Autobiografi -> Pupu Pia Supiati / Annisa Nur Laila

Goresan tinta ini, tidak mampu menggambarkan jelas seluk beluk kehidupanku… namun goresan tinta pada kertas ini, cukup menjadi bukti dan saksi, kisah sejarah hidupku yang akan selalu dikenang…
Berawal dari sebuah perjuangan seorang Ibu rumah tangga, bernama Aan Hotimah, yang melahirkanku dengan segala kekuatan, keringat, tenaga dan letihnya. Aku diberi nama Pupu Pia Supiati, lahir di kota Bandung, 06 Agustus 1992. Ayahku bernama Carwita Solihin, beliau pensiunan guru. kami Alhamdulillah Muslim.

________________________________________
Season Kucel and the Kumel alias Kuleuheu (MI)
Ini tentang kisah hidupku…
Entah sejak kapan, aku sebagai wanita, tetapi kepribadianku tomboy, seingat aku, sejak dari SD (Sekolah Dasar), aku menyukai hal-hal simple, kepemimpinan, dan kemandirian. Terbukti dengan menjadi komandan di sekolah saat upacara-upacara, dan juga menjadi ketua saat di ekstrakulikuler Pramuka, belum lagi kesenangan bermain layangan, kelereng, dan futsal. Tetapi, dari sana pulalah aku mempunyai prinsip, untuk menjadi seseorang yang mandiri, tidak cengeng, tegar dan belajar disiplin, meskipun aku seorang perempuan dan juga sebagai anak bungsu. Aku anak ke empat dari empat bersaudara sekandung (se-ibu se-Apa), dan anak ketujuh dari total seluruh kakak yang berbeda orangtua, (dua se-Apa, dan dua se-ibu tetapi satu dari kakak se-ibu telah wafat.
Awal pertama masuk MI/SD, di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Huda Ciwaruga Bandung, saat itu aku tidak belajar di kelas, aku asyik sendiri bermain di lapangan, disana aku bermain rumah-rumahan yang dibentuk dari bekas tusuk sate, yang kemudian aku tusukkan kepada lumut-lumut benteng sekolahku. Maklum, saat itu aku belum genap berusia enam tahun, tetapi aku sudah ingin bersekolah dan memakai seragam merah putih, guru-guru pun membiarkanku tetap bermain, sedangkan yang lain fokus belajar.
Sekalipun aku tomboy, tapi saat aku kelas empat MI, disekolah mengadakan berbagai perlombaan dalam rangka Ibu Kartini, saat itu aku mengikuti lomba busana muslim, dan tidak disangka-sangka, aku juara satu. Haha… Ibuku tidak mempercayainya, tapi saat aku memberikan hadiahnya yang tertera tulisan Juara 1 Lomba Busana muslim, Ibuku percaya, sambil geleng-geleng kepala dan menahan tawanya.
Tumbuh dari keringat seorang Ayah, yang berpendidikan lebih tinggi dari Ibu, yang menjadikannya guru dan kepala sekolah di SDN Ciwaruga Dua, tiga puluh tahun yang lalu. Aku terbiasa menyebut kedua orang tuaku Apa, dan Mamah.
Apa, adalah seorang Ayah yang sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya, meskipun terkadang caranya keras, tetapi tujuan Apa hanya ingin membuat anak-anaknya berprestasi, membanggakan, sehingga masa depan anak-anaknya lebih baik.
Tetapi, cara keras Apa justru malah menimbulkan pemberontakan dari anak-anaknya, kakak laki-lakiku yang ke enam bernama Muksin, sejak SD sampai SMP nyaris tidak pernah mendapat nilai buruk, malah hanya satu kali mendapat peringkat empat di kelasnya, tetapi saat SMA, kakak berontak dengan selalu bolos sekolah, dan nyaris terjerumus minuman keras, hingga tidak dapat meneruskan sekolah menengah atasnya. Juga dengan kakak perempuanku yang ke lima bernama Dewi, ia mempunyai keberanian secara langsung menentang Apa karena tidak mau di atur, apa lagi jika sudah emosi, Apa selalu ingin memukul anaknya yang rewel, namun itu tidak terjadi, karena Mamah selalu bisa meluluhkan hati Apa.
Saat ini, di keluargaku hanya aku saja yang dapat mengenyam pendidikan hingga kuliah, yang sekarang kini aku belajar di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Kakak perempuanku yang ketiga bernama Iim, memang pernah kuliah, namun berhenti dan tidak melanjutkan perkuliahan lagi, etnah kenapa. Sedangkan dengan kakakku yang lainnya, hanya tamatan SMP saja, dan mereka kini bekerja sebagai pedagang.
Mamahku seorang Ibu rumah tangga yang menurutku sangat mandiri, ia mempunyai keahlian dalam menjahit pakaian, membuat kue bolu dan berbagai macam kue lainnya, sehingga tidak hanya mengandalkan uang dari Apa saja. Sejak dahulu, Mamah selalu giat dalam bekerja, baik itu menjahit, ataupun berdagang.
Saat aku masuk MI, aku tidak mau di antarkan Mamah ataupun Apa, karena begitu inginnya aku sekolah dan memakai atribut sekolah, dan memang pada dasarnya tidak dimanja, jadi hari pertama masuk MI aku pergi sendirian, sedangkan di sekolah banyak teman-temanku yang diantar orang tuanya.
Aku pernah menjuarai lomba PBB (Peraturan Baris ber Baris) ekstrakulikuler Pramuka saat kelas empat di Cihanjuang Cimahi (Jinjirigil), saat itu pasukanku bernama Sun Flower mendapat juara Favorit ke Satu. Darisanalah aku menyadari, ada sedikitnya pengaruh pembentukan karakter aku, karena mengikuti ekstrakulikuler Pramuka tersebut.

Masih Season Kuleuheu tapi sedikit berubah (MTs)
Jenjang Menengah Pertama, aku masuk ke MTsS Al-Inayah Kota Bandung, saat itu aku pernah mengikuti ekstrakulikuler Pencak Silat, Pramuka, dan aktif pula di OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah). Saat itu pula aku pernah menjuarai lomba pidato se-sekolah sebagai juara ke 2, juga menjuarai lomba Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) se-sekolah sebagai juara pertama, di lain tempat, saat ini pulalah aku menekuni kegiatan seni Qasyidah di madrasah tempat mengajiku di desa.
Terlepas dari pengalaman organisasi dan prestasi tersebut, pada jenjang ini pulalah aku mulai berubah kepribadian, sesaat setelah kepergiannya Mamah kepada Sang Pencipta, tepatnya pada tanggal 07 April tahun 2007 jam 21.00 WIB, sirine Ambulance masih begitu mengiang ditelingaku hingga kini, serangan jantung telah merenggut nyawa Mamah hari itu. Bumipun menangis, anginpun menusuk tulang sendiku, akupun nyaris tak mampu berdiri.
Sore itu, kala angin berhembus kencang menerbangkan helaian daun yang kering berguguran
larian kaki anak yang baru menginjak remaja itu
begitu menggebu
dikepalnya sebuah trophy berwarna emas menyala
seorang anak remaja dengan seragam putih-biru
dan kerudung putih menggendong tas di punggungnya
ia berlari dengan senyum mekar di pipinya
ia berlari dengan ceria dimatanya
sesampainya dirumah
ia dapatkan keadaan rumah yang tak berpenghuni
rasa kecewa jelas terlihat di wajahnya yang putih bulat
ia letakan trophy tersebut di meja ruang tamu rumah
kekecewaan itu berlanjut hingga malam tiba
saat adzan maghrib berkumandang ia baru mengetahui sang ibu sedang dirawat
dengan hati yang kecewa, gundah, gelisah, anak remaja itu merengek ingin pergi kerumah sakit untuk bertemu Ibunya
tepat pukul 21.00 saat anak remaja itu selesai mengaji
ia bergegas berpakaian untuk ikut sang kakak ke rumah sakit
namun, langkahnya terhenti saat ponsel kakaknya bordering
dan sang kakak dengan suara keras terkejut mengucap kata “Innalillahi wa Innailaihi Raaji’un”.
Eeh, tujuh bulan sebelum Mamahku meninggalkan dunia yang fana dan penuh dengan cobaan, godaan, kenikmatan, kebahagiaan, kesusahan, kesukaan..(hmmm… apa lagi ya?) ya intinya sebelum beliau meninggal dunia, aku punya ponakan baru neeh.. namanya Salma Fauziyyah Nurfitria. Aku yang nyumbangin nama belakangnya “Nurfitria” tuh fotonya, kagak mirip kan? Iya laahhh… hha

Meski dengan telah tiadanya Mamah disisiku, aku tetap semangat untuk sekolah, aku tetap termotivasi untuk menunjukan, bahwa aku mampu tegar dengan segala kenyataan pahit yang ada, aku mampu bangkit dengan segala kerapuhan, dan aku bisa ikhlas dengan segala keadaan yang begitu cepat berubah ini. Menjadi dewasa adalah pilihanku.

Melupakan season Kuleuheu menuju Cool (MA)

Hari-hari terlewati, tanpa Ibu disisi, memang terasa begitu sepi, terlarut dalam sepi, taka da yang menemani, aku disini bersama sunyi.. (gimana kata-katanya? Muantebb bangett kaann? Aku gitu loch..hehehehe)
Season ini, aku udah gak kucel and the kumel lagi, eh bay the way, apa sih itu Kucel and the Kumel? Neeh aku terangin dulu yoo.. Kucel itu yaa biasa kalau anak-anak, ingus kemana-mana sayang kalau di lap, haha.. udah gitu di lapnya ga pake kain, malah pake kepalan tangan, eeh lama kelamaan tuh ingus kering dech, jadinya di deket idung tergores tuh asap pesawat apolo. Hahay..
Nah, kalau “and the”, itu sih bahasa inggris, yaa bisa semacam “dan” artinya, kalau “the”??…???…??? kumel, itu artinya gak jauh beda ama nasibnya ingus jadi kayak asap pesawat polo, haha… cuman biasanya kalau kumel itu identik ke baju (Kata siapa yaaa???), baju yang udah lusuh, ditambah kotor abis main lumpur, udah gitu bau terik matahari lagi alias bau ayam, udah dehh gak karuan si aku dulu. Hahaha… (sssttt… sekarang udah jauh berbeda…hahaha… cantik booo…)
Ini dia season Cool…
Pesonaku tidak ada duanya mungkin ya, (yaa… mungkin aja..) masih merasakan kesepian, malah di season ini ditambah kekecewaan yang membuat hidupku berubah drastis, gak perlu gravitasi bumi loh! (‘???)
Tubuh proporsional, berjilbab pula, aktif di berbagai kegiatan di sekolah, menjadi Ketua Murid, bahkan menjadi Wakil Ketua Osis, menjadi Kakak kelas teramah, teraktif, prestasi sepuluh besar, pernah ikut pula kontes Jingle Dare Indomie Seleraku, dan mempunyai banyak fans. (udah sebanding belom sama Brithney Spears??? Hahahahaa…).
Sebetulnya, saat di season ini aku lebih suka di sekolah, banyak teman, banyak hiburan, dari para dirumah, banyak masalah, bête, dan ngebosenin banget, pasalnya ya, Apa itu nikah lagi donk!!! Belum juga 2 bulan Mamah meninggal, Apa udah nikah lagi… duaaarrrrrr….
Yo wes lah, aku gak mau mengungkit hal yang sudah aku kubur dalam-dalam. Hahay…
Kembali kepada Cool. Cool itu bahasa inggris, artinya dingin, dingin disini bukan suhu badan akunya, tapi sifatnya, kan kayak kebanyakan perempuan, mereka menyukai fashion, make up, suka menjerit, rameee gitu. Tapi justru aku sebaliknya (haha.. PD banget ya?) aku lebih menyukai hal simple (kan pada dasarnya aku tomboy, masih inget kan di season Kucel and the Kumel?) lalu, aku juga menyukai otomotif, seneng music klasik, puisi, dan sebagainya deh..
Cool adalah karakter yang aku pilih, sebetulnya Cool itu awalnya sebuah nama yang aku berikan pada sifat Almarhumah Mamahku, karena beliau beda dari yang lain, gak panasan, gak riweuh, pokoknya berwibawa gitu deh…
Eh, saat di season ini, aku punya dua sahabat yang sangat asyik.. dia adalah Mhot (Nurrisma Mulasari) dan Lhy (Tely Nurjannah) kita bertiga membentuk sebuah persahabatan yang dinamakan The Butterflys. Hehe..
Banyak orang yang bilang, saat SMA adalah saat-saat yang paling seruuu… memang betul banget menurut aku mah, eits… tapi ada sebuah perbedaan yang sangat berarti lho di season ini. Pada saat itu, saat dimana aku masih selalu menangis kala mengingat Mamah, bagaimana tidak dong? Mamah sudah seperti sahabat buat aku, aku deket sama siapa, pacaran sama siapa, selalu aku bercerita sama Mamah, batapa sulit aku lepas dari bayangannya saat itu, beliau selalu ada di pelupuk mataku, ahh Ibu…
Wokehh.. terlepas dari itu semua, saat ini kepribadianku berubah, aku memutuskan untuk tidak pacaran!!! Duaarrrr!!! Mungkin disaat ini aku dapet hidayah kali yaa.. hehe, tapi memang bener, istiqomah itu susaahhh banget. Bagiku, pacaran itu nyari masalah, bagaimana tidak? Seluruh waktu kita harus diatur, diatur sama yang bukan muhrim, udah gitu kemana-mana harus bilang dulu, dan yang paling rishi tuh ya selaluuu banyak masalah, nah berangkat dari pengalaman tersebutlah aku putuskan untuk tidak pacaran, jadi langsung aja ta’arufan dan nikah deh. Hehe…
Saat keputusan ini aku ambil ngedadak, banyak banget penolakan dari temen-temen, sehingga banyak temen-temen yang menjauh dari aku, alasannya gak asyik katanya, kamu berubah sekarang. Tapi karena itu sudah menjadi prinsip aku, akhirnya aku menjadi pribadi yang agak tertutup, namun darisanalah aku jadi lebih mandiri, aku belajar habis-habisan dan akhirnya aku bisa rangking 7 dari 38 siswa di kelas regular. Alhamdulillah…
Perpisahan, adalah sebuah kata yang kebanyakan orang tak ingin berada di posisi tersebut, perpisahan biasanya selalu ada air mata, namun perpisahan menjadi sebuah keharusan di dunia yang fana ini, karena semuanya akan kembali kepada hakikat asalnya, dan manusia pada dasarnya adalah sendiri. Perpisahan…
Siapa sih ya yang mau dipisahin sama seseorang yang sayang pada kita? Manusiawi kalau kita memang tidak ingin dipisahkan dengan seseorang atau sesuatu yang kita sayangi. Yah, tapi kenyataanlah yang akhirnya harus membuat kita sanggup menghadapinya, begitupun dengan Perpisahan saat di SMA lalu, begitu menguras airmata, serasa tidak aka nada lagi hari-hari yang indah untuk dilewati.
Perpisahan di MA Al-Inayah inilah, awal aku memulai sebuah kompetisi yang lebih sulit, tantangan hidup yang lebih rumit, dan terkadang kenyataan hidup yang pahit. Tetapi, dari hal itulah kita menjadi individu yang semakin kuat, dewasa, tegar, dan mandiri. Perpisahan adalah ujian, kesedihannya adalah proses, dan hari indah, adalah hasilnya. Aku yakin, Allah memberi rencana indah atas semua itu. Yes..

Berada di Season Cool (Kuliah)

Pada awalnya begitu rumit, sudah berpisah dengan teman-teman di MA, orang tua memaksaku harus kuliah di UPI atau ITB, tetapi aku tertinggal jalur masuk Universitas Negeri (PMDK), yah.. jadinya ikut SNMPTN deh…
Memang bukan pilihan pertama sih masuk UIN Bandung, memilih ini pun tanpa sepengetahuan orang tua, eh… ternyata Lulusnya disini. Aku kira, Apa akan mendukung penuh kelulusan ini, ternyata Apa kurang setuju dengan alasan jauh dari rumah, tetapi bagaimana lagi? Saat itu jalur tersebut adalah jalur terakhir masuk Perguruan Tinggi Negeri, dengan mencoba untuk berbesar hati, akhirnya Apa pun memberikan dukungan untuk aku berkuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunana Gunung Djati Bandung ini. Sebuah awal yang cukup menggalaukan suasana hati., cie…cie…hahay…
Inilah saat dimana aku tidak bisa lagi bermanja-manja dengan keadaan, disinilah awal mula aku harus bisa bersikap dewasa dan cermat. Sedikit menegangkan, namun di nikmati aja… come one, lets see in the my season… (ngacapruk… :-D)
Ujung Barat dan Ujung Timur, itulah keadaan antara rumah dengan kampus UIN ini, meskipun masih dalam satu Kota, yaitu Bandung tercinta, yang kini tidak layak lagi di sebut kota kembang, ataupun kota sejuk. (mirisss…). Jarak tempuh dengan mengendarai motor pun selama satu jam, Kota yang kini tidak rapih lagi, semrawut dengan kemacetan.
Refleksi sebentar, sebenarnya apa sih yang membuat Bandung berubah drastis seperti ini? Apakah Bandung sedang galau waktu itu? Jadi dia berubah! Hmmm… kalau boleh jujur, memang bangga juga sih saya selaku pribumi, dengan berbagai Prestasi Bandung, dalam aspek Pariwisatanya, (secaraaa dooonk… tukang maen. :-D), eitsss… balik lagi ke Topik coyy…
Wokehh, selain bangga dengan Pariwisatanya, juga bangga dengan potensi alam, yukk aku ajak jalan-jalan ke Lembang, daerah Bandung Utara yang sejuk semriwing, sepoi-sepoi angin, hamparan kebun yang luas, dan Kawah Ratu Tangkuban Perahu yang mempesona. Disebelah Selatan, kita kenal daerah Pangalengan, tidak jauh beda dengan Lembang, juga Goa Pawon, di Bandung Barat, dan Curug Cindulang di Timur. Dan banyak lagi…
Sayang sekali, pesona Bandung dimata Nasional, seperti sebuah magnet yang menarik wisatawan untuk berkunjung ke Bandung, dan dampak banyaknya wisatawan tersebut, kini baru terasa begitu mengesalkan, tentunya tidak bagi para investor di bidang pariwisata.
Jalanan kita dipadati plat luar Bandung, sehingga dimana-mana macet, apalagi kalau weekend, udara Bandung tercemar, berpolusi dan panas menyengat, hijau-hijau rimba mengurang, akibat dibangunnya villa-villa dan perumahan elit, yang paling parah lagi… lautan sampah yang menggelora, yang membuat Bandung tercemar. Kalau kayak gini jadinya, dari dulu aku mau nawar aja deh supaya lahirnya di Brunei ajah, jangan di Indonesia. (haha… Mimpi!)

Sebagai anak asli orang Bandung, aku merasa asing di Kota sendiri. Sebetulnya, diam-diam aku punya rekomendasi solusi sih buat Bandung agar tidak terlalu semrawut. Solusinya :
– Sediakan transportasi khusus untuk Pariwisata di Kota Bandung, sehingga mobil Pribadi luar kota dilarang masuk ke Bandung. Hehe
– Segala bentuk kampanye, gak usah pake baliho, pamphlet, stiker, spanduk, itu sampahnya dikemanain coba? Di iklanin aja atuh di Televisi-televisi Bandung, biar lebih efisien, memajukan industri TV, juga jalanan jadi indah. Betul tidakk???
– Jangan terlalu banyak merekrut tenaga kerja dari luar Bandung, di Bandung sendiri yang pengangguran tuh ribuan, dan banyak juga pengangguran di usia produktif, harus lebih jeli… (udah rada serius nih, maklum awal-awal jadi mahasiswa. Hhahaha…)
– Coba deh kita saling menyadari (khususnya warga Bandung) akan sebuah Revitalisasi atau Renewell, (nama makhluk apa tuh yaa??) hha ini sebuah upaya peremajaan kota cuy, jadi tata ruang kota tuh harus sesuai peruntukannya, misalnya, wilayah yang seharusnya jadi pemukiman warga (Dago) malah jadi Factory Outlet, sebaliknya, wilayah yang seharusnya Outlet (pusat belanja) dijadikan tempat pemukiman, mingkin kayak di daerah sekitar Pasar Baru Bandung. Sebetulnya masih banyak sih rekomendasi, tapi 5 hal diatas cukup mewakili. Hehehe…
Back to topic, Kuliah, Jurusan Sosiologi UIN Bandung, pada awalnya terbesit dalam pikiranku, kuliah itu serius, rumit, stress, dan lainnya deh, tetapi, kenyataannya tidak seperti itu, kuliah menurutku benar-benar kita menggunakan anugerah yang paling berharga yang Allah berikan, yaitu akal pikiran. Dengan kuliah, kita bisa memaksimalkan kelebihan kita itu, jauh dari sebelumnya, saat sekolah SD, SMP, dan SMA.
Jika saat sekolah kita hanya menerima saja pelajaran dari guru (disuapi) nah, di kuliah, kita belajar menjadi “guru”, artinya kita harus bisa mencari, kreatif, dan konsisten. Pada kenyataannya, semua itu tidak rumit kok, jadi jangan ada alasan lagi untuk tidak kuliah. (yaa kecuali masalah ekonomi. Pendidikan sekarang muahhall booo…).
Sensasi yang berbeda dengan tingkat sekolah dulu, membuat aku greget untuk bisa berbicara di depan orang banyak, bagaimana tidak? Keaktifan kita diukur oleh Dosen, dan keaktifan itu poin yang sangat besar, 75% cuy, kebayang kan kalau selama kuliah kita hanya jadi pendengar saja, diem, tanpa suara, (jangan-jangan dianggap gak ada lagi sama teman-teman. Haha..)
Kuliah sambil ngajar/bekerja? Why not! Saat lulus MA dan baru empat bulan kuliah, aku dipanggil guru Kesiswaan dulu di MA aku, setelah aku menemuinya di MA Al-Inayah, aku ditawarin jadi Pembina Pramuka Putri, awalnya aku menolak, karena pengalaman Pramuka aku hanya sampai MTs aja, tetapi karena dukungan banyak pihak, akhirnya saya menyanggupinya.
Menjadi Pembina Pramuka Putri di Usia 19 tahun, bukan hal yang mudah, apa lagi peraturan Pramuka harusnya Pembina Putri itu berumur minimal 23 Tahun, atau di bawahnya tetapi sudah menikah. Jadi, aku illegal donk ya? Tetapi, aku mendapat rekomendasi dan izin dari Ketua Kwarcab Kota Bandung. Cie….
Dengan aktifitas ganda, aku menjalaninya dengan ikhlas, selain untuk membantu biaya sehari-hari, juga yang paling penting adalah pengalaman, karena menjadi seorang pengajar itu gak mudah looh… selain kita harus lebih tahu, kita juga harus lebih teliti agar apa yang kita sampaikan tidak salah, yaa kalau lupa sih wajar! Hehe ..
Sudah enam bulan yang lalu aku berhenti bekerja, alasannya simple sih, ingin foKus kuliah. Weiiisss…. Soalnya, perkuliahan menuju finnish itu kan membutuhkan konsentrasi yang penuh, oleh sebab itulah aku memutuskan untuk berhenti bekerja sementara waktu, kalau udah lulus kan nanti kerja lagi. Week..
Menjadi seorang Kosma (Komisaris Mahasiswa), membuatku tak bisa tidur tenang, apalagi kalau sedang musim tugas membanjiri, hapeku selalu saja bordering, yahh… menjadi Ketua dari sebuah kelas memang sudah menjadi agendaku, sejak MI, MTs, MA, dan kini Kuliahpun aku tetap dipilih menjadi Ketua di kelas. Ya Alhamdulillah sih dipercaya sama teman-teman, tapi jujur, untuk di kampus itu sangat mengusik sekali jabatan ini, akhir semester enam ini, akan kulelang jabatanku ini. Hahaha…
Inilah akhir cerita sampai semester 6 ini… tiga hari lagi menjelang UAS nih, dan masuk ke semester 7, semoga 10 mata kuliah aku Lulus semua yaah… amien.. mau tau ceritaku selanjutnya di semester 7 dan season lainnya? Apa lagi season WOWW (Lulus Kuliah)? Nantikan kisahku yang lainnya yaah… see u next time .

Bersamamu, Bintang. :: ANL-20-06-2011. 18:15 WIB. ::

ada satu bintang
sinarnya paling terang
ia seolah berkedip padaku
mengajakku menari
berdansa
tersenyum
juga menemani sepi, sedih, dan tangisku
kala ia hilang
aku selalu resah
‘kemana sih kamu?’
dia jawab:
‘aku selalu ada, aku selalu melihatmu
hanya saja terkadang awan hitam menutupiku
namun, aku selalu ada dalam siang dan malam
tak pernah hilang
tak pernah pergi..’
itu membuatku tenang.
‘bintang, aku ingin bersamamu disana
aku ingin melihat dunia dari tempatmu’
namun ia jawab:
‘tidak sayang, kau lebih baik disana
dibumi pertiwi
ada banyak orang yang membutuhkanmu.’
‘tapi,, aku butuh km terus
saat km tak nampak
saat siang hari, aku hanya mau kau slalu ada’
namun bintang jawab:
‘ku tak lebih baik darimu sayang,
apa yang terjadi pada senyum mereka
senyum orang2 disekitarmu
kala km lenyap,
kala km tiada dalam pandangan mereka
tapi aku selalu memandangmu
dan kamu tetap ada untukku.’
________________________________________

All About Me
Pupu Pia Supiati, terlahir sebagai perempuan pada tanggal 06 Agustus 1992, di Kampung Cicarita Desa Ciwaruga, Kec. Parongpong Bandung. Ia mempunyai nama pena : Annisa Nur Laila.
Anak bungsu dari 7 bersaudara ini, dikenal sebagai Pia yang tomboy, tetapi setelah dewasa ketomboyan itu hilang perlahan.
Dilahirkan dari seorang Ibu bernama Aan Hotimah (Almh) dan Ayah bernama Carwita Solihin, saat ini sedang menempuh kuliah sarjananya semester 6 di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, jurusan Sosiologi. Dan menjadi satu-satunya anak di keluarga kecilku yang menempuh pendidikan hingga di bangku kuliah saat ini.
Menempuh sekolah dasar di MI Nurul Huda Ciwaruga Bandung Barat (2004), berlanjut di MTs Al-Inayah (2007), dan MA Al-Inayah (2010).
Kesukaan dan kegemaran pada seni, sangat melekat dari kecil, seperti pernah menjuarai lomba busana muslim se-MI pada perayaan Hari Kartini, juga aktif sebagai Ketua Kelas selama di MI, menjadi Ketua Pramuka di MI juga.
Berlanjut menggemari tarik suara, menjadi seorang vokalis band kepret alias Qasyidah grup Annisa di kampung halamanku. Pada tingkat MA juga pernah mengikuti lomba Jingle Dare Indomie tahun 2009, dan mempunyai Band bernama The Castle Band, dan kini sedang menggemari sastra, diantaranya adalah puisi, lirik lagu dan cerpen, semua di posting di website pribadi : http://www.annisanurlaila.wordpress.com.
Pernah bekerja sebagai asisten guru mata pelajaran Sosiologi di MA Al-Inayah, juga dinobatkan menjadi Pembina Pramuka di MA yang sama sejak tahun 2010 sampai 2012.
Motto dalam hidupnya : Berkaryalah dengan segala kemampuan yang ada, karena dengan karya kita bisa menjadi legenda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: