PERILAKU PEDAGANG PASAR TERHADAP KEBERSIHAN (Penelitian di Pasar Gede Bage Bandung)

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perdagangan merupakan sebuah konsep perekonomian yang paling tua umurnya, dari zaman peradaban dahulu1 sampai saat ini, perdagangan menjadi sentral perekonomian dunia. Perdagangan adalah menawarkan produk yang kita punyai untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup, baik untuk yang memproduksi maupun untuk para konsumen. Salah satu contoh perdaganhan ialah pasar. Pasar merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli barang maupun jasa dengan adanya kesepakatan harga antara kedua belah pihak, atau disebut transaksi.
Pasar Gede Bage Bandung, merupakan pasar tradisional yang ada di kawasan Bandung selatan. Pasar Gede Bage ini, merupakan sental perekonomian bagi masyarakat Bandung Selatan khususnya, karena pasar di pasar Gede Bage ini, terdapat berbagai macam kebutuhan kehidupan manusia, dari mulai sandang, pangan, dan papan yang berbagai jenis, bentuk, dan harganya.
Pasar Tradisional, ialah tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi secara langsung dan biasanya ada proses tawar menawar, infrastrukturnya biasanya terdiri dari kios/gerai, los, dan dasaran terbuka. Yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar. Selayaknya pasar tradisional yang sedikit sekali kesadaran para penjual untuk higienis, menyebabkan pasar ini dihiasi sampah dimana-mana. Oleh karena itu, laporan penelitian ini berjudul : “PERILAKU PEDAGANG PASAR TERHADAP KEBERSIHAN”.
B. Problematika
Dari hasil pengamatan yang kami lakukan, ternyata banyak sekali perilaku para pedagang yang acuh tak acuh dengan kebersihan kiosnya dan maraknya sampah di Pasar gede Bage ini. Mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah yang menyebabkan para pedagang tidak menghiraukan kebersihan tempat dan jualannya?
Bagaimana upaya para pedagang untuk tetap menjaga barang jualannya agar tetap terlihat bersih dan sehat? Apa upaya mereka terhadap barang dagangannya yang telah busuk atau kadaluarsa?.
C. Tujuan Penelitian
Setelah meneliti atau mengamati keadaan pasar Gede Bage, khususnya mengamati para perilaku pedagangnya, sesuai keadaan sebenarnya, tujuan laporan penelitian ini selain untuk menjelaskan uraian pertanyaan yang kami rangkum dalam pembahasan Problematika di atas, juga untuk menjelaskan tujuan yang lebih struktural yang terbagi kedalam dua kategori, diantaranya sebagai berikut :
1. Tujuan Ilmiah, yaitu sebagai bentuk keteraturan kesepakatan proses perkuliahan antara kami (peneliti) dan dosen sebagai pengajar atau pemberi materi dan arahan, sehingga laporan ini sebagai salah satu pemenuhan tugas akademik mata kuliah Ekologi Manusia.
2. Tujuan Operasional, adapun tujuan operasional ialah sebagai gambaran mengenai perilaku pedagang terhadap kebersihan di Gede bage untuk menjadi kajian masyarakat, untuk memperbaiki citra pasar di Gede bage khususnya agar lebih di “perhatikan”, mendeskripsikan potensi yang dimiliki masyarakat pedagang dipasar ini guna menciptakan kesejahteraan masyarakat dan konsumen, dan bersama-sama meningkatkan kesadaran akan kebersihan dan kesehatan.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Penulis
Dengan adanya laporan ini, penulis dapat memenuhi tugas Kelompok yang merupakan tugas terstruktur mata kuliah Ekologi Manusia dan menambah wawasan mengenai Perilaku pedagang pasar terhadap kebersihan.
2. Bagi Pembaca
Dengan adanya pembahasan ini pembaca akan mendapatkan penjelasan dan menambah pengetahuan mengenai Perilaku pedagang pasar terhadap kebersihan yang di teliti oleh penulis di lingkungan pasar tradisional Gede Bage Bandung.

BAB II
METODE PENELITIAN

1. Teknik Pengumpulan Data
a. Observasi
Tehnik Observasi adalah pengumpulan data yang dilakukan dengan mengamati atau memperhatiakan obyek penelitian, baik secara langsung maupun tidak langsung serta mengadakan pencatatan tentang hasil pengamatan tersebut secara sistematis (Anas Sudijono, 1997 : 310).
Adapun teknik observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi partisipasi aktif yang bertujuan untuk memperoleh informasi dan data tentang Perilaku Pedagang Pasar terhadap Kebersihan.
b. Wawancara (Interview)
Teknik wawancara adalah teknik percakapan dengan maksud tertentu (Moleong, 2002 : 135). Teknik ini dilakukan dengan cara mengadakan percakapan antara peneliti dan narasumber sehingga adanya proses tanya jawab antara peneliti sebagai penanya, dan para pedagang di pasar sebagai penjawabnya (narasumber).
c. Dokumentasi
Penelaahan teori-teori besar tentang pasar dan perekonomian. Yang penulis rujuk untuk menjadikannya tambahan dan penyempurnaan laporan ini. Diantaranya adalah Dokumentasi Karya Ilmiah Skripsi, dan Internet.

2. Editing dan Koding data
Karena keterbatasan waktu, maka kami tidak dapat melampirkan Data Koding.
Oleh karena itu, otomatis editing pun tidak ada. Maka kami hanya melampirkan dan membahas dengan mengumpulkan data dari interview atau wawancara, dan internet.
Maka kami sebagai peneliti merangkum sendiri hasil penelitian kemarin tanpa ada data-data valid terkait ketetapan Pasae Gede Bage.

3. Analisis Data
Pasar, merupakan tempat yang paling sering dikunjungi orang setiap harinya. Mungkin tidak ada orang yang belum pernah menginjakan kakinya ke pasar, manusia membutuhkan pasar untuk kelangsungan hidupnya. Pasar dipenuhi dengan transaksi dan biasanya tawar menawar, pasar merupakan tempat yang selalu hidup, artinya baik siang maupun malam, banyak pasar yang tetap ramai.
Pasar meberi kontribusi yang besar untuk kehidupan manusia, apapun aspeknya. Oleh karena itu, sebagai penunjang kehidupan manusia baik penjual maupun pembeli, harusnya masing-masong bisa menjaga kualitas. Pembeli membeli dan memilih makanan atau keperluan pokok dengan melihat kualitasnya, penjual disamping menjaga kualitas juga kebersihan dan kehigienisan barang jualnya,
Peneliti saat memantau kemarin ke Pasar gede Bage, terdapat banyak para penjual yang membiarkan barang jualannya di hinggapi lalat, seperti makanan (batagor, bolu, tahu sumedang, dll) juga sayur mayur, daging dan sebagainya. Tidak sedikit pula penjual yang membuang barang jualannya yang sudah basi dan busuk dilemparkan saja di dekat lesehannya, sehingga kawasan tersebut menjadi tidak bersih, kotoran dimana-mana, lalat hinggap dimana saja.
Ada yang bebeda dengan salah satu penjual yang tidak sempat kami wawancarai. Tetapi hal menarik yaitu barang dagangannya berupa kiki atau kulit sapi yang di bersihkan, sama sekali tidak di hinggapi lalat satu pun. Padahal setiap daging bagian mana pun bau anyirnya akan tercium dan selalu di hinggapi lalat, namu tempat itu sama sekali tidak ada lalat. Sayangnya karena para peneliti telah kelelahan, pedagang tersebut tidak kami wawancarai.
Kurangnya personel kebersihan dan minimnya perhatian dari penguasa atau pemerintah, menjadikan pasar ini sangat bau dan kotor, infrastruktur yang rusak, dan sangat jauh dari higienis. Padahal pasar ini memiliki daya jual yang cukup besar setiap harinya, keuntungan yang memadai, dan tempat yang strategis. Ada juga pos karcis masuk disetiap jalan masuk dan keluarnya pasar ini. Kemanakah biaya karcis masuk itu? Apakah tidak ada penanganan yang serius dan perhatian yang intensif untuk membangun citra pasar ini?
Kami ditemui dengan beberapa penjual yang sangat terganggu dan risih dengan sanitasi serta sampah berikut infrastruktur di pasar ini, sudah berkali-kali mereka berkomentar kepada pihak pemasaran, berdemo, namun sampai saat ini mereka terpaksa harus selalu menghisap bau tak sedap di pasar itu setiap mereka bernafas.

BAB III
DESKRIPSI TEMUAN PENELITIAN LAPANGAN

Perilaku Pedagang Pasar terhadap Kebersihan
– Kebersihan kue
Keadaan kue yang peneliti temui di pasar Gede Bage kemarin, rata-rata tidak memiliki label Halal dari MUI, perijinan dari Menteri Kesehatan, nomor BPOM dan tanggal kadaluarsanya.
Kami mengunjungi kios makanan ringan dan berat, penjaga kios tersebut bernama Ibu Lina (32 Tahun) beliau mengaku lebih dari delapan tahun telah berjualan di pasar Gede Bage ini, barang yang ia jual adalah macam-macam roti, kue kering, dan snack. Kebersihan dagangan Bu Lina ini cukup higienis, setiap makanan ia kemas di dalam plastik, sehingga terhindar dari lalat dan debu pasar.
Bu Lina mengaku tidak tahu menahu mengenai registrasi makanan, beliau hanya dikirim oleh seorang kurir dari home industri makanan di kawasan kopo. Bu Lina menjelaskan, ia dapat mengetahui makanan itu layak dan tidak layak diperjual belikan ketika melihat ada tanda hitam atau berjamur di dalam makanannya, selain itu juga mencium bau makanannya, apabila tercium bau basi maka makanan-makanan yang dianggap sudah hapeuk (basi) disimpan dan di kembalikan kemabali kepada kurir yang akan datang kepadanya tiga hari sekali.
– Kebersihan Sayuran
Penjual sayuran yang kami wawancarai bernama Ibu Elis (52 tahun). Beliau berjualan di pasar ini kurang lebih selama tiga puluh tahun. Barang yang beliau jual berupa bumbu dapur dan sayuran.
Keadaan sayuran dari segar samapi layu dan busuk kami temui. Bu Elis bilang, sebelum busuk masih dijual dan diletakan di tampan, atau dibawa pulang untuk di pasak dan dimakan anggota keluarga. Setelah busuk di buang saja, ditampung dalam kresek dan ada petugas kebersihan yang akan mengambilanya untuk dibuang titempat pembuangan sampah terakhir di pasar Gede Bage tersebut.
Untuk kebersihan lapak dan dagangannya Beliau cukup ketat, tiap saat menebarkan sebliah lidi yang diberi kresek untuk mengusir lalat, mencari sayuran busuk yang takutnya tertimpa oleh sayuran bagus di atasnya, dan tidak membuang barang yang tidak layak dijual secara sembarangan. Agar tidak menimbulakan kesan kotor dari pelanggan terhadap kios dan barang yang beliau jual.
– Kebersihan Daging
Penjual daging yang kami wawancarai bernama Pak Iman, berumur 40 tahun. Berdagang sekitar dua belas tahuan. Barang yang beliau jual berupa gading ayam. Daging yang di jual Iman memang dihinggapi lalat, namun beliau berusaha untuk menjadanya dan mengusir lalat-lalat itu, beliau juga bilang, daging yang dihinggapi lalat adalah daging yang masih bagus dan segar, beda dengan daging yang busuk, atau daging yang memakai bahan kimia berbahaya, jangankan manusia, lalat aja gak mau hinggap, ujarnya.
Untuk menjaga kesegarannya beliau menggunakan plezer/pendingin. Beliau mengaku tidak pernah menjual ayamn yang mati kemarin, atau busuk, semua dalam keadaan baru dan segar, stok yang tidak terlalu banyak menyebabkan Pak Iman jarang sekali ada daging yang tersisa, sekalipun ada biasanya beliau bawa pulang, atau dijual setengahnya kepada teman di pasarnya, atau jika mendekati busuk beliau kasihkan ke tukang becak.
Namun, terdapat sisa-sisa daging yang berupa kuku ayam, kulit, dan yang lainnya yang berserakan di bawah meja yang menjajakan jualannya, saat kami singgung mengenai hal tersebut, beliau mengaku itu adalah bagian daging yang tidak dapat dijual, karena memang kuku tidak diinginkan pembeli, untuk kulitnya, adalah bagian yang mengelupas sendirinya dari ayam yang sedang dipotong. Beliau juga mengaku daging yang berserakan tersebut setelah sore ketika akan pulang, sisa-sisa daging tersebut akan di bersihkan olehnya dan dibuang ke tempat sampah.

Setelah kami jelaskan gambaran keadaan yang kami temui dilapangan saat penelitian, kami menyimpulakn bahwa penegetahuan sangat penting, apapun jenisnya, termasuk pengetahuan dalam memilih jenis makananan agar kita bisa hidup sehat, serta anggota keluarga kita terjaga, sehat dan tercukupi gizinya. Pastikan dan teliti jenis dan bentuk serta bau makanan yang akan dibeli, periksa dari bahan, bau, bentuk hingga kadarnya, agar tidak terjadi hal-hal negatif yang timbul ketika kita mengkonsumsinya.

BAB IV
PEMBAHASAN

Pendekatan Analisis Ekosistem
Ekosistem merupakan tatanan kesatuan secara utuh menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling memengaruhi. Ekosistem, hubungan yang amat kompleks antara organisme dengan lingkungannya, baik biotik maupun abiotikyang secara bersama-sama membentuk sistem ekologi.
Dilihat dari Analisis Ekosistem mengenai keadaan pasar gede Bage, komponen lingkungannya meliputi Biotik : hewan / daging yang dijual, sayur mayur, buah-buahan, makanan ringan / snack, makanan berat, makanan pokok, rempah-rempah, dan barang lainnya. Sedangkan komponen yang meliputi Abiotik atau komponen fisik meliputi : tanah, air, kios, cahaya lampu/penerangan, energi matahari, alat transfortasi, inftrastruktur, dan sebagainya.
Hubungan antar sesama komponen tersebut, sama-sama saling memengaruhi antara komponen satu dengan komponen yang lainnya. Di dalam lingkungan fisik tadi, terdapat berbagai macam organisme baik secara individu maupun komunitas, yang pastinya akan terjadi saling berinteraksi denagn unsur-unsur fisik disekelilingnya.
Jika dijelaskan, maka biotik dan abiotik secara alami akan saling berinteraksi. Sebagai studi kasus, hewan atau daging yang diperjual belikan, ia membutuhkan air untuk dibilas dan dibersihkan dari kotoran, selain itu juga keyika daging tersebut busuk, maka akan mencemari udara dan menimbulkan bau, timbulnya bau pada daging akan dihinggapi lalat dan pengurai lainnya. Ketika daging busuk dibuang ke sampah, ia akan dimakan dan di urai oleh bakteri.
Sama halnya dengan sayuran dan buah-buahan, membutuhkan air untuk dibilas atau dibersihkan, ketika busuk akan menjadi sampah dan mencemari air yang mengalir dalam sungai atau sanitasi yanga terdapat di pasar, banyaknya sayuran yang terlanjur dibuang begitu saja, akan menyebabkan banjir dan saluran sungai tersumbat, akibatnya akses jalan tergenang air dan sampah, sehingga merusak sarana jalan, dan banyak merobohkan tanaman, bahkan mematikan tumbuh-tumbuhan yang di tanam di kawasan sungai yang terdapat di pasar tersebut.
Tahan, sebagai komponen fisik, akan memengaruhi sistem sanitasi, kedangkalan tanah akan dikeruk dan dipakai tambal jalan yang bolong, tanah juga berarti untuk menimbun tumbuhan yang hendak ditanam, tanpa tanah tumbuhan tidak akan bisa hidup dan berdiri menjulang, dan setiap tumbuhan dalam berkembang dan bermetamorfosis memerlukan cahaya matahari sebagai penghangat dan pengatur pembuahan untuk menjaga kesetabilan klorofil.
Transportasi dan sarana, tidak akan ada Pasar Gede Bage yang berdiri diatas tanah, tanpa tanah itu sendiri, dengan bermacam-macam sarana dan transportasi, para penjual membawa jualannya menggunakan motor dari rumahnya atau tempat produksinya untuk sampai ke pasar, para pembeli tak sedikit menggunakan sarana transportasi angkutan umum untuk pergi ke pasar dan membawa hasil belanjaannya, menuju rumah serta sopir angkot mendapat bayaran dari jasanya untuk mencukupi perekonomian keluarga dan mempertahankan kehidupan keluarganya.
Dalam analisin ekosistem, lingkungan merupakan kesatuan dari dua komponen di atas tadi, yang dipadukan untuk melihat alur dan keterkaitannya masing-masing. Karena dalam ekosistem, tidak ada satupun komponen organisme yang sanggup melangsungkan hidupnya atas kekuatan sendiri tanpa mengandalkan kepada interaksi secara kait-mengait dengan lingkungannya2.
Salah satu kaidah ekosistem adalah, saat antara berbagai unsur dalam lingkungan seluruhnya terdpat suatu interaksi, slaing memengaruhi yang bersifat timbal balik (crucial interrelationship). Serta dalam ekosistem terjadi keseimbangan yang bersifat dinamis (berubah-ubah, kadang besar kadang kecil yang diakibatkan peristiwa alamiah atau karena ulah manusia) tidak statis.3

Pendekatan Analisis Sosiosistem
Menurut Rambo (1983) mengistilahkan hubungan antara sesama manusia dalam kajian ekologi disebut sistem sosial (sosiosistem) bukan ekosistem, sedangkan hubungan manusia dengan komponen lainnya disebut biosistem atau ekosistem. Selanjutnya, dlaam sosiosistem selain membentuk interaksi manusia dengan sesamanya, juga ada interaksi antara komponen lain yang mengalir arus energi, materi, dan informasi. Kajian ekologi manusia yang menyangkut pada hubungan antara manusia dengan sesamanya yang menggunakan kaidah-kaidah ekosistem misalnya adaotasi, komunikasi, resiliensi, interaksi dan sebagainya.4
Dari uraian pengertian Sosiosistem diatas, dapat kami analisis dengan objek observasi kami di Pasar gede Bage. Saat manusia dengan sesamanya saling memerlukan dan menguntungkan, ada objek ekosistem lain dibalik semua itu. Misalnya dalam kasus yang kami temui di Pasar Gede Bage. Antara penjual dan pembeli sendiri secara langung saling memengaruhi, dimana penjual diuntungkan oleh adanya pembeli, dan pembeli di mudahkan mendapatkan apa yang ia butuhkan dari penjual untuk mencukupi kebutuhannya.
Ketika adanya hubungan kausalitas atau timbal balik antara penjual dan pembeli, serta ada ekosistem lain didalamnya, menghasilkan pula hubungan antar manusia yang disebut interaksi, adaptasi dan sosialisasi. Jika seorang penjual dan pembeli tidak ada atau tidak menghasilkan interaksi, bukan transaksi namanya, dan bukan juga hubungan sosiosistem. Tawar menawar salah satu contoh interaksi, adaptasi dan sosialisasi.
Adaptasi manusia dengan sesama manusia misalnya dalam bentuk mengkonsumsi makanan pokok, mahasiswa yang lapar setelah selesai kuliah, mampir di rumah makan yang telah dihidangkan dan dimasak oleh pihak rumah makan, dan mahasiswa teresebut mengkomsumsi hasil kerja pihak rumah makan itu. Contoh lain misalanya dalam bentuk perlengkapan rumah tangga seperti perlengkapan dapur, kamar tidur, ruang tamu dan yang lainnya, mereka sama-sama beradaptasi. Dengan adaptasi seperti ini, maka ekosistem interaksi antara manusia dengan sesamanya berlangsung seimbang dan penuh komitmen dan juga integritas dalam ekosistemnya. Selain dari materi yang disebutkan diatas, manusia juga beradaptasi dengan sesamanya dalam bidang nonmateri seperti bahasa, adat istiadat, budaya dan kebiasaan lainnya. Jika kita pergi keluar negeri namun kita tidak bisa berbahasa mereka, maka anak sulit saling memahami dan mengerti, dan tidak akan terjadi adaptasi yang seimbang.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan
Dari uraian panjang diatas, dapat disimpulkan bahwa kawasan Pasar Gede Bage masih sangat minim perhatian dalam berbgai komponennya, salah satunya yakni pengarahan kepada para pedagang untuk meningkatkan mutu kualitas yang higienis, bersih dan rapi, kebersihan tempat dan kesehatan barang dan jasa yang di tawarkan, agar tidak berdampak pada sistem perekonomian yang lebih signifikan lagi.
Setelah kami jelaskan gambaran keadaan yang kami temui dilapangan saat penelitian, kami menyimpulakn bahwa penegetahuan sangat penting, apapun jenisnya, termasuk pengetahuan dalam memilih jenis makananan agar kita bisa hidup sehat, serta anggota keluarga kita terjaga, sehat dan tercukupi gizinya. Pastikan dan teliti jenis dan bentuk serta bau makanan yang akan dibeli, periksa dari bahan, bau, bentuk hingga kadarnya, agar tidak terjadi hal-hal negatif yang timbul ketika kita mengkonsumsinya.
Keteraturan, keindahan, dan kebersihan tempat menjadi daya tarik para konsumen untuk bisa meningkatkan daya mutu pembeli lebih banyak lagi, akibatnya tidak untuk orang lain, namun untuk para pedagang sendiri, bisa lebih efisiensi dalam berkerja, lebih ekonomis pula para pembeli. Sehingga tercipta keteraturan komponen manusia dengan lingkungannya (Ekosistem) juga integritas manusia dengan manusia yang lainnya (Sosiosistem).
Dan tidak hanya pasar ini saja yang peneliti temui, namun hampir di Bandung khususnya, setiap pasar tradisional selalu memberi kesan jorok, jijik, bau, dan sampahnya yang berserakan sangat tidak mengindahkan sekali. Sudahkah peran pemerintah ikut langsung dalam pemerdayaan sumber daya ini?
2. Saran
Sebagai sentral transaksi jual dan beli, dan juga sebagai tempat perekonomian yang sangat tinggi, pasar seharusnya menjanjikan dan memberikan kontribusi untuk para manusia, baik pembeli, pedagang, pengusaha, atau pemiliknya. Dengan gambaran pasar tradisional di Indonesia, maka masyarakat sekarang banyak beralih, lebih baik belanja ke supermarket, dengan keadaan infrastruktur yang lebih bersih, higienis dan terjangkau. Jadikanlah kenyataan ini sebagai proses pembangunan citra baru yang lebih baik dan lebih menjanjikan untuk kehidupan pasar kedepannya, karena di pasar tradisional terdapat kesemrawutan yang sangat kontras.

Catatan
1Islam dikenal dengan konsep perekonomian Nabi, sejak peradaban dahulu. Dimana untung tidak menjadi takaran yang di mutlakan. Nabi berdagang dengaan menyebutkkan harga aslinya.
2 Lihat Ekologi Manusia, Drs. Sofyan Anwar Mufid, M.s. hal 18.
3 Ibid.
4 Lihat Ekologi Manusia, Drs. Sofyan Anwar Mufid, M.S. hal : 180

DAFTAR PUSTAKA

Anwar Mufid Sofyan. Ekologi Manusia. Remaja Rosdakarya. Bandung : 2010
Moleong, Lexi J, Metode Penelitian Kualitatif, Bandung Remaja Rosdakarya, 2002
Media Research : http://www.http/pasargedebage.com
http://www.http.wikipedia.com
google.com
(diakses pada tanggal 07 April 2012)
Observasi Lapangan Langsung (Objek : Pasar Gede Bage Bandung. Pada Tanggal 30 Maret 2012)

1 Komentar (+add yours?)

  1. Teddy
    Jan 14, 2013 @ 16:30:03

    Ass… Teteh anu bageur. Syukur anda masih mau memperhatikan kondisi pasar kita yg merupakan masukan untuk sy pribadi juga. Sy kebetulan berminat untuk menekuti sampah ini dan akan mencoba mempelajari kasus2 yg terjadi kok sampah di bandung teh bet beuki numpuk wae. Tolong kalau ada masukkan2 agar disampaikan. Sy sangat perlu data2 tsb sebagai abhan pembanding karena kalau beberapa analisa saya bisa diterima, maka akan melibatkan banyak investor untuk pendaur ulangan nya.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: