Menyongsong Mentari si Pelita Hati

Matahari sore itu kian redup, membiaskan warna merah saga, terlukis indah sunset di tepian pantai, membiarkan pesonanya kian molek, siapa saja yang melihatnya pasti tersihir meskipun sebentar.
Langkah kaki itu begitu terpogoh-pogoh menyusuri hiruk pikuk jalanan petang di kota kembang, mengayun begitu berat, peluhnya nyaris membasahi sebagian belakang bajunya, matanya berkaca, kepalanya hanya bisa tunduk.
“mengapa semua ini terjadi padaku?” tanyanya dalam gumam.
Rin, sebutlah namanya, gadis berwajah oval langsing, dengan lesung pipit di pipinya, sangat terpukul perasaannya. Bagaimana tidak, wanita dan lelaki yang selama ini ia anggap orang tua, ternyata bukanlah orang tua kandungnya.

”lihatlah Rin, dia tidak mirip sama sekali dengan kami, jelas itu bukti bahwa dia bukanlah anak kami.” Ucap Woto yang tak lain Ayah Rin, tepatnya Ayah angkat Rin, saat meeting bersama seorang clien di café tadi sore, tanpa sengaja Rin mendengar percakapan mereka, saat itu ia sedang makan siang bersama temannya.

~
“kemana saja kamu ini Rin? Jam berapa sekarang?” sentak Pak Woto saat Rin pulang larut malam.
“jam sebelas malam Pak.” Jawab Rin dingin. “Rin sangat lelah, jika Bapak mau bicara, besok saja. Selamat malam.” Lanjutnya, sambil berlalu menuju kamar.
“Rin tunggu!” Bu Sri mencegahnya.
“Bu, Rin sangat lelah. Rin harap ibu mengerti.”
“Biarkan saja Bu, biar besok dia bisa lebih fresh.” Tukas Pak Woto.

“bagaimana ini bisa terjadi? Lalu, aku saya sebenarnya? Bagaimana aku ada disini? Mengapa semuanya begini? Aaarrrgghhh… terlalu penat memikirkan ini.”
Dan Rin pun terlelap dengan penuh tanya dalam benak, sesak dalam dada, haus dalam dahaga.
Ia berharap mimpi akan menjawabnya, setidaknya ada petunjuk dalam mimpi.

~
“Sudah saatnya kamu tahu, sebuah rahasia besar untuk menemukan jati diri kamu.”
Ucap Pak Woto saat selesai sarapan pagi, suasana hening, saat Rin menceritakan apa yang ia dengar kemarin siang di café.
Bu Sri tak kuasa menahan tangis, ia peluk Rin sekuat-kuatnya ia ciumi pipinya, ia usap rambutnya, dan Rin membiarkannya dengan sikap dingin. Yah, begitulah Rin.
“dahulu, kami mempunyai seorang pembantu, lama ia bekerja di rumah ini, singkat cerita Bapak dan Ibu sulit mendapatkan anak perempuan, dan berniat ingin mengadopsi. Dan Bi Yum pembantu kami itu berniat mencarikan bayi perempuan di desanya. Bebarapa hari kemudian, Bi Yum datang dengan membawa bayi perempuan, yang baru berusia lima hari, ia begitu lucu, tubuhnya gemuk, kulitnya masih kemerahan, tangisnya membuat Bapak dan Ibu gembira itu kamu Rin.”
“Bi Yum bilang, ia menemukan bayi itu disebuah kavling kosong di perumahan tak jauh dari desanya, dalam kardus.”
air mata Rin meleleh, yang ia pikirkan bagaimana mungkin seorang ibu tega membuang anaknya, mengapa ibu tidak mengharapkan aku? Apakah salahku? Lalu siapa Ayahku? Apa aku termasuk anak haram? Pening Rin dibuatnya, pertanyaan itu datang dengan sendirinya, membising di relung hatinya. Rapuh ia rasa. Namun Rin, masih mampu mendengarkan lanjutan kisah pilunya. Ia kuatkan pijakannya, bagaimanapun juga, ia ingin tahu siapa dirinya sebenarnya.
“lalu, sekarang dimanakah Bi Yum itu? Bisakah Rin menemuinya?”
“Bi Yum sekarang telah menjadi buruh di sebuah pasar di bandung barat.”
“boleh Rin tau alamatnya?”
“kami tidak punya alamat lengkapnya Rin, Ayah, maksudku Ba..pak hanya tau Bi Yum berjualan di pasar sederhana disana.” Jawab Pak Woto kaku.
“kalau begitu, Rin sekarang juga akan kesana.” Ucapnya sambil bergegas bangkit dari duduknya.
“ibu ikut Rin.”
“gak usah Bu, Rin bisa sendiri, lagipula ada kan photo Bi Yum!” “ibu urusin saja pekerjaan ibu.” Lanjutnya.
~

Scooter itu membawa Rin pada perasaan yang tak menentu. Menyongsong matahari yang menyengat, peluhnya tak terelakkan lagi, namun urung ia basuh. Melaju kencang, dan
Braakk….!!!!
Saat itu awan cerah terganti oleh hitam pekat, menutup cahaya dalam liriknya, bau anyir meruak, darah membasahi jalanan. Dan Rin merasa semuanya gelap. Suara bisingan orang-orang tak ia hiraukan, rasa sakit luar biasa tak ia anggap, dalam keadaan seperti itu, Rin hanya berucap lirih, Mamah. Ia tak mampu membuka mata, menggerakan sekujur tubuhnya, namun ia masih bernafas, ia masih mendengar, ada ucapan yang ia dengar dari seseorang disana, ia kenal suara itu, yah Bi Yum.
“Nak, ayo bangun, Bibi bersama ibu kandungmu, bukankah kamu sangat menginginkan bertemu dengan ibu kandungmu?” ucap Bi Yum dengan isakan tangis.
Air mata Rin meleleh mendengar itu, “Ibu, kau ada disini?” lirihnya bahagia di dalam hati. Lalu Bi Yum memegang tangan Ibunya Rin untuk membelai Rin.
Tangan kasarnya itu membelai pelan pada kepala dan pipi Rin.
“Nak Rin, ini belaian ibumu, kau pasti merasakan ikatan batin itu kan Nak Rin?” Ucap Bi Yum lagi dengan suara serak, dan air mata tumpah.
Rin merasakan aliran hangat dalam pipinya saat Bi Yum berkata itu, namun Rin kesal seluruh badannya tak bisa ia gerakan, bahkan matapun tak bisa terbuka.
“Bu, jika ini memang ibu kandungku, maka bicaralah Bu, sebagai pendorong dan penyemangatku saat ini, dan peluklah aku Bu. Rin, anak Ibu.” Gumam Rin dalam hati.
Darah masih berlumuran, Bi Yum mencoba membersihkan dan berusaha menghentikan darah yang keluar, Ambulance sedang di perjalanan. Rin merasa semua badannya dingin, tak terasa sakit. Ia panic, ia merasa ini ajalnya. “Oh tidak! Robb, beri aku sedikit kekuatan untuk melihat Ibu kandungku ini. Mengapa ia tak jua bicara?”
Diluar penglihatan Rin, Ibu kandungnya yang di bawa Bi Yum, masih membelai kasar pipi Rin, meski tak di papah Bi Yum, mata Ibu itu mulai berbinar, melihat wajah sang Anak, meski terluka di pelipis, namun aura kecantikannya masih bisa terlihat, sama seperti Ibu kandungnya ini. Hanya saja..
“huaaaa…. Hiiiiiii… hahahaha… hauuuu… heuheuheu..!!!”
“itukah suara Ibuku? Mengapa ia begitu? Indra penciumannya merasa bau, bau seperti selokan. Dan suara itu begitu dekat di telingaku, begitupun bau itu. Ahh.. apa ini?” tanya Rin dalam hati.
“Safitri tenang! Kamu jangan mengamuk begini? Safitri!” Bi Yum berusaha menenangkan Ibunya Rin. Yah Safitri namanya.
“Ternyata benar, Ibu ini gila.” Ucap salah seorang lelaki yang berkerumun disana.
“Sebuah kenyataan yang harus ku terima dalam hidupku, dalam keadaan aku sekarat, Ibuku Orang Gila. Lalu siapa Ayah kandungku?” Rin mendengkur dalam diamnya, hatinya merasa miris, namun itulah sebuah kenyataan.
Darah masih bercucuran, Rin sangat lemah, telinganya samar-samar mendengar ucapan-ucapan di sekelilingnya, ia sesak, ia kembali merasa nyeri pada kepalanya, bau anyir samar ia cium, sesak itu semakinmmenjadi, nafasnya tersenggal, darah membanjiri sekujur tubuh, Rin lemah, lelah, dan merasa tak kuat, hingga akhirnya, hembusan nafas terakhir mengiringi dalam lirihnya Rin, “Mamah.. Laailaahaillallooh.”

By : ANL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: