Analisis Teori Konflik dalam Pembangunan

Tugas Mata Kuliah Sosiologi Pembangunan

Nama : Pupu Pia Supiati
Kelas : Sosiologi C/VI

Analisis Teori Konflik dalam Pembangunan
Ralp Dahrendorf tidak menjelaskan secara normatif atau secara etimology dan terminology apa itu definisi konflik. Secara kasat mata, konflik menurut Dahrendorf sama saja yaitu sebuah kesenjangan, ketidak puasan antara apa yang di inginkan dengan kenyataannya. Dahrendorf merumuskan konflik pada masyarakat dengan menekankan pada struktur yang ada di masyarakat itu sendiri. Dalam karyanya yang berjudul Class and Class Conflict In Industrial Society, Dahrendorf melibatkan kaum Borjuis dan Proletar sebagai penelitiannya, dari proposisinya “semakin rendah korelasi antara kedudukan kekuasaan dan aspek-aspek status social ekonomi lainnya, maka semakin rendah intensitas pertentangan kelas, dan sebaliknya” (1959:216). Dari proposisinya, menurut Dahrendorf kelompok-kelompok Borju atau kelompok-kelompok yang status ekonominya relatif tinggi memiliki potensi rendah dalam konflik yang keras dengan struktur kekuasaan berbeda dengan kelompok-kelompok yang terbuang dari status social ekonomi tinggi dan kekuasaan/kedudukan.
Bagi Dahrendorf, konflik adalah hal yang wajar di masyarakat, apa lagi di zaman modern ini. Karena menurutnya konflik dapat menghasilkan perubahan, yang cenderung dibawa oleh kelompok masyarakat kelas menengah. Selain itu juga, dalam masyarakat modern, modal tidak hanya dimiliki oleh pemilik modal saja, tapi siapapun bisa menjadi pemilik modal. Karena menurut Dahrendorf, masyarakat memiliki dua sisi ganda dimana kerjasama dan potensi konflik ibarat sebuah dua mata uang, keduanya adalah perspektif untuk menganalisa fenomena social.
Safety Valve, adalah katup penyelamat yang di istilahkan oleh Lewis Cosser dalam teori Fungsionalisme Konflik. Katup penyelamat ini ibarat sebuah wadah dalam masyarakat guna untuk mempertahankan kelompok dari kemungkinan konflik social, didalamnya membiarkan luapan-luapan permusuhan secara terbuka, agar tersalur tanpa menghancurkan seluruh struktur. Safety Valve berupa Badan perwakilan mahasiswa, atau lembaga social yang menangani konflik di masyarakat, atau menurut istilah Merton adalah Reference Group : sebagai pengendali/kelompok yang mengingatkan.
Konflik realitas dan konflik non realitas. Adalah buah pemikiran dari Lewis cosser. Menurut cosser dari asumsinya safety valve konflik realitas adalah potensi konflik yang terjadi karena ada rasa kekecewaan, kesenjangan dan ketidak puasan terhadap tuntutan tertentu. Misalnya bentuk demonstrasi mahasiswa, buruh, dll. Sedangkan konflik non realitas adalah konflik yang”bukan beraasal dari tujuan-tujuan saingan yang antagonis, tetapi dari kebutuhan untuk meredakan ketegangan, paling tidak dari slah satu pihak. Misalnya, pada masyarakat buta huruf atau terbelakang, pembalasan dendam lewat ilmu gaib, yang merupakan konflik non realitas, atau berupa pengkambinghitaman dari dua kubu yang berpotensi konflik.
Analisis
Dalam ranah Pembangunan, konflik selalu muncul baik sebelum terjadinya pembangunan, sedang berlangsung pembangunan, dan setelahnya. Pada intinya, pembangunan ada untuk menyelesaikan masalah atau konflik. Banyak yang menjadikan pembangunan menjadi salah satu solusi untuk memecahkan konflik. Dengan pembangungan, diharapkan konflik terselesaikan, meskipun setelahnya akan muncul konflik baru, itu hal wajar.

Pembangunan tidak harus identik dengan hal-hal materil, seperti gedung-gedung, café, ruko, dan lainnya. Pembangunan juga bisa berupa hal-hal non materil, misalnya kegiatan, penanganan, dan lainnya. Dalam sebuah pembangunan, dapat dikatakan pembangunan ada ketika persoalan itu ada. Contoh pembangunan materilnya : Pembangunan Rusun di Jakarta, Pembangunan tersebut dilangsungkan ketika konflik kemiskinan sedang merajalela, pembangunan dilakukan untuk membebaskan sengketa mengenai rumah-rumah warga yng tidak layak huni, yang sebagian besar rumahnya terletak dipinggiran sungai, laut, atau rel kereta api yang mengancam keselamatan mereka.
Pembangunan berupa non materil misalnya diadakannya Karang Taurna pada sebuah masyarakat, Karang Taruna bisa merupakan wujud non meteril dari Pembangunan, Trang Taruna dibentuk untuk mengadakan kegiatan di dalam kemasyarakatan, membangun integritas masyarakat, dan meminimalisir terjadinya konflik yang notabene dilakukan oleh para remaja.
Dewasa ini, konflik dan pembangunan sangat identik, karena keduanya adalah sebab dan akibat (hubungan kausalitas) yang terjadi di dalam kemasyarakatan secara luas. Pembangunan dan konflik tidak hanya identik dengan wilayah kota, atau kemajuan peradaban, dalam wilayah desa, pembangunan juga tidak kalah identiknya, karena saat ini, saat era globalisasi, penyampaian informasi sudah mulai meluas, dan secara langsung maupaun tidak langsung, globalisasi itu sendiri adalah pembangunan.
Jadi, disamping konflik itu sendiri adalah sebuah keadaan atau hal yang negatif dan dis fungsi, tetapi konflik juga mempunyai manfaatnya tersendiri, baik sebagai penguat antara yang berkonflik, sehingga terjadinya integrasi yang semakin erat, memfungsikan elemen-elemen masyarakat sebagi pihak ketiga, menguatkan kembali identitas-identitas kelompok (jika konflik antar kelompok), dan yang lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: