Pandangan Emile Durkehim tentang Agama dan Masyarakat

A. Penjelasan Durkheim Mengenai Agama dan Masyarakat
Emile Durkheim sebagai salah seorang Sosiolog abad ke-19, menemukan hakikat agama yang pada fungsinya sebagai sumber dan pembentuk solidaritas mekanis. Ia berpendapat bahwa agama adalah suatu pranata yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk mengikat individu menjadi satu-kesatuan melalui pembentukan sistem kepercayaan dan ritus. Melalui simbol-simbol yang sifatnya suci. Agama mengikat orang-orang kedalam berbagai kelompok masyarakat yag terikat satu kesamaan. Durkheim membedakan antara solidaritas mekanis dengan solidaritas organis. Dengan konsep ini ia membedakan wujud masyarakat modern dan masyarakat tradisional.
Secara alami, Durkeihm membangun kerangka berfikirnya berdasarkan ide-ide para tokoh seperti : Auguste Comte (1798-1857), Montesqueieu seorang filosof Prancis abad ke-18, Ernest Renan seorang kritikus Bibel, Numa Denys Fustel de Caulanges pengarang buku The Ancient City (1864).1
Ide tentang masyarakat adalah jiwa dari agama, demikian ungkap Emile Durkheim dalam The Elementary Form of Religious Life (1915). Berangkat dari kajiannya tentang paham totemisme masyarakat primitive di Australia, Durkheim berkesimpulan bahwa bentuk-bentuk dasar agama meliputi :
1. Pemisahan antara `yang suci’ dan `yang profane’
2. Permulaan cerita-cerita tentang dewa-dewa
3. Macam-macam bentuk ritual.
Dasar-dasar ini bisa digeneralisir di semua kebudayaan, dan akan muncul dalam bentuk sosial. Masyarakat baik di Barat maupun di Timur, menunjukkan adanya suatu kebutuhan social yang berupa `kebaikan permanent’. Menurut teori Durkheim, Agama bukanlah `sesuatu yang di luar’, tetapi `ada di dalam masyarakat’ itu sendiri, agama terbatas hanya pada seruan kelompok untuk tujuan menjaga kelebihan-kelebihan khusus kelompok tersebut2.
Oleh karena itu, agama dengan syariatnya tidak mungkin berhubungan dengan seluruh manusia. Kritikan lain yang dikemukakan oleh Emile Durkheim; bahwa Animisme dan Fetishisme yang bersifat individualistik, tidak dapat menjelaskan agama sebagai sebuah fenomena sosial dan kelompok. Pusat pandangan Durkheim berada dalam klaimnya bahwa “agama adalah sesuatu yang bersifat sosial.” Dalam setiap kebudayaan, agama adalah bagian yang paling berharga dari seluruh kehidupan sosial. Dia melayani masyarakat dengan menyediakan ide, ritual dan perasaan-perasaan yang akan menuntun seseorang dalam hidup bermasyarakat.
Ritual dan kepercayaan Durkehim, berbeda dengan Tylor dan Frazer tentang “intelektualisme” nya, bagi Durkheim, ritual keagamaan lebih utama, sebab ritual inilah yang lebih fundamental dan yang melahirkan kayakinan. Jika memang ada sesuatu yang “abadi” dalam agama, maka kebutuhan masyarakat akan ritual-ritual itulah yang paling abadi, berupa upacara-upacara penenguhan kembali dedikasi setiap anggota masyarakat. Dengan ritual-ritual tersebut, seluruh anggota masyarakat diingatkan kembali bahwa kepentingan kelompok lebih utama ketimbang keinginan pribadi. Sebaliknya, keyakinan bukanlah sesuatu yang abadi. Fungsi sosial dari ritual-ritual keagamaan akan selalu konstan, sebaliknya muatan intelektual agama akan selalu mengalami perubahan.
Keyakinan adalah “sisi spekulatif” agama. Keyakinan Kristen bisa saja berbeda dari keyakinan Yahudi atau Hindu, tapi dalam ide-ide tapi yang sikapnya patrikular, perbedaan yang terjadi tidak begitu besar. Perbedaan ide-ide akan selalu di dapati dalam agama-agama yang ada di dunia ini, bhkan dari masa ke masa pun ide-ide dalam suatu agama pun akan selalu berbeda. Tapi, kebutuhan untuk mengadakan upacara-upacara akan selalu ada, karena merupakan sumber sebenarnyadari kesatuan sosial dan tali pengikat utama seluruh anggota masyarakat. Ritual-ritual keagamaan ini akhirnya dapat menyingkap arti agama yang sesungguhnya.
Menurut teori Fungsionalisme Struktural yang ada dalam ranah penelitian Durkehim, bahwa Masyarakat merupakan suatu sistem sosial yang terdiri atas bagian-bagian atau elemen yang saling berkaitan dan saling menyatu dalam keseimbangan. Perubahan yang terjadi pada suatu bagian, akan berpengaruh pada bagian yang lainnya. Asumsi dasarnya adalah bahwa setiap struktur dalam sistem soisial, fungsional terhadap yang lain. Sebaliknya kalau tidak fungsional maka struktur itu tidak akan ada atau akan hilang dengan sendirinya. (George ritzer 2011 : 21 )
Penganut teori ini cenderung untuk melihat hanya pada sumbangan satu sistem atau peristiwa terhadap sistem yang lain dan karena itu mengabaikan kemungkinan bahwa suatu peristiwa atau suatu sistem dapat beroperasi menentang fungsi-fungsi lainnya dalam suatu sistem sosial. Secara ekstrim penganut teori ini beranggapan bahwa semua peristiwa dan semua struktur adalah fungsional bagi suatu masyarakat.
B. Durkheim dalam Status Paradigma Sosiologi
Sebagai suatu konsep, istilah paradigma (paradigm) pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Kuhn dalam karyanya The Structure of Scientific Revolution (1962). Melalui karyanya, Kuhn menawarkan suatu cara yang bermanfaat terhadap para sosiolog dalam mempelajari disiplin ilmu mereka. Kuhn bukanlah seorang Sosiolog melainkan seorang ahli ilmu alam. Konsep paradigma yang diperkenalkan Kuhn lalu dipopulerkan oleh Robert Friedrichs melalui bukunya Sociology of Sociology (1970).
Tujuan utama Kuhn dalam bukunya The Structure of Scientific Revolution itu adalah untuk menantang asumsi yang berlaku umum dikalangan ilmuwan mengenai perkembangan ilmu pengetahuan. Para ilmuwan beranggapan bahwa ilmu pengetahuan berkembang secara kumulatif, namun asumsi itu dianggap sebagai mitos oleh Kuhn, bagi Kuhn ilmu pengetahuan bukan terjadi secara kumulatif, tetapi secara revolusi. Kuhn melihat bahwa ilmu pengetahuan pada waktu tertentu didominasi oleh satu paradigma tertentu. Yakni suatu pandangan yang mendasar tentang apa yang menjadi pokok persoalan (subject matter) dari suatu cabang ilmu.3
Emile Durkehim adalah orang pertama yang mencoba melepaskan sosiologi dari dominasi kedua kekuatan yang mempengaruhinya itu. Durkheim berusaha untuk melepaskan sosiologi dari alam filsafat positif Auguste Comte untuk kemudian meletakan sosiologi ke atas dunia empiris. Paradigma Sosiologi sangat mirip dengan konsep exemplar dari Thomas Kuhn. Dalam edisi pertama bukunya Kuhn mendiskusikan keanekaragaman fenomena yang dapat tercakup dalam pengertian seperti : kebiasaan-kebiasaan nyata, keputusan-keputusan hukum yang diterima, hasil-hasil nyata perkembangan ilmu pengetahuan serta hasil-hasil penemuan ilmu pengetahuan yang diterima secara umum.
Nampaknya menurut Kuhn hasil-hasil perkembangan ilmu pengetahuan yang diterima secara umum inilah yang memperoleh kedudukan sebagai exemplar. Sebagai contoh, kedua hasil karya Durkheim mendapatkan pengakuan dan diterima secara umum dikalangan ilmuwan sosial sehingga menempati kedudukan sebagai exemplar dalam paradigma sosiologi. Baik bagi paradigma fakta sosial maupun bagi paradigma definisi sosial. Demikian pula buah karya Max Weber tentang Social Action mendapatkan kedudukannya pula sebagai exemplar terhadap kedua paradigma yang disebut diatas. Sehingga Durkheim dan Weber memeroleh predikat sebagai “jembatan paradigma”.
C. Teori Fakta Sosial
Perhatian Durkheim yang utama adalah bagaimana masyarakat dapat mempertahankan integritas dan koherensinya di masa modern, ketika hal-hal seperti latar belakang keagamaan dan etnik bersama tidak ada lagi. Untuk mempelajari kehidupan sosial di kalangan masyarakat modern, Durkheim berusaha menciptakan salah satu pendekatan ilmiah pertama terhadap fenomena sosial. Durkheim adalah salah satu orang pertama yang menjelaskan keberadaan dan sifat berbagai bagian dari masyarakat dengan mengacu kepada fungsi yang mereka lakukan dalam mempertahankan kesehatan dan keseimbangan masyarakat suatu posisi yang kelak dikenal sebagai fungsionalisme.
Durkheim juga menekankan bahwa masyarakat lebih daripada sekadar jumlah dari seluruh bagiannya. Jadi berbeda dengan rekan sezamannya, Max Weber, ia memusatkan perhatian bukan kepada apa yang memotivasi tindakan-tindakan dari setiap pribadi (individualisme metodologis), melainkan lebih kepada penelitian terhadap “fakta-fakta sosial”, istilah yang diciptakannya untuk menggambarkan fenomena yang ada dengan sendirinya dan yang tidak terikat kepada tindakan individu. Ia berpendapat bahwa fakta sosial mempunyai keberadaan yang independen yang lebih besar dan lebih objektif daripada tindakan-tindakan individu.
Durkheim berpendapat bahwa subyek kajian sosiologi harus dipersempit pada sebuah bidang yang dapat diuraikan guna membedakan sosiologi dengan studi sosial yang lain. Untuk itu, Durkheim mengusulkan bahwa harus membatasi sosiologi pada kajian analisis tentang fakta sosial yang ia jelaskan dalam dua cara. Definisi pertama yang ia berikan pada fakta sosial adalah setiap cara atau arah tindakan yang mampu menggerakkan pada individu dari tekanan eksternal, seperti sistem keuangan, bahasa, dan tindakan yang lain. Kemudian ia menambahkan, setiap tindakan umum di dalam masyarakat. Hal tersebut meliputi institusi agama, tradisi kultural, dan kebiasaan regional. Durkheim dalam definisi di ini menggunakan paksaan sosial untuk mengidentifikasi alasan di balik tindakan-tindakan yang kemudian menjadi fakta sosial. Tingkat paksaan tersebut akan terasa berbeda-beda.
Paksaan sosial ini memegang kekuatan yang memaksa di atas individu. Definisi kedua Durkheim mengenai fakta sosial mengambil pendekatan yang lebih umum terhadap fakta sosial. Ini mengacu pada berbagai tindakan atau pandangan umum di dalam masyarakat sepanjang memenuhi ketentuan bahwa fakta tersebut jelas-jelas tidak tergantung pada individu. Fenomena tersebut juga mempunyai efek yang memaksa.
Penganut paradigma fakta sosial cenderung mempergunakan metode kuesioner dan interviu dalam penelitian empiris mereka. Walaupun kedua metode tersebut sebenarnya bukan monopoli paradigma ini. Metode observasi umpamanya ternyata tidak begitu cocok untuk studi fakta sosial`. Alasannya karena sebagian besar dari fakta sosial merupakan sesuatu yang dianggap sebagai barang sesuatu (a thing) yang nyata dan tidak dapat diamati secara langsung. Hanya dapat dipelajari melalui pemahaman (interpretative understanding). Selain dari itu metode observasi dinilai terlalu sempit dan kasar untuk tujuan penelitian fakta sosial. Informasi yang diperoleh melalui observasi selalu berbeda dengan informasi yang diperlukan oleh mereka yang menganut paradigma fakta sosial.
Sebagian besar fakta sosial tidak dapat diamati secara aktual. Padahal metode observasi hanya cocok untuk mempelajari gejala yang aktual saja. Metode eksperimen juga ditolak pemakaiannya. Alasannya karena terlalu sempit untuk dapat meneliti fakta sosial yang memang bersifat makrokoskopik. Persoalan sosial yang makroskopik ini justru tidak mudah dipelajari dalam laboratorium dengan metode eksperimen.
James Coleman (1977) mengakui bahwa kuesioner dan interviu kurang membukakan jalan ke arah penemuan fakta sosial seperti yang semula diharapkan oleh penganut paradigma fakta sosial itu sendiri. Kedua metode itu menurutnya terlalu individual centrist. Kurang memperhatikan aspek antar hubungan individu yang justru merupakan substansi fakta sosial.
Selain itu, sumbangsinya dalam dunia penelitian sosiologi, Durkheim juga berpendapat mengenai hukum, bahwa dengan meningkatnya diferensiasi dalam masyarakat, reaksi kolektif yang kuat terhadap penyimpangan-penyimpangan menjadi berkurang di dalam sistem yang bersangkutan karena hukum yang bersifat represif mempunyai kecenderungan untuk berubah menjadi hukum yang restitutif. Artinya, yang terpokok adalah untuk mengembalikan kedudukan seseorang yang dirugikan ke keadaan semuala, yang merupakan hal yang penting di dalam menyelesaikan perselisihan-perselisihan atau sengketa-sengketa.5
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Emile Durkehim adalah orang pertama yang mencoba melepaskan sosiologi dari dominasi kedua kekuatan yang mempengaruhinya itu. Durkheim berusaha untuk melepaskan sosiologi dari alam filsafat positif Auguste Comte untuk kemudian meletakan sosiologi ke atas dunia empiris. Durkheim berpendapat bahwa subyek kajian sosiologi harus dipersempit pada sebuah bidang yang dapat diuraikan guna membedakan sosiologi dengan studi sosial yang lain. Untuk itu, Durkheim mengusulkan bahwa harus membatasi sosiologi pada kajian analisis tentang fakta sosial yang ia jelaskan dalam dua cara.
Definisi pertama yang ia berikan pada fakta sosial adalah setiap cara atau arah tindakan yang mampu menggerakkan pada individu dari tekanan eksternal, seperti sistem keuangan, bahasa, dan tindakan yang lain. Kemudian ia menambahkan, setiap tindakan umum di dalam masyarakat. Hal tersebut meliputi institusi agama, tradisi kultural, dan kebiasaan regional.
Contoh, disebuah sekolah seorang murid diwajibkan datang tepat waktu, menggunakan seragam, dan bersikap menghormati guru. Kewajiban-kewajiban tersebut dituangkan ke dalam sebuah aturan dan memiliki sanksi tertentu jika dilanggar. Dari contoh tersebut bisa dilihat adanya cara bertinfak, berpikir dan berperasaan yang ada di luar individu (sekolah), yang bersifat memaksa dan mengendalikan si individu (murid).4
Bagi Durkheim teknik observasi dan interviu merupakan teknik analisis yang sistematis sebagai sebuah metode empiris. Fakta-fakta sosial yang menjadi kajian Durkheim adalah gejala yang mutlak yang terjadi di dalam masyarakat itu sendiri. Dan baginya individu adalah bagian dari masyarakat yang dipengaruhinya, masyarakatlah yang memaksa individu untuk ikut dalam tata norma masyarakat itu sendiri. Meskipun terkkesan terpaksa, namun ini merupakan sebuah kenyataan dan fakta sosial yang ia temui saat ia meneliti masyarakat-masyarakat. Pengaruh keluarga, pendidikan dan teman, secara langsung maupun tidak langsung telah memengaruhi pemikirannya dalam meneliti dan menafsirkan kejadian atau fakta yang ada di masyarakat itu.

Catatan-catatan
1Pengaruh para pemikir ini dalam pemikiran Durkheim, lihat, Nisbet, Sociology of Durkheim, halaman 24-30.
2http://sos-ant.blogspot.com/2009/05/agama-menurut-pandangan-emile-durkheim.html
3George Ritzer (Sosiologi Ilmu Berparadigma Ganda) : hlm. 3
4Kun Maryati dan Juju Suryawati, Sosiologi SMA kelas X : 2004. hlm.4
5Lihat : Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar : hlm. 40

DAFTAR PUSTAKA

Imam Muhni, Djuretna A. 1994. Moral dan Religi Menurut Emile Durkheim&Henry
Bergson. Yogyakarta: Kanisius

Ritzer George, 2011. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Jakarta : PT
Rajagrafindo Persada.

Maryati Kun dan Suryawati Juju, 2004. Sosiologi SMA kelas X. Jakarta: PT Gelora Aksara
Pratama, Erlangga.

Soekanto Soerjono, 2006. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : PT Rajagrafindo Persada.
http://sos-ant.blogspot.com/2009/05/agama-menurut-pandangan-emile-durkheim.html (Diakses padd tanggal 02 Mei 2012)

3 Komentar (+add yours?)

  1. Arifin
    Apr 19, 2013 @ 01:42:16

    thank sob

    Balas

  2. zaedmannan
    Okt 21, 2013 @ 14:34:01

    sip

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: