PANGALENGAN DAERAH PENGHASIL BIJI KOPI LUWAK SETELAH CIWIDEY ( Penelitian di RW 06 Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung Selatan )

Oleh : Pupu Pia Supiati (Annisa Nur Laila)
A. Sejarah Singkat Tanah Pangalengan
Penjajahan memang telah usai, Prajurit Belanda memang telah enyah dari Bandung semenjak Bandung menjadi lautan api 23 Maret 1946 lalu. Namun, penjajahan secara dingin dan non fisik terus melanda negeri ini. Dimana tuan rumah menjadi buruh dan para tamu menjadi lord. Ironi sekali negeri ini, 67 tahun merdeka namun masih dijajah dingin bangsa lain, dan sangat ironinya, semua ini dianggap sebuah kerjasama yang saling menguntungkan.
Belanda, adalah salah satu negara sekutu yang menjajah Indonesia, mereka tersebar ke berbagai pelosok daerah Indonesia, tak terkecuali Kecamatan Pangalengan Bandung, sekian lamanya para penguasa Belanda menguasai seluruh seluk-beluk kehidupan di Kabupaten Pangalengan ini, perdagangan, tanah, tahta, dan sebagainya. Saat pertahanan Belanda runtuh dan Indonesia merdeka, Indonesia menjadi negara berkembang dan banyak bekerjasama dengan negara lain untuk menata kembali negeri yang baru merdeka ini.
China atau keturunan Tionghoa mengalami kepadatan penduduk, dan di absolutismekan oleh militernya sehingga rakyat China banyak tersebar ke berbagai penjuru dunia. Dan Indonesia bekerjasama dengan negara ini. Tionghoa menempati kedudukan sentral di beberapa negara, termasuk di Indonesia sendiri. Dan lagi-lagi tamu dari keturunan Tionghoa ini menjadi Lord dinegeri Indonesia, dan para tuan rumah menjadi buruh. Seperti yang penulis temui di daeran Pangalengan Kabupaten Bandung Selatan, dimana yang menjadi kaum otoritas disana adalah para keturunan Tionghoa yang paling mendominasi.
Seorang pekerja atau buruh yang tidak disebutkan namanya, adalah buruh peternakan Luwak dan biji kopi luwak di daerah Kecamatan Pangalengan RW 06. Ditemui penulis kemarin (18/05/2012) dikawasan ladang milik keturunan Tionghoa, beliau mengaku telah menjadi buruh selama tiga tahun, semenjak tanah disana dimiliki oleh majikannya. Sebelum majikannya yang bernama Pak Iyus (± 30 tahun) menjadikan lahan itu peternakan luwak dan penghasil biji kopi luwak, tanah disebut digunakan masih oleh keturunan Tionghoa dengan beternak babi.
Menurut Bapak Abdul Wahid (Ketua RW 06 Pangalengan), karena mayoritas penduduk di Desa Pangalengan ini beragama Islam, dan hewan jenis babi dilarang diternak apalagi di konsumsi oleh orang Islam, maka menjadikannya salah satu alasan menurut Pak Abdul Wahid untuk mengalihfungsikan sekaligus beralih kepemilikan tanah kepada pengusaha muda yakni Pak Iyus.
B. Kondisi Objektif
– Wilayah Pangalengan dikelilingi gunung dengan ketinggian di atas permukaan laut antara 1000-1420 meter.
– Luas wilayah 27.294,77 ha. Jumlah Penduduk, 130.000 jiwa
– Suhu udara antara 12-28 derajat Celcius.
– Basah udara (kelembanan) anatar 60-70 %.
Kondisi alam tersebut selain cocok untuk perkembangan sapi perah juga cocok untuk peternakan, perkebunan serta tanaman sayuran.1

C. Analisis Lapangan
Wilayah Desa Pangalengan selain dikenal dengan Susu Sapi KPBS, penghasil berbagai jenis sayuran, juga di Pangalengan ini memproduksi biji kopi luwak. Meski untuk menjadikan biji kopi luwak itu menjadi bubuk kopi yang berkhasiat dan tidak mengandung cafein itu masih belum bisa dilakukan di daerah ini, karena keterbatasan daya dukung alat dan perlengkapan yang pengolahannya harus higienis, mengukur kadar kopi, menyesuaikan kadar tersebut agar berstandar nasional serta pengamatan yang lainnya. Akhirnya para peternak luwak di daerah ini hanya bisa menjual biji kopi luwak kepada perusahaan atau industri yang mengolah biji kopi luwak tersebut menjadi bubuk kopi luak yang siap diteduh.
Harga biji kopi luwak yang dijual kepada perusahaan atau industri pengolahan biji kopi luwak berkisar antara 150.000 s/d 300.000 per kilogramnya. Luwak yang ada dan diternak di lapak milik Pak Iyus ini berjumlah 15 ekor luwak, dua ekor luwak mati karena menurut pekerjanya (yang tidak disebutkan namanya itu) umur luwak yang sudah tua. Peternakan luwak Pak Iyus ini telah berjalan 3 tahun lalu, beliau juga memiliki kebun kopi yang lumayan luas yang ditanam di sekitar kandang luwaknya
Selain Pak Iyus yang memiliki peternakan luwak dan penghasil biji kopi luwak, juga ada beberapa tanah yang dijadikan peternakan luwak beserta tanaman pohon kopinya di sekitar Desa Pangalengan RW 06 itu, yang lagi-lagi dikuasai oleh para keturunan Tionghoa, dan menurut Bapak Abdul Wahid, hampir seluruh kawasan perkebunan di RW 06 itu bahkan di daerah Pangalengan yang lain dimiliki oleh para keturunan Tionghoa, dan penduduk asli menjadi buruh mereka. Bahkan saat kami mengunjungi kawasan wisata Situ Cileunca pun lahan tersebut yang pertama mendirikannya adalah orang negeri lain, yakni Belanda.
Sampai saat ini buruh di Indonesia mayoritas adalah para penduduk negara asli Indonesia sendiri. Tidak hanya di kawasan Pangalengan saja, hampir seluruh wilayah di Indonesia perdagangan di kuasai negara lain, pemilik lahan dan penguasa di miliki oleh warga negara lain, dan hasilnya bisa diketahui hanya sedikit penguasa di negeri ini, dan menjadikan Indonesia entah sampai kapan akan terus berkembang dan jauh untuk mencapai pada negara maju seperti halnya negara tetangga kita Malaysia dan Siangpura.
Dentuman yang sangat besar bagi penulis pribadi saat mengetahui banyaknya saudara setanah air ini menjadi jongosnya penguasa yang justru datang dari negeri lain. Ibarat kata Thomas Aquinas “Para petani di suatu Manor ibarat anak-anak dari lord yang memimpin manor itu, atau seperti anggota tubuh dimana lord adalah kepalanya.”
Kendatipun demikian, masyarakat merasa tidak begitu keberatan, justru malah merasa dirinya mendapat pekerjaan untuk menghidupi keluarganya, meskipun penghasilan yang di dapat seorang buruh jauh dari cukup untuk memasok kebutuhan dirinya dan keluarganya, namun yang dikatakan oleh pekerja kopi luwak (yang tidak disebutkan namanya) bahwasannya tidak pernah ada keluhan dari masyarakat mengenai luwak, kopi luwak dan perkebunannya itu.
Meskipun tidak sepadan upah yang buruh-buruh terima per harinya, dimana seorang buruh laki-laki bekerja dari pagi sekitar jam 7 sampai dzuhur atau jam 12 hanya dibayar Rp. 20.000, sedangkan untuk buruh perempuan sampai jam 12 dibayar Rp. 10.000 – 12.000 saja. Merasa penghasilannya tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan dirinya dan keluarganya, para buruh melakukan pekerjaan sampingan yang jenisnya tidak jauh dari itu, ialah kerja pikul barang (angkut barang).
Ditengah kekayaan sumber daya alam Indonesia yang begitu luas dan gemah ripah loh jinawe, ribuan pariwisata tarap nasional dan internasional ada, predikat keajaiban dunia pulau komodo, dan penganut agama Islam terbanyak, kita masih tertatih membangun tarap kehidupan rakyat-rakyat menjadi layak bagi mereka, jika tidak pernah ada korupsi, oknum dan keserakahan orang-orang serta kaum otoritas, mungkin banyak warga Indonesia yang merdeka dari kemiskinan, merdeka dari kedzoliman dan penindasan, mempunyai kesetaraan kehidupan yang sama dan stabil, terciptanya keteraturan sosial dan tidak menutup kemungkinan negeri ini akan beralih menjadi negara maju.
D. Kesimpulan
Feodalisme secara harfiah adalah suatu masyarakat yang diatur berdasarkan sistem fief dengan kekuasaan legal dan politis yang menyebar luas diantara orang-orang yang memiliki kekuasaan ekonomi. Masyarakat yang diatur fief adalah masyarakat buruh yang bekerja untuk fief, mereka adalah slave yang dikuasai fief dengan aturan politis yang legal karena kesepakatannya.
Uraian yang penulis deskripsikan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa sistem feodalisme di Indonesia sangat begitu kental, yang dikuasai oleh para otoritas yang notabene warga negara lain (China). Dimana yang menjadi kaum buruh, pekerja atau slave itu adalah bangsa Indonesia asli. Walaupun banyak prestasi gemilang yang dicetuskan negeri ini, tetapi kenyataannya masih lebih banyak warga yang masih miskin, jauh dari kemakmuran, pendidikan kurang karena ganasnya kehidupan untuk mempertahankan diri.
Harapan yang tergurat jelas di raut wajah Bapak Abdul Wahid (Ketua RW 06 Desa Pangalengan) dalam logat sundanya “Bapak berharap ka mahasiswa anu ngaboga elmu, cing mangfa’at, cing bisa mere kamernahan ka masyarakat anu kawas kieu hungkul bisana, cing bisa ngamakmurkeun masyarakat urang kabeh, ulah jadi wae kuli keur batur.” Baca : Bapak berharap ke mahasiswa yang mempunyai ilmu pengetahuan, agar bisa menjadikan masyarakat kita ini makmur, tidak hanya menjadi kaum buruh yang di intai negara lain dan untuk kepentingan mereka.
Selain itu, ada juga sisi baiknya, bahwasannya penjualan susu yang dihimpun dalam KPBS (Koperasi Peternak Bandung Selatan) telah dipasarkan luas sejak dulu di Indonesia ini, khususnya di Bandung, juga dijadikannya permen susu caramel yang unik dan khas dan berbagai ide kreatif masyarakat untuk berusaha memiliki lahan sendiri dan jeuh dari sang fief.
Catatan dan Sumber Data

1 id.wikipedia.org/wiki/pangalengan,_Bandung (diakses tanggal 22 Mei 2012)
http://www.google.com

About these ads

2 Komentar (+add yours?)

  1. yudhitea
    Okt 29, 2012 @ 10:40:49

    Dupi neng Pia teh linggih di Pangalengan…? Pami bade mengulas tentang Kopi Pangalengan, saena mah dongkap ka Sentra Pengembangan dan Penelitian Kopi Preanger di LMDH Kubangsari Desa Pulosari Kecamatan Pangalengan. Sumpingan wae Bpk. H. Djamhur…supados ulasan kopina langkung komprehensif. Ari RW 06 Pasanggrahan mah sanes sentra kopi, mung pemanfaatan lahan eta mah.
    Dina ulasan Penjajahan, buruh dll…eta mah berpulang ka mental manusiana oge neng, banyak yang menjual lahan kopinya sendiri kemudian dia sendiri yang rela menjadi buruhnya.
    Samentawis sakitu anu kapihatur…manawi..

    Balas

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: