomba pidato se-sekolah sebagai juara ke 2, juga menjuarai lomba Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) se-sekolah sebagai juara pertama, di lain tempat, saat ini pulalah aku menekuni kegiatan seni Qasyidah di madrasah tempat mengajiku di desa.
Terlepas dari pengalaman organisasi dan prestasi tersebut, pada jenjang ini pulalah aku mulai berubah kepribadian, sesaat setelah kepergiannya Mamah kepada Sang Pencipta, tepatnya pada tanggal 07 April tahun 2007 jam 21.00 WIB, sirine Ambulance masih begitu mengiang ditelingaku hingga kini, serangan jantung telah merenggut nyawa Mamah hari itu. Bumipun menangis, anginpun menusuk tulang sendiku, akupun nyaris tak mampu berdiri.
Sore itu, kala angin berhembus kencang menerbangkan helaian daun yang kering berguguran
larian kaki anak yang baru menginjak remaja itu
begitu menggebu
dikepalnya sebuah trophy berwarna emas menyala
seorang anak remaja dengan seragam putih-biru
dan kerudung putih menggendong tas di punggungnya
ia berlari dengan senyum mekar di pipinya
ia berlari dengan ceria dimatanya
sesampainya dirumah
ia dapatkan keadaan rumah yang tak berpenghuni
rasa kecewa jelas terlihat di wajahnya yang putih bulat
ia letakan trophy tersebut di meja ruang tamu rumah
kekecewaan itu berlanjut hingga malam tiba
saat adzan maghrib berkumandang ia baru mengetahui sang ibu sedang dirawat
dengan hati yang kecewa, gundah, gelisah, anak remaja itu merengek ingin pergi kerumah sakit untuk bertemu Ibunya
tepat pukul 21.00 saat anak remaja itu selesai mengaji
ia bergegas berpakaian untuk ikut sang kakak ke rumah sakit
namun, langkahnya terhenti saat ponsel kakaknya bordering
dan sang kakak dengan suara keras terkejut mengucap kata “Innalillahi wa Innailaihi Raaji’un”.
Eeh, tujuh bulan sebelum Mamahku meninggalkan dunia yang fana dan penuh dengan cobaan, godaan, kenikmatan, kebahagiaan, kesusahan, kesukaan..(hmmm… apa lagi ya?) ya intinya sebelum beliau meninggal dunia, aku punya ponakan baru neeh.. namanya Salma Fauziyyah Nurfitria. Aku yang nyumbangin nama belakangnya “Nurfitria” tuh fotonya, kagak mirip kan? Iya laahhh… hha

Meski dengan telah tiadanya Mamah disisiku, aku tetap semangat untuk sekolah, aku tetap termotivasi untuk menunjukan, bahwa aku mampu tegar dengan segala kenyataan pahit yang ada, aku mampu bangkit dengan segala kerapuhan, dan aku bisa ikhlas dengan segala keadaan yang begitu cepat berubah ini. Menjadi dewasa adalah pilihanku.

Melupakan season Kuleuheu menuju Cool (MA)

Hari-hari terlewati, tanpa Ibu disisi, memang terasa begitu sepi, terlarut dalam sepi, taka da yang menemani, aku disini bersama sunyi.. (gimana kata-katanya? Muantebb bangett kaann? Aku gitu loch..hehehehe)
Season ini, aku udah gak kucel and the kumel lagi, eh bay the way, apa sih itu Kucel and the Kumel? Neeh aku terangin dulu yoo.. Kucel itu yaa biasa kalau anak-anak, ingus kemana-mana sayang kalau di lap, haha.. udah gitu di lapnya ga pake kain, malah pake kepalan tangan, eeh lama kelamaan tuh ingus kering dech, jadinya di deket idung tergores tuh asap pesawat apolo. Hahay..
Nah, kalau “and the”, itu sih bahasa inggris, yaa bisa semacam “dan” artinya, kalau “the”??…???…??? kumel, itu artinya gak jauh beda ama nasibnya ingus jadi kayak asap pesawat polo, haha… cuman biasanya kalau kumel itu identik ke baju (Kata siapa yaaa???), baju yang udah lusuh, ditambah kotor abis main lumpur, udah gitu bau terik matahari lagi alias bau ayam, udah dehh gak karuan si aku dulu. Hahaha… (sssttt… sekarang udah jauh berbeda…hahaha… cantik booo…)
Ini dia season Cool…
Pesonaku tidak ada duanya mungkin ya, (yaa… mungkin aja..) masih merasakan kesepian, malah di season ini ditambah kekecewaan yang membuat hidupku berubah drastis, gak perlu gravitasi bumi loh! (‘???)
Tubuh proporsional, berjilbab pula, aktif di berbagai kegiatan di sekolah, menjadi Ketua Murid, bahkan menjadi Wakil Ketua Osis, menjadi Kakak kelas teramah, teraktif, prestasi sepuluh besar, pernah ikut pula kontes Jingle Dare Indomie Seleraku, dan mempunyai banyak fans. (udah sebanding belom sama Brithney Spears??? Hahahahaa…).
Sebetulnya, saat di season ini aku lebih suka di sekolah, banyak teman, banyak hiburan, dari para dirumah, banyak masalah, bête, dan ngebosenin banget, pasalnya ya, Apa itu nikah lagi donk!!! Belum juga 2 bulan Mamah meninggal, Apa udah nikah lagi… duaaarrrrrr….
Yo wes lah, aku gak mau mengungkit hal yang sudah aku kubur dalam-dalam. Hahay…
Kembali kepada Cool. Cool itu bahasa inggris, artinya dingin, dingin disini bukan suhu badan akunya, tapi sifatnya, kan kayak kebanyakan perempuan, mereka menyukai fashion, make up, suka menjerit, rameee gitu. Tapi justru aku sebaliknya (haha.. PD banget ya?) aku lebih menyukai hal simple (kan pada dasarnya aku tomboy, masih inget kan di season Kucel and the Kumel?) lalu, aku juga menyukai otomotif, seneng music klasik, puisi, dan sebagainya deh..
Cool adalah karakter yang aku pilih, sebetulnya Cool itu awalnya sebuah nama yang aku berikan pada sifat Almarhumah Mamahku, karena beliau beda dari yang lain, gak panasan, gak riweuh, pokoknya berwibawa gitu deh…
Eh, saat di season ini, aku punya dua sahabat yang sangat asyik.. dia adalah Mhot (Nurrisma Mulasari) dan Lhy (Tely Nurjannah) kita bertiga membentuk sebuah persahabatan yang dinamakan The Butterflys. Hehe..
Banyak orang yang bilang, saat SMA adalah saat-saat yang paling seruuu… memang betul banget menurut aku mah, eits… tapi ada sebuah perbedaan yang sangat berarti lho di season ini. Pada saat itu, saat dimana aku masih selalu menangis kala mengingat Mamah, bagaimana tidak dong? Mamah sudah seperti sahabat buat aku, aku deket sama siapa, pacaran sama siapa, selalu aku bercerita sama Mamah, batapa sulit aku lepas dari bayangannya saat itu, beliau selalu ada di pelupuk mataku, ahh Ibu…
Wokehh.. terlepas dari itu semua, saat ini kepribadianku berubah, aku memutuskan untuk tidak pacaran!!! Duaarrrr!!! Mungkin disaat ini aku dapet hidayah kali yaa.. hehe, tapi memang bener, istiqomah itu susaahhh banget. Bagiku, pacaran itu nyari masalah, bagaimana tidak? Seluruh waktu kita harus diatur, diatur sama yang bukan muhrim, udah gitu kemana-mana harus bilang dulu, dan yang paling rishi tuh ya selaluuu banyak masalah, nah berangkat dari pengalaman tersebutlah aku putuskan untuk tidak pacaran, jadi langsung aja ta’arufan dan nikah deh. Hehe…
Saat keputusan ini aku ambil ngedadak, banyak banget penolakan dari temen-temen, sehingga banyak temen-temen yang menjauh dari aku, alasannya gak asyik katanya, kamu berubah sekarang. Tapi karena itu sudah menjadi prinsip aku, akhirnya aku menjadi pribadi yang agak tertutup, namun darisanalah aku jadi lebih mandiri, aku belajar habis-habisan dan akhirnya aku bisa rangking 7 dari 38 siswa di kelas regular. Alhamdulillah…
Perpisahan, adalah sebuah kata yang kebanyakan orang tak ingin berada di posisi tersebut, perpisahan biasanya selalu ada air mata, namun perpisahan menjadi sebuah keharusan di dunia yang fana ini, karena semuanya akan kembali kepada hakikat asalnya, dan manusia pada dasarnya adalah sendiri. Perpisahan…
Siapa sih ya yang mau dipisahin sama seseorang yang sayang pada kita? Manusiawi kalau kita memang tidak ingin dipisahkan dengan seseorang atau sesuatu yang kita sayangi. Yah, tapi kenyataanlah yang akhirnya harus membuat kita sanggup menghadapinya, begitupun dengan Perpisahan saat di SMA lalu, begitu menguras airmata, serasa tidak aka nada lagi hari-hari yang indah untuk dilewati.
Perpisahan di MA Al-Inayah inilah, awal aku memulai sebuah kompetisi yang lebih sulit, tantangan hidup yang lebih rumit, dan terkadang kenyataan hidup yang pahit. Tetapi, dari hal itulah kita menjadi individu yang semakin kuat, dewasa, tegar, dan mandiri. Perpisahan adalah ujian, kesedihannya adalah proses, dan hari indah, adalah hasilnya. Aku yakin, Allah memberi rencana indah atas semua itu. Yes..

Berada di Season Cool (Kuliah)

Pada awalnya begitu rumit, sudah berpisah dengan teman-teman di MA, orang tua memaksaku harus kuliah di UPI atau ITB, tetapi aku tertinggal jalur masuk Universitas Negeri (PMDK), yah.. jadinya ikut SNMPTN deh…
Memang bukan pilihan pertama sih masuk UIN Bandung, memilih ini pun tanpa sepengetahuan orang tua, eh… ternyata Lulusnya disini. Aku kira, Apa akan mendukung penuh kelulusan ini, ternyata Apa kurang setuju dengan alasan jauh dari rumah, tetapi bagaimana lagi? Saat itu jalur tersebut adalah jalur terakhir masuk Perguruan Tinggi Negeri, dengan mencoba untuk berbesar hati, akhirnya Apa pun memberikan dukungan untuk aku berkuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunana Gunung Djati Bandung ini. Sebuah awal yang cukup menggalaukan suasana hati., cie…cie…hahay…
Inilah saat dimana aku tidak bisa lagi bermanja-manja dengan keadaan, disinilah awal mula aku harus bisa bersikap dewasa dan cermat. Sedikit menegangkan, namun di nikmati aja… come one, lets see in the my season… (ngacapruk… :-D)
Ujung Barat dan Ujung Timur, itulah keadaan antara rumah dengan kampus UIN ini, meskipun masih dalam satu Kota, yaitu Bandung tercinta, yang kini tidak layak lagi di sebut kota kembang, ataupun kota sejuk. (mirisss…). Jarak tempuh dengan mengendarai motor pun selama satu jam, Kota yang kini tidak rapih lagi, semrawut dengan kemacetan.
Refleksi sebentar, sebenarnya apa sih yang membuat Bandung berubah drastis seperti ini? Apakah Bandung sedang galau waktu itu? Jadi dia berubah! Hmmm… kalau boleh jujur, memang bangga juga sih saya selaku pribumi, dengan berbagai Prestasi Bandung, dalam aspek Pariwisatanya, (secaraaa dooonk… tukang maen. :-D), eitsss… balik lagi ke Topik coyy…
Wokehh, selain bangga dengan Pariwisatanya, juga bangga dengan potensi alam, yukk aku ajak jalan-jalan ke Lembang, daerah Bandung Utara yang sejuk semriwing, sepoi-sepoi angin, hamparan kebun yang luas, dan Kawah Ratu Tangkuban Perahu yang mempesona. Disebelah Selatan, kita kenal daerah Pangalengan, tidak jauh beda dengan Lembang, juga Goa Pawon, di Bandung Barat, dan Curug Cindulang di Timur. Dan banyak lagi…
Sayang sekali, pesona Bandung dimata Nasional, seperti sebuah magnet yang menarik wisatawan untuk berkunjung ke Bandung, dan dampak banyaknya wisatawan tersebut, kini baru terasa begitu mengesalkan, tentunya tidak bagi para investor di bidang pariwisata.
Jalanan kita dipadati plat luar Bandung, sehingga dimana-mana macet, apalagi kalau weekend, udara Bandung tercemar, berpolusi dan panas menyengat, hijau-hijau rimba mengurang, akibat dibangunnya villa-villa dan perumahan elit, yang paling parah lagi… lautan sampah yang menggelora, yang membuat Bandung tercemar. Kalau kayak gini jadinya, dari dulu aku mau nawar aja deh supaya lahirnya di Brunei ajah, jangan di Indonesia. (haha… Mimpi!)

Sebagai anak asli orang Bandung, aku merasa asing di Kota sendiri. Sebetulnya, diam-diam aku punya rekomendasi solusi sih buat Bandung agar tidak terlalu semrawut. Solusinya :
– Sediakan transportasi khusus untuk Pariwisata di Kota Bandung, sehingga mobil Pribadi luar kota dilarang masuk ke Bandung. Hehe
– Segala bentuk kampanye, gak usah pake baliho, pamphlet, stiker, spanduk, itu sampahnya dikemanain coba? Di iklanin aja atuh di Televisi-televisi Bandung, biar lebih efisien, memajukan industri TV, juga jalanan jadi indah. Betul tidakk???
– Jangan terlalu banyak merekrut tenaga kerja dari luar Bandung, di Bandung sendiri yang pengangguran tuh ribuan, dan banyak juga pengangguran di usia produktif, harus lebih jeli… (udah rada serius nih, maklum awal-awal jadi mahasiswa. Hhahaha…)
– Coba deh kita saling menyadari (khususnya warga Bandung) akan sebuah Revitalisasi atau Renewell, (nama makhluk apa tuh yaa??) hha ini sebuah upaya peremajaan kota cuy, jadi tata ruang kota tuh harus sesuai peruntukannya, misalnya, wilayah yang seharusnya jadi pemukiman warga (Dago) malah jadi Factory Outlet, sebaliknya, wilayah yang seharusnya Outlet (pusat belanja) dijadikan tempat pemukiman, mingkin kayak di daerah sekitar Pasar Baru Bandung. Sebetulnya masih banyak sih rekomendasi, tapi 5 hal diatas cukup mewakili. Hehehe…
Back to topic, Kuliah, Jurusan Sosiologi UIN Bandung, pada awalnya terbesit dalam pikiranku, kuliah itu serius, rumit, stress, dan lainnya deh, tetapi, kenyataannya tidak seperti itu, kuliah menurutku benar-benar kita menggunakan anugerah yang paling berharga yang Allah berikan, yaitu akal pikiran. Dengan kuliah, kita bisa memaksimalkan kelebihan kita itu, jauh dari sebelumnya, saat sekolah SD, SMP, dan SMA.
Jika saat sekolah kita hanya menerima saja pelajaran dari guru (disuapi) nah, di kuliah, kita belajar menjadi “guru”, artinya kita harus bisa mencari, kreatif, dan konsisten. Pada kenyataannya, semua itu tidak rumit kok, jadi jangan ada alasan lagi untuk tidak kuliah. (yaa kecuali masalah ekonomi. Pendidikan sekarang muahhall booo…).
Sensasi yang berbeda dengan tingkat sekolah dulu, membuat aku greget untuk bisa berbicara di depan orang banyak, bagaimana tidak? Keaktifan kita diukur oleh Dosen, dan keaktifan itu poin yang sangat besar, 75% cuy, kebayang kan kalau selama kuliah kita hanya jadi pendengar saja, diem, tanpa suara, (jangan-jangan dianggap gak ada lagi sama teman-teman. Haha..)
Kuliah sambil ngajar/bekerja? Why not! Saat lulus MA dan baru empat bulan kuliah, aku dipanggil guru Kesiswaan dulu di MA aku, setelah aku menemuinya di MA Al-Inayah, aku ditawarin jadi Pembina Pramuka Putri, awalnya aku menolak, karena pengalaman Pramuka aku hanya sampai MTs aja, tetapi karena dukungan banyak pihak, akhirnya saya menyanggupinya.
Menjadi Pembina Pramuka Putri di Usia 19 tahun, bukan hal yang mudah, apa lagi peraturan Pramuka harusnya Pembina Putri itu berumur minimal 23 Tahun, atau di bawahnya tetapi sudah menikah. Jadi, aku illegal donk ya? Tetapi, aku mendapat rekomendasi dan izin dari Ketua Kwarcab Kota Bandung. Cie….
Dengan aktifitas ganda, aku menjalaninya dengan ikhlas, selain untuk membantu biaya sehari-hari, juga yang paling penting adalah pengalaman, karena menjadi seorang pengajar itu gak mudah looh… selain kita harus lebih tahu, kita juga harus lebih teliti agar apa yang kita sampaikan tidak salah, yaa kalau lupa sih wajar! Hehe ..
Sudah enam bulan yang lalu aku berhenti bekerja, alasannya simple sih, ingin foKus kuliah. Weiiisss…. Soalnya, perkuliahan menuju finnish itu kan membutuhkan konsentrasi yang penuh, oleh sebab itulah aku memutuskan untuk berhenti bekerja sementara waktu, kalau udah lulus kan nanti kerja lagi. Week..
Menjadi seorang Kosma (Komisaris Mahasiswa), membuatku tak bisa tidur tenang, apalagi kalau sedang musim tugas membanjiri, hapeku selalu saja bordering, yahh… menjadi Ketua dari sebuah kelas memang sudah menjadi agendaku, sejak MI, MTs, MA, dan kini Kuliahpun aku tetap dipilih menjadi Ketua di kelas. Ya Alhamdulillah sih dipercaya sama teman-teman, tapi jujur, untuk di kampus itu sangat mengusik sekali jabatan ini, akhir semester enam ini, akan kulelang jabatanku ini. Hahaha…
Inilah akhir cerita sampai semester 6 ini… tiga hari lagi menjelang UAS nih, dan masuk ke semester 7, semoga 10 mata kuliah aku Lulus semua yaah… amien.. mau tau ceritaku selanjutnya di semester 7 dan season lainnya? Apa lagi season WOWW (Lulus Kuliah)? Nantikan kisahku yang lainnya yaah… see u next time .

Bersamamu, Bintang. :: ANL-20-06-2011. 18:15 WIB. ::

ada satu bintang
sinarnya paling terang
ia seolah berkedip padaku
mengajakku menari
berdansa
tersenyum
juga menemani sepi, sedih, dan tangisku
kala ia hilang
aku selalu resah
‘kemana sih kamu?’
dia jawab:
‘aku selalu ada, aku selalu melihatmu
hanya saja terkadang awan hitam menutupiku
namun, aku selalu ada dalam siang dan malam
tak pernah hilang
tak pernah pergi..’
itu membuatku tenang.
‘bintang, aku ingin bersamamu disana
aku ingin melihat dunia dari tempatmu’
namun ia jawab:
‘tidak sayang, kau lebih baik disana
dibumi pertiwi
ada banyak orang yang membutuhkanmu.’
‘tapi,, aku butuh km terus
saat km tak nampak
saat siang hari, aku hanya mau kau slalu ada’
namun bintang jawab:
‘ku tak lebih baik darimu sayang,
apa yang terjadi pada senyum mereka
senyum orang2 disekitarmu
kala km lenyap,
kala km tiada dalam pandangan mereka
tapi aku selalu memandangmu
dan kamu tetap ada untukku.’
________________________________________

All About Me
Pupu Pia Supiati, terlahir sebagai perempuan pada tanggal 06 Agustus 1992, di Kampung Cicarita Desa Ciwaruga, Kec. Parongpong Bandung. Ia mempunyai nama pena : Annisa Nur Laila.
Anak bungsu dari 7 bersaudara ini, dikenal sebagai Pia yang tomboy, tetapi setelah dewasa ketomboyan itu hilang perlahan.
Dilahirkan dari seorang Ibu bernama Aan Hotimah (Almh) dan Ayah bernama Carwita Solihin, saat ini sedang menempuh kuliah sarjananya semester 6 di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, jurusan Sosiologi. Dan menjadi satu-satunya anak di keluarga kecilku yang menempuh pendidikan hingga di bangku kuliah saat ini.
Menempuh sekolah dasar di MI Nurul Huda Ciwaruga Bandung Barat (2004), berlanjut di MTs Al-Inayah (2007), dan MA Al-Inayah (2010).
Kesukaan dan kegemaran pada seni, sangat melekat dari kecil, seperti pernah menjuarai lomba busana muslim se-MI pada perayaan Hari Kartini, juga aktif sebagai Ketua Kelas selama di MI, menjadi Ketua Pramuka di MI juga.
Berlanjut menggemari tarik suara, menjadi seorang vokalis band kepret alias Qasyidah grup Annisa di kampung halamanku. Pada tingkat MA juga pernah mengikuti lomba Jingle Dare Indomie tahun 2009, dan mempunyai Band bernama The Castle Band, dan kini sedang menggemari sastra, diantaranya adalah puisi, lirik lagu dan cerpen, semua di posting di website pribadi : http://www.annisanurlaila.wordpress.com.
Pernah bekerja sebagai asisten guru mata pelajaran Sosiologi di MA Al-Inayah, juga dinobatkan menjadi Pembina Pramuka di MA yang sama sejak tahun 2010 sampai 2012.
Motto dalam hidupnya : Berkaryalah dengan segala kemampuan yang ada, karena dengan karya kita bisa menjadi legenda.

Analisis Teori Konflik dalam Pembangunan

Tugas Mata Kuliah Sosiologi Pembangunan

Nama : Pupu Pia Supiati
Kelas : Sosiologi C/VI

Analisis Teori Konflik dalam Pembangunan
Ralp Dahrendorf tidak menjelaskan secara normatif atau secara etimology dan terminology apa itu definisi konflik. Secara kasat mata, konflik menurut Dahrendorf sama saja yaitu sebuah kesenjangan, ketidak puasan antara apa yang di inginkan dengan kenyataannya. Dahrendorf merumuskan konflik pada masyarakat dengan menekankan pada struktur yang ada di masyarakat itu sendiri. Dalam karyanya yang berjudul Class and Class Conflict In Industrial Society, Dahrendorf melibatkan kaum Borjuis dan Proletar sebagai penelitiannya, dari proposisinya “semakin rendah korelasi antara kedudukan kekuasaan dan aspek-aspek status social ekonomi lainnya, maka semakin rendah intensitas pertentangan kelas, dan sebaliknya” (1959:216). Dari proposisinya, menurut Dahrendorf kelompok-kelompok Borju atau kelompok-kelompok yang status ekonominya relatif tinggi memiliki potensi rendah dalam konflik yang keras dengan struktur kekuasaan berbeda dengan kelompok-kelompok yang terbuang dari status social ekonomi tinggi dan kekuasaan/kedudukan.
Bagi Dahrendorf, konflik adalah hal yang wajar di masyarakat, apa lagi di zaman modern ini. Karena menurutnya konflik dapat menghasilkan perubahan, yang cenderung dibawa oleh kelompok masyarakat kelas menengah. Selain itu juga, dalam masyarakat modern, modal tidak hanya dimiliki oleh pemilik modal saja, tapi siapapun bisa menjadi pemilik modal. Karena menurut Dahrendorf, masyarakat memiliki dua sisi ganda dimana kerjasama dan potensi konflik ibarat sebuah dua mata uang, keduanya adalah perspektif untuk menganalisa fenomena social.
Safety Valve, adalah katup penyelamat yang di istilahkan oleh Lewis Cosser dalam teori Fungsionalisme Konflik. Katup penyelamat ini ibarat sebuah wadah dalam masyarakat guna untuk mempertahankan kelompok dari kemungkinan konflik social, didalamnya membiarkan luapan-luapan permusuhan secara terbuka, agar tersalur tanpa menghancurkan seluruh struktur. Safety Valve berupa Badan perwakilan mahasiswa, atau lembaga social yang menangani konflik di masyarakat, atau menurut istilah Merton adalah Reference Group : sebagai pengendali/kelompok yang mengingatkan.
Konflik realitas dan konflik non realitas. Adalah buah pemikiran dari Lewis cosser. Menurut cosser dari asumsinya safety valve konflik realitas adalah potensi konflik yang terjadi karena ada rasa kekecewaan, kesenjangan dan ketidak puasan terhadap tuntutan tertentu. Misalnya bentuk demonstrasi mahasiswa, buruh, dll. Sedangkan konflik non realitas adalah konflik yang”bukan beraasal dari tujuan-tujuan saingan yang antagonis, tetapi dari kebutuhan untuk meredakan ketegangan, paling tidak dari slah satu pihak. Misalnya, pada masyarakat buta huruf atau terbelakang, pembalasan dendam lewat ilmu gaib, yang merupakan konflik non realitas, atau berupa pengkambinghitaman dari dua kubu yang berpotensi konflik.
Analisis
Dalam ranah Pembangunan, konflik selalu muncul baik sebelum terjadinya pembangunan, sedang berlangsung pembangunan, dan setelahnya. Pada intinya, pembangunan ada untuk menyelesaikan masalah atau konflik. Banyak yang menjadikan pembangunan menjadi salah satu solusi untuk memecahkan konflik. Dengan pembangungan, diharapkan konflik terselesaikan, meskipun setelahnya akan muncul konflik baru, itu hal wajar.

Pembangunan tidak harus identik dengan hal-hal materil, seperti gedung-gedung, café, ruko, dan lainnya. Pembangunan juga bisa berupa hal-hal non materil, misalnya kegiatan, penanganan, dan lainnya. Dalam sebuah pembangunan, dapat dikatakan pembangunan ada ketika persoalan itu ada. Contoh pembangunan materilnya : Pembangunan Rusun di Jakarta, Pembangunan tersebut dilangsungkan ketika konflik kemiskinan sedang merajalela, pembangunan dilakukan untuk membebaskan sengketa mengenai rumah-rumah warga yng tidak layak huni, yang sebagian besar rumahnya terletak dipinggiran sungai, laut, atau rel kereta api yang mengancam keselamatan mereka.
Pembangunan berupa non materil misalnya diadakannya Karang Taurna pada sebuah masyarakat, Karang Taruna bisa merupakan wujud non meteril dari Pembangunan, Trang Taruna dibentuk untuk mengadakan kegiatan di dalam kemasyarakatan, membangun integritas masyarakat, dan meminimalisir terjadinya konflik yang notabene dilakukan oleh para remaja.
Dewasa ini, konflik dan pembangunan sangat identik, karena keduanya adalah sebab dan akibat (hubungan kausalitas) yang terjadi di dalam kemasyarakatan secara luas. Pembangunan dan konflik tidak hanya identik dengan wilayah kota, atau kemajuan peradaban, dalam wilayah desa, pembangunan juga tidak kalah identiknya, karena saat ini, saat era globalisasi, penyampaian informasi sudah mulai meluas, dan secara langsung maupaun tidak langsung, globalisasi itu sendiri adalah pembangunan.
Jadi, disamping konflik itu sendiri adalah sebuah keadaan atau hal yang negatif dan dis fungsi, tetapi konflik juga mempunyai manfaatnya tersendiri, baik sebagai penguat antara yang berkonflik, sehingga terjadinya integrasi yang semakin erat, memfungsikan elemen-elemen masyarakat sebagi pihak ketiga, menguatkan kembali identitas-identitas kelompok (jika konflik antar kelompok), dan yang lainnya.

Makalah Peter L. Berger

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Peter Ludwig Berger dikenal luas karena pandangannya bahwa realitas sosial adalah suatu bentuk dari kesadaran. Karya-karya Berger memusatkan perhatian pada hubungan antara masyarakat dengan individu. Di dalam bukunya The Social Construction of Reality, Berger bersama Thomas Luckmann, mengembangkan sebuah teori sosiologis: ‘Masyarakat sebagai Realitas Objektif dan Realitas Subjektif’.1 Analisisnya tentang masyarakat sebagai realitas subjektif menjelaskan proses dimana konsepsi seorang individu tentang realitas dihasilkan dari interaksinya dengan masyarakat. Ia berbicara tentang bagaimana konsep-konsep atau penemuan-penemuan baru manusia menjadi bagian dari realitas manusia itu sendiri secara berkelanjutan, yang disebutnya sebagai proses obyektivasi. Dalam proses selanjutnya, realitas ini tidak lagi dianggap sebagai ciptaan manusia melalui proses, yang oleh Berger disebut sebagai internalisasi.
Indonesia hari ini adalah Indonesia tanpa sosiologi, dimana dimensi politik telah mengalami distorsi dalam ranah demokrasi yang juga tinggal sebagai barang antik dikala modernitas semakin tampil sebagai sosok yang ingin menjadi benteng kebebasan individu. Dalam situasi negeri yang amat mencemaskan ini, saat ilmu sosial menjadi begitu meng-angka atau sebaliknya membatin, maka lahirnya sebuah buku yang memerikan perspektif metateori pemikiran Peter L. Berger, menjadi sebuah oase yang memberikan sentuhan aroma kesejukan. Dalam tangan Berger, ilmu social telah dikembalikan pada induknya, yaitu filsafat.
Dari uraian diatas, penulis kemas makalah ini kedalam sebuah judul : Sintesa Strukturalisme dan Interaksionalisme Berger, Relevansinya dengan Perubahan Sosial. Yang berikut akan kami paparkan dalam Pembahasan.

1.2 Rumusan Masalah
Dari uraian diatas dapat dispesifikasikan dalam bentuk rumusan masalah sebagai berikut :
1.2.1 Bagaimana biografi Peter Ludwig Berger?
1.2.2 Bagaimana penjelasan teori dari Peter Ludwig Berger?
1.2.3 Bagaimana relevansinya teori konstruksi Berger dengan perubahan sosial?

1.3 Tujuan Makalah
Adapun tujuan makalah yang kami buat ialah ;
1.3.1 Untuk mengetahui biografi dan latar belakang lahirnya teori sosiologi Berger.
1.3.2 Untuk memahami asumsi-asumsi Berger
1.3.3 Untuk mengetahui dan memahami sejauhmana relavansinya teori Berger dengan Perubahan Sosial.

1.4 Metode Penulisan
Data yang penulis butuhkan dan bubuhkan dalam pembahasan ini adalah menggunakan metode dokumen.

1.5 Kegunaan Penulisan
1.5.1 Bagi Penulis
Dengan adanya pembahasan ini, penulis dapat memenuhi tugas mata kuliah Perubahan Sosial dan menambah wawasan mengenai Pemikiran Berger dan relevansinya dengan Perubahan Sosial.
1.5.2 Bagi Pembaca
Dengan adanya pembahasan ini pembaca akan mendapatkan penjelasan dan menambah pengetahuan mengenai Pemikiran Berger dan relevansinya dengan Perubahan Sosial.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Biografi dan Latar Belakang Lahirnya Teori dari Peter Ludwig berger
2Berger dilahirkan di Vienna, Austria, kemudian dibesarkan di Wina dan kemudian beremigrasi ke Amerika Serikat tak lama setelah Perang Dunia II. Pada 1949 ia lulus dari Wagner Collage dengan gelar Bachelor of Arts. Ia melanjutkan studinya di New School for Social Research di New York (M.A. pada 1950, Ph.D. pada 1952).
Pada 1955 dan 1956 ia bekerja di Evangelische Akademie di Bad Boll, Jerman. Dari 1956 hingga 1958 Berger menjadi profesor muda di Universitas North Carolina; dari 1958 hingga 1963 ia menjadi profesor madya di Seminari Teologi Hartford. Tonggak-tonggak kariernya yang berikutnya adalah jabatan sebagai profesor di New School for Social Research, Universitas Rutgers, dan Boston College. Sejak 1981 Berger menjadi Profesor Sosiologi dan Teologi di Universias Boston, dan sejak 1985 juga menjadi direktur dari Institut Studi Kebudayaan Ekonomi, yang beberapa tahun lalu berubah menjadi Institut Kebudayaan, Agama, dan Masalah Dunia.
Karya-karyanya
Tulisan-tulisan sosiologis Berger yang berpengaruh antara lain adalah:
• Invitation to Sociology: A Humanistic Perspective (1963) (bahasa Indonesia: Humanisme Sosiologi, Inti Sarana Aksara, Jakarta, 1985)
• The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge (1966, dengan Thomas Luckmann) (bahasa Indonesia: Tafsir Sosial atas Kenyataan Risalah tentang Sosiologi Pengetahuan, LP3ES, Jakarta, 1990)
• The Sacred Canopy: Elements of a Sociological Theory of Religion (1967) (bahasa Indonesia: Langit Suci Agama sebagai Realitas Sosial, LP3ES, Jakarta, 1991)
• A Rumor of Angels: Modern Society and the Rediscovery of the Supernatural, 1970 (bahasa Indonesia: Kabar Angin Dari Langit: Makna Teologi dalam Masyarakat Modern, LP3ES, Jakarta, 1991)
Kini ia menulis tentang sosiologi agama dan kapitalisme:
• The Capitalist Spirit: Toward a Religious Ethic of Wealth Creation (editor, 1990).
• Peter Berger and the Study of Religion, 2001
• Homeless Mind : Modernization and Consciousness, 1974
• Redeeming Laughter: The Comic Dimension of Human Experience, 1997
• Many Globalizations: Cultural Diversity in the Contemporary World, 1974. with Samuel P. Huntington
• The Desecularization of the World: Resurgent Religion and World Politics. et al. 1999
• Questions of Faith: A Skeptical Affirmation of Christianity (Religion and the Modern World), 2003
• A Far Glory: The Quest for Faith in an Age of Credibility, 1992.
• Heretical Imperative: Contemporary Possibilities of Religious Affirmation
• The Limits of Social Cohesion: Conflict and Mediation in Pluralist Societies : A Report of the Bertelsmann Foundation to the Club of Rome
• Other Side of God, 1981, ISBN 0-385-17424-1
Penghargaan
Berger mendapatkan penghargaan Doktor Honoris Causa dari Universitas Loyola, Wagner College, Universitas Notre Dame, Universitas Jenewa, dan Universitas Munchen. Ia juga menjadi anggota kehormatan dari berbagai perhimpunan ilmiah.

2.2 Teori Peter Ludwig Berger
Manusia berbeda dengan binatang. Binatang telah dibekali insting oleh Tuhan, sejak dilahirkan hingga melahirkan-sampai mati. Manusia secara biologis dan sosial terus tumbuh dan berkembang, karenanya ia terus belajar dan berkarya membangun kelangsungannya. Upaya menjaga eksistensi itulah yang kemudian menuntut manusia menciptakan tatanan sosial. Jadi, tatanan sosial merupakan produk manusia yang berlangsung terus menerus-sebagai keharusan antropologis yang berasal dari biologis manusia. Tatanan sosial itu bermula dari eksternalisasi, yakni; pencurahan kedirian manusia secara terus menerus ke dalam dunia, baik dalam aktivitas fisis maupun mentalnya (Berger, 1991: 4-5)3.

Masyarakat sebagai realitas obyektif menyiratkan pelembagaan di dalamnya. Proses pelembagaan (institusionalisasi) diawali oleh eksternalisasi yang dilakukan berulang-ulang sehingga terlihat polanya dan dipahami bersama- yang kemudian menghasilkan pembiasaan (habitualisasi). Habitualisasi yang telah berlangsung memunculkan pengendapan dan tradisi. Pengendapan dan tradisi ini kemudian diwariskan ke generasi sesudahnya melalui bahasa. Disinilah terdapat peranan di dalam tatanan kelembagaan, termasuk dalam kaitannya dengan pentradisian pengalaman dan pewarisan pengalaman tersebut. Jadi, peranan mempresentasikan tatanan kelembagaan atau lebih jelasnya; pelaksanaan peranan adalah representasi diri sendiri. Peranan mempresentasikan suatu keseluruhan rangkaian perilaku yeng melembaga, misalnya peranan hakim dengan peran-peran lainnya di sektor hukum.

Masyarakat sebagai realitas obyektif juga menyiratkan keterlibatan legitimasi. Legitimasi merupakan obyektivasi makna tingkat kedua, dan merupakan pengetahuan yang berdimensi kognitif dan normatif-karena tidak hanya menyangkut penjelasan tetapi juga nilai-nilai. Legitimasi berfungsi untuk membuat obyektivasi yang sudah melembaga menjadi masuk akal secara subyektif.

Perlu sebuah universum simbolik yang menyediakan legitimasi utama keteraturan pelembagaan. Universum simbolik menduduki hirarki yang tinggi, metasbihkkan bahwa semua realitas adalah bermakna bagi individu –dan individu harus melakukan sesuai makna itu. Agar individu mematuhi makna itu, maka organisasi sosial diperlukan, sebagai pemelihara universum simbolik. Maka, dalam kejadian ini, organisasi sosial dibuat agar sesuai dengan universum simbolik (teori/legitimasi). Di sisi lain, manusia tidak menerima begitu saja legitimasi. Bahkan, pada situasi tertentu universum simbolik yang lama tak lagi dipercaya dan kemudian ditinggalkan. Kemudian manusia melalui organisasi sosial membangun universum simbolik yang baru. Dan dalam hal ini, legitimasi/teori dibuat untuk melegitimasi organisasi sosial. Proses ”legitimasi sebagai legitimasi lembaga sosial” menuju ”lembaga sosial sebagai penjaga legitimasi” terus berlangsung, dan dialektik. Dialektika ini terus terjadi, dan dialektika ini yang berdampak pada perubahan sosial.

Masyarakat sebagai kenyataan subyektif menyiratkan bahwa realitas obyektif ditafsiri secara subyektif oleh individu. Dalam proses menafsiri itulah berlangsung internalisasi. Internalisasi adalah proses yang dialami manusia untuk ’mengambil alih’ dunia yang sedang dihuni sesamanya (Samuel, 1993: 16). Internalisasi berlangsung seumur hidup melibatkan sosialisasi, baik primer maupun sekunder. Internalisasi adalah proses penerimaan definisi situasi yang disampaikan orang lain tentang dunia institusional. Dengan diterimanya definisi-definisi tersebut, individu pun bahkan hanya mampu mamahami definisi orang lain, tetapi lebih dari itu, turut mengkonstruksi definisi bersama. Dalam proses mengkonstruksi inilah, individu berperan aktif sebagai pembentuk, pemelihara, sekaligus perubah masyarakat.

2.3 Relevansi Teori Konstruksi Berger Dengan Perubahan Sosial
Realitas objektif dan subyektif Berger, adalah kenyataan yang terjadi pada masyarakat itu sendiri. Seperti pendapat Berger yang sepaham dengan Durkheim, struktur sosial yang objektif memiliki karakteristik sebagai berikut :
– Eksternalisasi (luar), adalah sebuah upaya untuk mengaktifkan atau mengeksiskan diri (manusia) terhadap dunia luar, salah satunya di dasari pada sebuah kebutuhan. Atau proses manusia menciptakan sesuatu.
– Objektivasi, usaha untuk mewadahkan objeknya, agar tidak sia-sia dan tidak musnah.
– Internalisasi (dalam), penyerapan nilai atau norma dalam diri manusia.
Pada sederhananya, teori Berger adalah tentang konstruk sosial, dalam kata lain adalah membangun masyarakat. Dalam istilah pembangunan itu sendiri, paradigma kita sudah pasti memahami akan adanya perubahan sosial, karena akibat dari adanya pembangunan itu sendiri, pasti akan ada perubahan sosial, baik bersifat fungsi, disfungsi, baik, buruk.
Dalam teorinya, berger menyinggung mengenai penemuan baru yang menjadi bagian dari realitas manusia itu sendiri secara berkelanjutan, penemuan baru, cepat atau lambat akan menyebabkan perubahan sosial. Kita angkat sebuah contoh, mengenai Ponsel atau handphone, yang sebagian besar orang tahu, bahwa ponsel terkenal atau dikenal masyarakat luas dari lapisan atas hingga bawah pada tahun 2000 (Abad Milenium)4, anggaplah tahun ini sebagai penemuan baru menganai ponsel. Perubahan yang terjadi pada masyarakat setelah penemuan itu dijalankan dengan tiga proses Berger diatas, terdapat perubahan yang sangat berarti, dari mulai dimudahkannya dalam hal komunikasi, pekerjaan, informasi, hingga meleburnya tradisi silaturrahmi secara tatap muka, karena dirasa cukup hanya dengan mengirim pesan singkat atau menelpon dari ponsel tersebut. Atau lebih terasa lagi saat ini, semua golongan hampir melahap ponsel, dan merubah tradisi menjadi pribadi individualistic dan konsumerisme, hal tersebut adalah beberapa bentuk perubahan sosial yang berhubungan dengan teori Berger.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi, atau eksternalisasi habitualisasi, dan tradisi, adalah sebuah proses dalam masyarakat5, dimama masyarakat berjalan dari proses tersebut dalam sebuah keteraturan. Baik realitas objektif atau subyektif, adalah kenyataan yang terjadi pada masyarakat itu sendiri. Binatang telah dibekali insting oleh Tuhan, sejak dilahirkan hingga melahirkan-sampai mati. Manusia diberi akal, yang secara biologis dan sosial terus tumbuh dan berkembang, karenanya ia terus belajar dan berkarya membangun kelangsungannya.
Upaya menjaga eksistensi itulah yang kemudian menuntut manusia menciptakan tatanan sosial. Jadi, tatanan sosial merupakan produk manusia yang berlangsung terus menerus-sebagai keharusan antropologis yang berasal dari biologis manusia. Tatanan sosial itu bermula dari eksternalisasi, yakni; pencurahan kedirian manusia secara terus menerus ke dalam dunia, baik dalam aktivitas fisis maupun mentalnya (Berger, 1991: 4-5).
Relevansinya dengan perubahan sosial sangat jelas, dimana tiga proses atau karakteristik realitas sosial yang disinggung diatas, adalah wujud nyata dari perubahan sosial itu sendiri, yang melahirkan adanya struktur sosial. Struktur sosial adalah bagian dari perubahan, dimanan terjadi karena adanya penemuan baru, konsep atau pengetahuan yang baru. Hingga saat ini, perubahan sosial yang terjadi di Indonesia, bahkan di dunia, telah mengalami perubahan sosial yang sangat jelas sekali, dari mulai perubahan dalam tatanan kelembagaan, hukum, politik, pembangunan, dan lainnya.

Endnote :
1http://citrariski.blogspot.com/2010/12/masyarakat-peter.l.berger.html (diakses pada tanggal 28 Februari 2013)
2Poloma. Margaret M, Sosiologi Kontemporer, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003, hal. 299.
3Ritzer, George, Sosiologi; Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, Jakarta, 1985, hal 51.
4Bungin, Burhan. Sosiologi Komunikasi Teori Paradigma dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Kencana : Jakarta, 2006, hal. 115.

DAFTAR PUSTAKA

Bungin, Burhan. Sosiologi Komunikasi Teori Paradigma dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Kencana : Jakarta, 2006.
Poloma. Margaret M, Sosiologi Kontemporer, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003.
Ritzer, George, Sosiologi; Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, Jakarta, 1985.
http://www.google//wikipedia.com

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.