Mutiara Hatiku

Ijab Qobulpun terdengar lugas di ucapkan oleh sepasang pengantin baru di malam hari yang berkah itu, mengapa tidak, akad nikah itu di langsungkan di bulan suci Ramadhan, setelah tarawih hari ke tujuh belas. Tidak ada aktifitas lainnya setelah ijab qobul dan sungkeman, resepsinya pun sangat sederhana. Sebatas di hadiri oleh keluarga dari kedua mempelai dan kerabat serta tetangga terdekat saja.
Bagi Pak Sholeh yang tak lain adalah mempelai Pria, jelas ini bukan pernikahan yang pertama kalinya, melainkan yang ke empat kalinya, setelah pernikahan pertama dan keduanya berakhir dengan perceraian, dan istri yang terakhir meninggal dunia empat tahun lalu. Sebelum akhirnya bertemu dengan Bu Irma yang berstatus janda yang juga mengalami gagal pernikahan selama dua kali. Dan bagi Bu Irma ini pernikahan ke tiganya.
“Nis…gak nyangka ya kita jadi adik kakak.” Ucap Fuji anak bungsu dari Pak Sholeh.
“iya kak, Anis senang sekali.” Ucap Anis penuh haru.
“Andre mana?” Tanya Fuji sambil melepaskan pelukannya. Anis sibuk lirik kanan dan kiri mencari sosok Andre, adik kecilnya yang berumur empat tahun.
Darrr…
Bluk …
Andre meloncat ke tengah-tengah Fuji dan Anis yang sedang duduk lesehan, tawa khas anak usia empat tahun itu terbahak lepas dari mulut Andre. Fuji dan Anispun merangkulnya penuh rasa sayang.
Fuji teringat pertemuannya dengan keluarga Bu Irma.
Waktu itu, Anis jadi korban tabrak lari di jalan yang menikung saat pulang sekolah. Fuji yang melihat jelas kejadian itu, segera menyuruh Ayahnya berhenti menjalankan angkotnya yang tanpa penumpang itu. Fuji dan Ayahnya segera menuju lokasi kejadian. Melihat seorang gadis putih siswa Madrasah Aliyah itu terkampar di jalan, dengan luka di pelipis kanannya, Fuji sungguh tidak tega melihatnya. Di bawanya Anis ke mobil angkot Ayahnya dengan bantuan warga yang ada, dan segera di larikan ke Rumah Sakit terdekat.
Ayah sibuk mengotak ngatik ponsel milik Anis, berusaha mencari nomor yang di rasa nomor keluarganya. Sesaat lamanya Ayah pun berhasil menghubungi keluarga Anis.
Tiga jam kemudian …
“tolong jelaskan bagaimana kejadiannya?” Tanya Bu Irma dengan tatapan penuh curiga.
Ayah Fuji pun menjelaskan semuanya dengan detail, setelah mengetahui kejadian sebenarnya Bu Irma meminta maaf karena telah su’udzon kepada Fuji dan Ayahnya.
Tiga hari setelah itu, Fuji mengantar Tante Tri pergi ke Rumah Sakit Harapan Baru untuk di Cek Up. Ketika tiba di Rumah Sakit, Fuji kaget bertemu dengan Bu Irma, dan yang paling mengagetkan, Bu Irma itu teman baik Tante Tri waktu di SMP dulu.
“kakak yang nolong Anis ya?” Tanya Anis ketika Fuji dan Tante Tri menjenguknya.
“kapan Dik Anis akan pulang?” tanya Fuji ramah.
“Insya Alloh sore ini.” Bu Irma yang menjawab mantap. Insthink Fuji bermain, ia menangkap sesuatu dari jawaban Bu Irma tadi.
“bagaimana keadaannya Dik Anis sekarang?” Tanya Tante Tri.
“Alhamdulillah baik Tante.” Sesaat lamanya, pintu kamar ruangan Anis terbuka, dan semuanya terhenyak kaget melihat siapa yang datang.
“Ayah!!!”
~###~
Sayup-sayup suara takbir mulai terdengar keras, lugas dan jelas di telinga. Ribuan bintang terhampar jelas di langit yang kelam, berkelap kelip seolah mengikuti takbir yang menggema-gema. Tiba saatnya hari dimana umat muslim begitu menantinya. Yah, besok hari Idul fitri.
Fuji menghampiri Bu Irma, Ibu Tirinya yang sangat ia cintai. Fuji menganggap Bu Irma sudah seperti Ibu kandungnya sendiri selamanya.
“Bu, belum tidur? Ayah kemana Bu?”
“Ayah tadi di minta Pak RW ikut warga yang takbiran ke kota.” Jawab Bu Irma Lirih, kerena menahan kantuk. “iya, bentar lagi Ibu tidur, ini tanggung jahitannya! Kamu sendiri kok belum tidur sayang?”
“Fuji gak bias tidur Bu.”
“Loh, kenapa? Sakit?”
“Engga sakit kok, Cuma…” Fuji menggantungkan ucapannya.
“Cuma apa?” sergah Bu Irma heran.
“Bu, boleh Fuji peluk Ibu?” Tukas Fuji ragu. Bu Irma menghernyitkan dahinya, lalu beranjak dari mesin jahitnya dan menghampiri Fuji dengan heran.
“Bu, apapun yang terjadi, Fuji ingin Ibu selalu sama Fuji, Fuji ingin terus sama Ibu, Fuji sayang banget Ibu, walaupun…” “sssttt…Ibu juga sayang Fuji.” Air mata menetes dalam peluk keduanya, sesaat isakan tangis itu mereda, keduanya melonggarkan pelukan sayang itu.
Tok..tok..tok .
Terdengar pintu rumah di ketuk, tiga orang ahli mesjid datang dengan ketegangan dan tatapan yang sulit di artikan.
~##~
Idul Fitri pun tiba, gemaan takbir terdengar rapi, tidak seperti ketika malam hari, yang tak begitu rapi terdengar, kerena pengeras suara dari sana sini. Terpancar kebahagiaan yang sulit di artikan bagi kaum muslim hari itu. Rombongan kaum hawa berbondong-bondong menuju mesjid dengan balutan mukenanya, begitu pula kaum adam, semilir wewangian tercium segar di pagi hari yang Fitri ini.
Tak begitu dengan Bu Irma juga Fuji. Tiga orang ahli mesjid semalam datang membawa kabar duka, mobil kol yang di bawa Pak Sholeh tergelincir dan tak terkendalikan, lalu mobil itu jatuh kedalam sungai yang dalam, tepat pukul tiga subuh jenazah empat orang baru bisa di temukan, dan Pak Sholeh salah satunya, dan tiga orang lagi masih dinyatakan hilang, sementara tujuh orang lagi selamat dengan luka ringan.
Tangisan dan deraian air mata tak henti-hentinya melanda keluarga korban.
“kan ku jaga satu-satunya warisan terindah, yang tak ternilai berapapun harganya, kan ku dekap dan ku jaga mutiara indah itu, Faujiyyah Nur Fitria, warisan terindah yang kau titipkan kapada ku, terima kasih Mas Sholeh.”
Gumam Bu Irma dalam hati saat Fuji memeluknya erat mengantar keperistirahatan terakhir Ayah yang di sayanginya.
“Impian itu telah aku raih, telah aku dapatkan dan kini, akan aku jaga pula ia sebagai figure yang akan terus bersama ku dan membimbing ku, Terima kasih Ayah, dan juga terima kasih Alloh, telah mempertemukan dan mempersatukan kami semua…”
Jerit Fuji dalam hati.
“Tak ada yang abadi di dunia ini, bahagia, sedih, risau semuanya akan ada batasnya. Setiap Insan akan mengalami kematian, meninggalkan alam dunia yang fana ini, dan menempuh alam yang kekal, yang kehidupnya akan di tentukan oleh setiap perbuatan Insan itu sendiri saat hidup di dunia. Jangan pernah lupakan hal itu!”
”~##~

Created by;
Via .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: