Muslim keturunan Biadab.

Pagi yang cerah. Awal musim semi yang indah. Lihat, daun-daun itu mulai bermekaran, tanaman yang layu karena tertimpa air hujan, kini mulai tegak. Musim hujan yang membosankan. Ia membuat banyak jalan tertutup reruntuhan tanah karena longsor, korbanpun berjatuhan, di Bantul saja sudah menelan tiga orang, satu diantaranya anak kecil laki-laki sedang mandi, masih telanjang bulat. Belum di daerah Bogor dan Sumedang, dan banyak lagi longsor-longsor yang terjadi di negeri ini.
Burung berkicauan di pagi hari itu, mengepakan sayapnya, menyusuri keindahan langit ciptaanNya, mencari jatah makan. Sesekali mereka berkelahi merebut makanan. Kicauan itu menyempurnakan pagi yang paling indah, dengan sang surya yang mulai membentangkan sinarnya, warna kekuning orange-an, burung yang berkicauan. Kabut mulai menghilang, tererai oleh hangatnya sorotan sang surya dari ufuk timur.

Warga kampung Cimenyan terlihat hilir mudik di jalan perbatasan kampung, mereka ada yang membawa perkakas bertani, seperti cangkul, semprotan, dan lainnya. Juga ada mereka yang membawa barang dagangannya untuk di jual di pasar raya Anjungan, yang tak jauh dari kampung Cimenyan. Anak sekolah dasar, menengah pertama dan juga menengah atas, terlihat melengkapi jalan Pancuran kampung Cimenyan yang merupakan jalan satu-satunya menuju ke pusat kota dari kampung ini.
Yang bertani mulai mencangkul lahannya, ada juga yang sedang panen padi, ada juga yang meleburkan tanah dengan kerbaunya, suara motorpun tak ketinggalan mengiringi kesbukan jalan Pancuran itu.

Raya mematung di halaman kamarnya pagi itu, meneliti kesibukan kampungnya di pagi hari, kadang ia menguap sambil menggeliat, mengucek-ngucek matanya, dan kembali memperhatikan jalan Pancuran yang persis di depannya, butuh seratus meter bagi Raya untuk bisa sampai di jalan Pancuran itu. Sesekali ia tertawa, melihat tingkah anak kecil yang takut menyebrang jembatan yang di bawahnya sungai deras perbatasan jalan Pancuran menuju jalan Pasir Ciawi, dan ibunya memaksa anak itu untuk tetap menyebrang, namun anak itu merengek dan menangis, ia ingin di gendong ibunya, tetapi di punggung ibunya telah hinggap sekarung rumput untuk makanan ternak, dan anak itu pun mau tidak mau harus menyebrang dengan memeluk perut ibunya, Raya tertawa melihat anak itu harus menyebrang jembatan dengan cara berjalan mundur.

Lalu di sebelah kanan pandangannya, ia melihat sosok sesepuh memasuki Masjid, satu-satunya Masjid yang ada di kampung Cimenyan kelurahan Anjungan ini, bangunan dan arsitektur masjid itu menyerupai bangunan Masjid Istiqlal Jakarta, namun ini tak seluas Masjid Istiqlal, Masjid Ar-Rahman disini memiliki kapasitas jama’ah tiga ratus lima puluh orang saja. Yang menjadi daya tarik Mesjid ini bagi Raya, adalah kubahnya yang berbentuk love terbalik.
Raya masih mematung di halaman kamarnya, menyisir pandangannya ke berbagai arah di kampungnya itu, kadang ia tersenyum simpul, juga berdecak kagum atas ciptaanNya.
“Sorayaa…!!!” Lamunan Raya pudar saat mendengar suara Ibunya yang menggelegar.
“Ya Mah, ada apa?” jawabnya tak kalah menggelegar.
“Ada apa-ada apa, mamah udah panggil-panggil kamu tiga kali, ngapain aja sih? Cepet mandi kamu harus ke kantor kecamatan kan! Papah udah nelpon nanyain kamu!” tukas Mamahnya juga dengan menggelegar.
“Astagfirulloh.. aku lupa!” ucap Raya seraya berlari menyusuri tangga rumahnya.
Hari ini ia ditugaskan Papahnya yang menjabat sebagai RW di kampungnya untuk menemui Mahasiswi dari kota yang akan melakukan pengabdian sebagai dokter.
☺☺☺

“Permisi Pak.”
“Oh ya silahkan duduk, ini pasti neng Yuki ya? Yang mau pengabdian itu?
“Benar sekali Pak.”
“Mari masuk dulu ke ruang tamu.” “Mang Salim tolong bantu bawa barang-barangnya neng Yuki.”
“Bapak lurahnya di Desa ini?” Tanya Yuki sambil hendak duduk di ruang tamu kantor kacamatan.
“Oh bukan, Bapak ini RW di kampung Cimenyan.”
“Oh, Bapak siapa namanya? Bisa mendatangani surat persetujuan pengabdian dari fakultas saya?” tanya Yuki sambil membuka tasnya, mencari selembar surat.
“Oh tentu saja. Panggil saja Pak Ali.”
“Neng ini kok di biodatanya gak ada agamanya?” tanya seorang sekretaris yang sedang mendata di computer ruang tamu kantor.
“Ya Pak, saya tidak beragama.”
“Ini sudah tanda tangannya.” Tukas Pak Ali menyerahkan berkas.
“Ya terima kasih banyak Pak Ali.”
“Lha, kok gak beragama neng? Memangnya bisa?” buru sekretaris itu penasaran.
“Ya bisa saja Pak, saya tidak percaya pada Tuhan dan pada semua agama yang ada di dunia ini.” Jawabnya mantap.
“Sudah Pak Yayat, setiap orang berhak menentukan pilihan hidupnya. Kita hargai saja.” Celah Pak Ali menengahi.
“Assalamu’alaikum?”
“Wa’alaikum Salam.” Jawab Pak Ali dan Pak Yayat berbarengan.
“Neng Yuki, ini Anak sulung Bapak, nanti Neng Yuki bisa di temani Anak Bapak ini. Kebetulan ia sedang liburan panjang.” Yuki tersenyum lalu bangkit dari duduknya.
“Mbak Yuki kan! Saya Soraya, panggil aja Raya.”
“Ok.” Jawabnya singkat, sebari memberi senyum.
☺☺☺

Selintas Raya melihat pada sosok Yuki yang dingin, salah satu mata kuliah yang pernah ia pelajari, dalam teori psikologi ada dua macam tipe orang, yaitu ekstrofet dan introfet, ekstrofet adalah suatu kecenderungan terhadap seseorang yang bersifat tertutup, pendiam. Sedang introfet sebaliknya.
“Mbak Yuk, kita keliling kampung yuuk!” ajak Raya jenaka.
“Kamu ini, tanggung banget panggil nama saya jadi Mbak Yuk, huruf I nya ketinggalan.” Balasnya dengan wajah datar dengan masih sibuk menata barang bawaannya. “Bisa tinggalkan saya sendiri?” tambahnya.
“Upss.. so sorry, okay Mbak Yuk, Yuki maksudnya. Hehe.”
“Dasar anak manja.” Gumam Yuki dengan senyum simpulnya. Yah, ia tersenyum di belakang Raya.
Sebenarnya Raya ingin sekali melihat Yuki membuka jendela kamarnya, lalu berdiam diri di teras kamarnya dan menjelaskan seluruh sudut di kampungnya, namun melihat Yuki yang kecapean sehabis perjalanan lumayan jauh, Raya urungkan niatnya.
☺☺☺

Siang ini kantor kecamatan Anjungan sepi. Hanya petugas kebersihan kantor yang masih lalu-lalang membersihkan lantai kantor. Kantor kecamatan Anjungan ini menghadap gunung geulis Soreang, yang konon gunung itu tempat bertapanya orang-orang yang mau kaya mendadak atau kepengen menjadi OKB (orang kaya baru).
Sebelah timur kantor kecamatan bercat cokelat muda itu, terlihat jelas bangunan Mesjid Ar-Rahman yang kokoh. Tergambar jelas pula jembatan penghubung kampung Cimenyan ke Pasir Ciawi, kebun petani yang luas, sebagian rumah penduduk, serta tiga bukit kecil unik yang ditanami teh yang hijau. Unik karena di Desa ini hanya tiga bukit mungil itulah yang ditanami teh, sempat dulu petani menanam benih-benih teh di tempat lain selain bukit mungil itu, namun seiring dengan waktu, bakal tunasnya pun tak terlihat se centimeter pun.
“Pak, kok kantornya sepi begini, pada kemana?” tanya Raya saat hendak menjemput Bapaknya.
“Iya Neng Raya, semua pekerja hari ini pindah tempat dinas.”
“Loh, kenapa memangnya Pak, kok pindah? Pindah kemana?”
“Itu Neng Raya, mempersiapkan untuk pengabdian dokter yang kesini itu. Tempatnya di lapangan terbuka belakang Masjid Ar-Rahman.”
“Oh begitu ya Pak, terima kasih informasinya ya Pak.”
“Ya sama-sama.”
Raya berlalu dengan sepeda motor maticnya. Menyusuri jalanan desanya yang tak urung mulus, bebatuan masih bercecer, sempat beberapa kali di perbaiki, tapi tiap musim hujan meningkat, sungai jembatan perbatasan selalu meluak, dan jalan ini tidak pernah awet.
“Mbak Yuki kok udah disini lagi?” tanya Raya saat turun dari sepeda motornya.
“Gak usah banyak tanya, cepat bantuin!”
Tenda dipasangkan, meja juga di angkat, tak lupa ruangan semu tertutup di kondisikan untuk ruang pemeriksaan.
“Ray ada ahli Apoteker gak disini?”
Raya yang sibuk dengan pekerjaannya membersihkan kaca lemari tempat obat, ditambah juga suara bising yang gaduh, sehingga pertanyaan Yuki tak ia dengar.
“Soraya Anggelina Phill Gates!!!” dengan nada sedikit teriak, Yuki memanggil Raya.
Raya menoleh, sesaat menghentikan pekerjaannya, ia terkejut mendengar panggilan Yuki yang memanggil namanya dengan sangat lengkap. Yuki yang menyadari perubahan wajah Raya juga kikuk, namun cepat ia kuasai dirinya.
“Mbak memanggil siapa?” buru Raya penasaran.
“Saya panggil kamu, Soraya Anggelina. Itu namamu kan?” Raya mengangguk pelan.
“Disini ada ahli apoteker gak Ray?” tambah Yuki.
“Oh kalo itu…??? Emmmh…!!!”
“Ada, Saya calon apoteker.”
Serempak Yuki dan Raya menoleh ke arah sumber suara yang baru datang itu.
“Salam! Saya Melinda dari jurusan Apoteker, akan melakukan riset disini. Mohon kerjasamanya ya teman.” Ucapnya penuh ramah.
“Ya tentu saja. Oya kenalkan saya Raya. Soraya. Dan ini Mbak Yuki, calon dokter yang melakukan pengabdian disini.” Yuki pun mengulurkan tangannya dan bersalaman.
Disinilah awal kisah mereka.
☺☺☺

Ruang makan dirumah Pak Ali menjadi gaduh saat Sarah yang tak lain adalah adik Raya satu-satunya tiba-tiba datang dan menggangu Raya, Sarah yang masih duduk di sekolah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) itu memukul pantat kakaknya saat Raya asyik makan, kejar-kejaranpun tak terelakan. Melinda juga ikut menyemangati Sarah, serta tawaan Ibu dan Bapak Ali, sedang Yuki hanya melihat, dan senyum.
“Mbak Yuki, ga keberatan kan kalau kita sekamar bertiga? kalau Mbak Yuki keberatan dan mau tenang, Mbak Yuki bisa di ruang tamu saja, ada sofa disana. Hehe.”
“Nothing, asalkan kalian tidurnya merem dan mulutnya diam, jangan kayak sekarang!” jawabnya lugas dengan nada canda.
“Mbak Yuki ini kayaknya serius banget ya orangnya! Hehe.” Ucap Melinda nimbrung.
“Ah masa?” Yuki belik bertanya.
“Tenang aja Mbak Melin, besok-besok juga Mbak Yuki bakal ketawa lebar, liat saja nanti.” Tukas Raya.
“Ya, kita sama-sama godain Mbak Yuki aja kalau begitu.” Tambah Melinda.
“Sudah, ayo kita tidur, besok pagi kita semua harus standby di posko!” Yuki menengahi.

Raya dan Melinda tertidur pulas. Entah mengapa Yuki belum juga dapat memejamkan matanya, ini sudah tengah malam, dan besok pagi sekali dia harus menangani para penduduk yang berobat. “kenapa sih? Kok susah tidur begini?” lirihnya kesal, sambil membolak-balikan badan tak karuan.
Seiring dengan lamunannya, Yuki pun tertidur. Sang bulan malam itu sangat indah, memang bintang tak terlihat bertaburan, namun cahaya biasan matahari yang sampai ke bulan bagitu terang, jikapun desa saat itu semuanya mati lampu, biasan cahaya rembulan itu sampai pada pipi manusia. Subhanalloh.
☺☺☺

Para penduduk kampung berbondong-bondong menuju halaman Masjid Ar-Rahman, yang biasanya masyarakat berbondong-bondong ke Masjid waktu Maghrib saja, tapi pagi ini mereka berbondong ke halaman Masjid Ar-Rahman untuk berobat. Dengan adanya pengabdian Yuki, dan tentunya pengobatan penyakit, masyarakat sangat terbantu, mereka mengaku senang dengan adanya pengobatan gratis ini, pasalnya zaman sekarang pergi berobat harus dengan biaya yang lumayan, apa lagi di kampung ini jauh sekali ke rumah sakit.
“Alhamdulillah…” Sahut Raya sambil menghempaskan badannya ke sofa ruang periksa saat semuanya selesai.
“Puji Tuhan…” begitupun dengan Melinda.
“Belum beres. Besok sampai lusa kita masih harus seperti ini.” Ucap Yuki ngos-ngosan. “Ayo kita pulang!” tambahnya.
Mentari tenggelam indah di ufuk barat, memancarkan warna merah saga dibalik lereng gunung geulis. Posko sudah lengang oleh orang-orang yang berobat. Hanya orang-orang yang mau ke Mesjid terlihat berbondong menuju halaman luar Mesjid Ar-Rahman yang tepat di sampingnya posko pengabdian Yuki.
Adzan pun berkumandang, menggema di sela-sela gungung dan bukit, juga gunung batu yang terjal. Burung-burung berkicau ria, menuju sarangnya masing-masing setelah seharian mencari makan.
Keluarga Raya serempak pergi ke Mesjid, hari ini ada pengajian mingguan, tepatnya malam jum’at. Sedang Melinda dan Yuki di rumah sambil menyantap hidangan makan malam yang telah di sediakan istrinya Pak Ali. Sambil menonton TV dan saling bercerita banyak.
“Ki, kenapa sikap kamu ke Raya kok beda?”
“Beda gimana?”
“Yaa.. balik nanya!”
“Ya jelasin dulu dimana letak perbedaannya, baru aku bisa jawab! Hehe..”
“Ya kayak sekarang aja, kamu ke aku bicara blak-blakan, siapa sebenarnya kamu, darimana asal kamu, dan ramah. Sedang ke Raya, aku melihat sikap kamu ke dia terkesan dingin, cuek, tegas. Yaah beda lah!”
“Mungkin karena aku belum kenal dia, mungkin juga karena keyakinan kita, atau mungkin juga karena dia terlalu jenaka buat aku.”
“Aku gak yakin karena semua mungkinnya kamu itu. Apa ada something wrong?”
“Something wrong dari mana? Aku baru tau and ketemu dia dua hari yang lalu. Mungkin aku ingin aja bersikap begitu ke dia. Udah lupain deh, mending kita nonton Summer Breeze di laptop aku!”
“Yes, of course. Dulu sekali pernah nonton, lupa lagi aku. Heu.”
☺☺☺

Suara jangkrik menghiasi heningnya malam di kampung ini, tak ketinggalan juga suara kodok yang seperti kontes. Pukul sebelas malam, Raya belum juga tidur, ia masih melek. Rupanya ia sedang memperhatikan wajah Yuki yang kelelahan seharian ini, lalu sejenak ia mengernyitkan dahinya, dan berbalik menatap tumpukan map kepunyaan Yuki, ingin ia membaca dan mencari tahu siapa sebenarnya Yuki. Sejauh ini Raya dekat dengan Melinda, dia keturunan katolik yang tinggal di kota Bandung, asli dari Denpasar, kecintaannya pada kimia membuat Melinda maju cepat dalam perkuliahannya.
Raya hendak mengambil map dan berkas-berkas Yuki, namun ponsel Yuki berdering menggagalkan keinginan Raya tersebut.
“Hallo, siapa malam-malam nelpon?” tanya Yuki dengan nada ngantuk. “Oh Tante, ada apa malam-malam gini nelpon?”…. “kapan??”… “sekarang gimana???”… “Gates ada???”… “oh ya sudah, kita lihat besok saja.” Tuttt.
“Siapa Mbak Yuk?” buru Raya penasaran.
“Gak perlu tahu, sudah tidur lagi!”
“Siapa Gates itu???”
“Bukan urusanmu.”
“tapi…???”
“Kheerrrrrr…. Kherrrrrr….” Dengkuran keras Yuki yang keluar dari mulutnya.
☺☺☺

Hari minggu yang ramai, begitulah setidaknya tafsiran Yuki, di depan kantor kecamatan, ada sebuah lapak tak terlalu luas, bekas lapangan volly ball, disana setiap minggu pagi di banjiri para pedagang dan tentunya para pembeli, pasar mingguan ini hanya pagi hari di hari minggu saja, mereka yang berpakaian olah raga, juga pakaian santai. Para pedagang menjajakan dagangannya dengan hamparan karung, ada juga memakai meja dan juga roda.
Yuki yang bangun lebih dulu bergegas memakai baju olah raga, tentunya sebagai dokter ia sadar betul akan kebugaran, yakni dengan berlari di pagi hari. Saat hendak keluar, Pak Ali bertanya,
“Neng Yuki mau lari ya? Kok sendirian?”
“Iya Pak, soalnya Melin sama Raya masih tidur.” Jawab Yuki sambil memakai sepatu tali.
“Innalillah, Raya masih tidur???”
“Iya Pak, Saya gak tega banguninnya, kelihatannya capek!”
“Bagi Bapak justru gak tega kalau gak bangunin dia untuk sholat subuh!”
“Pak, Saya pergi dulu.”
“Yah.” “Rayaaaaa!!!!!!” teriak Pak Ali dari bawah menuju tangga. “Raya Bangun!! Subuh dulu!!!” Teriak Pak Ali sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Raya.
“Bapak, tidakkah Bapak mengerti kalau seorang perempuan itu ada masa cuti sholat, jadi sekarang Raya cuti dulu. Kalo udah beres, Raya selalu sholat kok. Okay Pak, Masih ada waktu sejam lagi sebelum posko di buka. Selamat tidur kembali Bapakku sayang.” Ucap Raya jenaka tapi sedikit kesal.
“Oh, Ya sudah kalau begitu.” Tukas Pak Ali seraya pergi.
“Ray, aku mau nyusul Yuki ke pasar mingguan ya! Bye..”
“He’eh.”
Saat Raya hendak menarik selimut, lalu terdengar suara benda yang terpental di balik selimut, Raya bangun dan mencarinya, ia harus mengucek-ngucek dulu matanya untuk bisa melihat benda yang terpental itu. Dan ia menemukannya, sebuah cincin perak kuno yang dihiasi intan kecil di tengahnya berbentuk segi tiga.
“Oh cincin ini ternyata, kirain apa, sampai lupa kalau aku jarang pake cincin ini. Udah mah cincinnya kecil, waktu dulu cincin ini muat di jari tengahku, sekarang di jari kelingkingpun udah hampir gak muat. Huammmmm…” setelah meletakan cincin di lemarinya Raya kembali tertidur.
Tiga puluh menit kemudian Raya terbangun, Yuki dan Melin masih belum pulang, padahal sebentar lagi harus buka posko.
Rupanya Yuki dan Melin keasikan borong souvenir khas daerah Cimenyan ini, gelang yang terbuat dari tanduk kerbau, dompet dari kulit buaya, kalung dari biji-bijian, dan berbagai kerajinan dari barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai lagi.
“Ki, bentar lagi buka posko loh!”
“Jam berapa mang sekarang?”
“Jam delapan empat puluh.”
“Ya sudah kita sekarang kesana, Aku udah bawa semuanya kok.”
“Kamu gak akan mandi dan ganti baju dulu?”
“Oh iya ya, ayo cepet!”
Rupanya Raya juga belum enyah dari kamarnya, ia membaca Curriculum Vitae milik Melin yang tergeletak begitu saja di kasur, juga Curriculum Vitae Yuki yang dia temukan dibawah Laptopnya.
“Jorok juga mereka, berkas-berkas kok dimana aja. Hemmm…”
“Melinda Marsya Paul, beragama katolik kelahiran dua puluh dua tahun lalu, lahir di Denpasar.” Eja Raya membaca CV Melin, lalu ia mulai membaca CV Yuki.
“Yuki Nofansa A…” Raya tehenyak, kaget, bingung. Belum sempat ia selesaikan membacanya, Yuki dan Melin masuk kamarnya dengan buru-buru.
“Hei, cepet bangun, kita ke posko sekarang!” Seru Melin menggelegar.
☺☺☺

Hari terakhir di posko. Penduduk masih berbondong-bondong datang, tidak hanya dari kampung Cimenyan, dari kampung Anjungan pun pada berdatangan. Yuki sangat senang dan antusias, juga sang Apoteker, Melinda. Ia dengan senang hati melayani para pasien yang meminta obat dari resep sang Dokter Yuki.
Sesekali para ibu-ibu menggoda mereka, memuji kulitnya yang mulus, putih, halus, merayu untuk mau di nikahkan dengan putranya, ataupun sekedar bertanya-tanya atau konsultasi. Raya terlihat biasa saja, sebetulnya ada yang mengganjal di dalam hatinya, namun agar para pasien bisa merasa nyaman dengan keramahan pengurus, ia pun berwajah ceria.
Yuki melihat perubahan pada diri Raya, ia berbisik pada Melin untuk menanyakan keadaan Raya, namun Yuki pun menggeleng-geleng kepalanya tidak tahu. “Nanti aja kita tanyain Ki.” Ucap Melin.
“Ray, Sarah demam, Ibu kesini untuk memeriksanya. Tolong kamu catat di daftarnya ya!”
“Innalillah, dari kapan Bu? Kok baru bilang?”
“Dari tadi subuh udah panas. Kirain Ibu, Sarah kepanasan abis dari dapur bantuin Ibu masak, Sarah dekat kompor terus.”
“Ya sudah Ibu sama Sarah duduk dulu ya, Raya catat dulu.”
“Ray, Bapak juga tadi bilang pusing, mungkin darahnya naik lagi. Sekarang lagi tiduran di rumah, maaf gak bisa bantu disini katanya.”
“Gak apa-apa Bu, yang penting istirahat dulu, udah Ibu duduk dulu aja.”
Hari ini posko benar-benar terbanjiri para pasien yang berobat, Ibu Sri yakni Ibunya Raya sudah gelisah di tempat duduknya. Sarah yang terus-terusan menangis, sesekali Bu Sri berbisik pada Raya, “Kapan di panggilnya?” Raya hanya bilang “Sabar dulu, harus ngantri Bu.”
Sarah terinfeksi DBD (Demam berdarah) bintik-bintik kecil di lengannya semula dikira Bu Sri itu tersengat gigitan nyamuk biasa saja. Pukul dua sore posko baru selesai. Kelelahan jelas terlihat di wajah para panitia yang bersangkutan. Konsumsi dibagikan, sebetulnya mereka semua terlewat lapar, tapi lahap juga makannya. Terlewat lapar = kelaparan?!!
Sesampainya di rumah, Yuki menengok dulu Pak Ali, memeriksa dan memberikan obat. “Tekanan darah Pak Ali tinggi, seratus delapan puluh per tujuh puluh.” Ucap Yuki sambil melepas alat tencinya. Tak lupa Yuki dan Melin mengucapkan banyak terima kasih pada keluarga Pak Ali, juga memohon maaf atas kehilafan selama berada dirumahnya. Dan mohon diri besok untuk pamit pulang. Pak Ali dan Ibu Sri pun begitu merasa kehilangan.
Di dalam kamar, Raya mematung di halaman teras kamarnya, kebiasaan Raya. Memandang kosong, jauuuh.. Melin mendekatinya dan menanyakan perihal wajahnya tadi di posko, Raya memang terlihat berbeda hari ini. Namun disinggung hal itu ia selalu menjawab “Ah biasa aja kok. Hehe..”
Melin nyerah, dan menyerahkan urusannya pada Yuki, untuk mendekatinya dan mendengarkan lukanya. Yuki kebingungan harus bagaimana, pasalnya selama ini ia tak begitu karib dengan Raya, kaku rasanya bagi Yuki untuk memulainya. Namun ada sebuah kekuatan pada diri Yuki dan optimis dapat membuat Raya bicara.
“Ray, kenapa belum juga tidur? Tanya Yuki sambil mengemasi barang-barangnya. Besok ia harus balik, pengabdiannya sudah selesai, tinggal surat-surat keterangan dari kelurahan saja untuk hari esok, siangnya jemputan akan tiba untuk membawanya pulang ke singgasana.
“Tumben Mbak Yuki perhatian nih? Hehe,, ooh karena besok mau pulang ya! Hehe.. belom ngantuk aja Mbak.” Jawabnya dengan nada canda, namun tetap saja wajahnya terlihat terbebani.
“Mbak minta maaf Ray, selama disini Mbak jutek sama kamu, Mbak sinis, yaa apalah namanya, yang jelas Mbak ga ada niat apa-apa bersikap seperti itu. Sebetulnya ada apa sama kamu? Mungkin kamu bisa melihat sisi lain sikap Mbak sekarang.
Mungkin dimata kamu selama ini, Mbak galak, jutek, sinis, dan semuanya. Tapi Mbak juga manusia, wanita pula, ada sisi sentimennya. Kalau kamu ga bisa bilang sama Melin, munhkin sama Mbak. Tuh Melin udah mendengkur.”
“Mbak, ada beberapa hal yang Raya penasaran dari diri Mbak Yuki. Pertama Raya merasa Mbak Yuki pernah menyebut nama lengkap Raya selengkap-lengkapnya…”
“Kapan? Nama kamu Soraya Anggelina kan? Mbak tau dari Pak Ali.” Potong Yuki sewot.
“Jangan dipotong dulu Mbak Yuk, ga sopan itu. Hehe. Tapi serius, waktu pertama kita mendirikan posko, Raya merasa ada yang manggil nama Raya selengkap-lengkapnya. Dan Raya merasa yang manggil itu yaa Mbak Yuki. Lalu tanpa mengurangi rasa hormat ni ya, kemarin Raya baca CV Mbak Yuki yang tergeletak dimana aja, dan nama lengkap Mbak Yuki sama Raya kok sama ya?”
“Memangnya sama di nama yang mana?”
“Rayaaaa….!!! Bapaaaakkk….!!!”
Suara Bu Sri yang menggelegar mengagetkan Raya dan Yuki, saking menggelegarnya Melin pun sampai terbangun dan keget juga. Teriakan tengah malam yang tak wajar itu, membuat Raya, Yuki dan Melin buru-buru bangkit dan menuju lantai bawah.
Rembulan kala itu meredup, cahayanya tertutup rapat oleh awan yang kian pekat, semilir angin buas memberi efek dingin tiada kira, suhu berkisar 18-20°C, Kecepatan Angin 6-8 KpH, angin yang berhembus kencang membuat pohon disekitar rumah bersuara, belum lagi dengan suara-suara hewan malam, kodok, jangkrik, dan burung hantu, perpaduan suaranya membuat melodi berisik. Malam yang pilu.
Tanpa disadari, posko yang berada di halaman Masjid Ar-Rahman porak poranda di sapu angin, tenda runtuh, kursi dan meja berantakan, kekacauan terjadi karena kencangnya hembusan angin. Padahal ini awal musim semi.
Suara hewanpun tak terdengar, tertutupi oleh kencangnya hembusan angin. Pertanda apakah ini??
“Kenapa Bapak Bu??” Buru Raya kaget.
“Bapak Nak.. Bapak tidak bernafas lagi…”
Duarrrr…. Suara petir menggelegar di tengah malam itu, bukan petir dari luar pertanda akan datangnya hujan, namun petir dari hati yuki yang menghujam, menikam, menusuk, dan menuai deraian.
Yuki langsung menghampiri jasad Pak Ali, ia memereiksa denyut nadinya, ia mencoba memberikan nafas buatan, menekan dada, namun nihil.
“Tadi setelah sholat isya, Bapak minum obat yang Yuki kasih.” Jelas Bu Sri terpatah-patah karena menangis. “Lalu tidak lama kemudian Bapak mengeluh kesakitan di dada, Ibu ke dapur untuk membawakan air hangat, setibanya di kamar, Ibu melihat mulut Bapak mengeluarkan busa, setelah susah payah mengucap dua kalimat syahadat, Bapak pun menghembuskan nafas terakhir.”
Tangisan Bu Sri tumpah ruah, begitupun dengan Raya, ia peluk erat Ibunya, Sarah baru bangun, ia merasa kaget melihat di sekelilingnya menangis, dan ia pun ikut menangis. Yuki dan Melin pun ikut menangis. Di dalam hatinya, Yuki berbisik, “Apakah salah resep yang aku ajukan?” begitupun dengan Melin, “Apakah salah obat yang aku berikan?”
Sesaat mereka terhanyut dalam kesedihan, lalu terdengar ketukan kasar dari pintu luar, tok..tok…tok..tok.. “Mohon di buka pintunya!!” Suara lelaki itu menggelegar, membuat hati Bu Sri ciut, juga Raya Sarah dan Melin. Yuki yang melihat mereka ketakutan akhirnya mau tak mau harus membuka pintu.

“Selamat Malam.” Ucap pria tegap itu. Dengan kaget tiada kira Yuki menjawab.
“Malam.” kata Yuki. Semua yang di kamar kecuali jenazah Pak Ali, kini keluar kamar menuju pintu depan, penasaran dengan siapa yang datang malam-malam begini.
“Kami dari kepolisian Kapolsek kecamatan Anjungan, Kami diperintahkan untuk membawa yang bersangkutan yakni Dokter Yuki dan Melinda untuk kami mintai keterangan terkait laporan para korban yang salah di beri obat.” “Pasukan tolong borgol mereka berdua, dan mengambil semua berkas-berkas mereka untuk barang bukti.”
☺☺☺

Kenyataan yang sebenarnya, adalah harus bisa kita terima. Sepahit apapun itu, meski kita bersikukuh untuk menolaknya, namun kenyataan adalah begitu adanya.
“Ray, ayo kita pulang.” Pinta wanita itu, dengan seragam tahanan, meronta untuk bisa mengajak Raya pulang, bersujud, berderaian air mata. “Raya.. maafkan kakak.” Tambahnya.
“Apa??? Kakak??? Huh, aku gak sudi punya kakak seperti kamu! Biadab!” Ucapnya marah, serak suaranya. “Setelah kamu lakukan semua ini padaku, keluarga dan kampungku, kamu fikir hanya kata maaf??? Salah! Lepaskan tanganmu dari betisku! Meski kamu kembaranku, tapi aku tidak pernah meminta mempunyai kembaran, dan di lahirkan di keluarga Phill Gates yang kejam, Phill Gates yang Israel. Camkan itu.!!! juga kamu Melin, sama biadabnya karena bersekongkol dengan wanita ini, membantu dia untuk membawaku pulang pada neraka. kalian Pembunuh!!!”

Terik matahari yang menyengat, benar-benar berubah menjadi gumpalan-gumpalan awan hitam yang pekat, petir mulai menyambar menyeringai, kilauannya membuat ciut yang melihat, angin berhembus kencang, mengibaskan pakaian yang dikenakan Raya. Menyisir jalannan Anjungan yang sepi, mengayun langkah demi langkah, deraian airmata kian tumpah, meratapi kenyataan terpahit.

Hujanpun turun, sekilas Raya mengingat kenangannya bersama Yuki, yah saudara kembarnya, Yuki Nofansa Anggelina Phill Gates. Lalu wajah itu berubah dengan penuh kebencian. Kuyup sudah kini seluruh badannya, namun perasaannya begitu kering dan gersang. Kebahagiaan yang sempat membuat lesung pipitnya timbul, kini pupus.
“Kamu sungguh-sungguh biadab Yuki. Setelah Sarah kau bunuh dengan obat palsumu, lalu Ayah kau racuni. Bagaimanapun juga aku lebih memilih mereka menjadi keluargaku, bukan Israel biadab seperti mereka!!!”
Petir menyambar, semakin menguatkan rasa bencinya pada dirinya sendiri, bagaimanapun juga dalam dirinya mengalir darah biadab itu.

Aku ingin terbang
Dalam kebasaan hati
Yang terlampau ada
Berkompromi
Meminta pergantian
Aku ingin tenggelam
Meleburkan semua noda
Mengeringkan semua luka
Yang masih basah
Meronta, meminta
Tak dapat apa
Sayup serak suara
Membekukan lidah
Inilah kenyataan.

By : ANL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: