Makalah Peter L. Berger

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Peter Ludwig Berger dikenal luas karena pandangannya bahwa realitas sosial adalah suatu bentuk dari kesadaran. Karya-karya Berger memusatkan perhatian pada hubungan antara masyarakat dengan individu. Di dalam bukunya The Social Construction of Reality, Berger bersama Thomas Luckmann, mengembangkan sebuah teori sosiologis: ‘Masyarakat sebagai Realitas Objektif dan Realitas Subjektif’.1 Analisisnya tentang masyarakat sebagai realitas subjektif menjelaskan proses dimana konsepsi seorang individu tentang realitas dihasilkan dari interaksinya dengan masyarakat. Ia berbicara tentang bagaimana konsep-konsep atau penemuan-penemuan baru manusia menjadi bagian dari realitas manusia itu sendiri secara berkelanjutan, yang disebutnya sebagai proses obyektivasi. Dalam proses selanjutnya, realitas ini tidak lagi dianggap sebagai ciptaan manusia melalui proses, yang oleh Berger disebut sebagai internalisasi.
Indonesia hari ini adalah Indonesia tanpa sosiologi, dimana dimensi politik telah mengalami distorsi dalam ranah demokrasi yang juga tinggal sebagai barang antik dikala modernitas semakin tampil sebagai sosok yang ingin menjadi benteng kebebasan individu. Dalam situasi negeri yang amat mencemaskan ini, saat ilmu sosial menjadi begitu meng-angka atau sebaliknya membatin, maka lahirnya sebuah buku yang memerikan perspektif metateori pemikiran Peter L. Berger, menjadi sebuah oase yang memberikan sentuhan aroma kesejukan. Dalam tangan Berger, ilmu social telah dikembalikan pada induknya, yaitu filsafat.
Dari uraian diatas, penulis kemas makalah ini kedalam sebuah judul : Sintesa Strukturalisme dan Interaksionalisme Berger, Relevansinya dengan Perubahan Sosial. Yang berikut akan kami paparkan dalam Pembahasan.

1.2 Rumusan Masalah
Dari uraian diatas dapat dispesifikasikan dalam bentuk rumusan masalah sebagai berikut :
1.2.1 Bagaimana biografi Peter Ludwig Berger?
1.2.2 Bagaimana penjelasan teori dari Peter Ludwig Berger?
1.2.3 Bagaimana relevansinya teori konstruksi Berger dengan perubahan sosial?

1.3 Tujuan Makalah
Adapun tujuan makalah yang kami buat ialah ;
1.3.1 Untuk mengetahui biografi dan latar belakang lahirnya teori sosiologi Berger.
1.3.2 Untuk memahami asumsi-asumsi Berger
1.3.3 Untuk mengetahui dan memahami sejauhmana relavansinya teori Berger dengan Perubahan Sosial.

1.4 Metode Penulisan
Data yang penulis butuhkan dan bubuhkan dalam pembahasan ini adalah menggunakan metode dokumen.

1.5 Kegunaan Penulisan
1.5.1 Bagi Penulis
Dengan adanya pembahasan ini, penulis dapat memenuhi tugas mata kuliah Perubahan Sosial dan menambah wawasan mengenai Pemikiran Berger dan relevansinya dengan Perubahan Sosial.
1.5.2 Bagi Pembaca
Dengan adanya pembahasan ini pembaca akan mendapatkan penjelasan dan menambah pengetahuan mengenai Pemikiran Berger dan relevansinya dengan Perubahan Sosial.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Biografi dan Latar Belakang Lahirnya Teori dari Peter Ludwig berger
2Berger dilahirkan di Vienna, Austria, kemudian dibesarkan di Wina dan kemudian beremigrasi ke Amerika Serikat tak lama setelah Perang Dunia II. Pada 1949 ia lulus dari Wagner Collage dengan gelar Bachelor of Arts. Ia melanjutkan studinya di New School for Social Research di New York (M.A. pada 1950, Ph.D. pada 1952).
Pada 1955 dan 1956 ia bekerja di Evangelische Akademie di Bad Boll, Jerman. Dari 1956 hingga 1958 Berger menjadi profesor muda di Universitas North Carolina; dari 1958 hingga 1963 ia menjadi profesor madya di Seminari Teologi Hartford. Tonggak-tonggak kariernya yang berikutnya adalah jabatan sebagai profesor di New School for Social Research, Universitas Rutgers, dan Boston College. Sejak 1981 Berger menjadi Profesor Sosiologi dan Teologi di Universias Boston, dan sejak 1985 juga menjadi direktur dari Institut Studi Kebudayaan Ekonomi, yang beberapa tahun lalu berubah menjadi Institut Kebudayaan, Agama, dan Masalah Dunia.
Karya-karyanya
Tulisan-tulisan sosiologis Berger yang berpengaruh antara lain adalah:
• Invitation to Sociology: A Humanistic Perspective (1963) (bahasa Indonesia: Humanisme Sosiologi, Inti Sarana Aksara, Jakarta, 1985)
• The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge (1966, dengan Thomas Luckmann) (bahasa Indonesia: Tafsir Sosial atas Kenyataan Risalah tentang Sosiologi Pengetahuan, LP3ES, Jakarta, 1990)
• The Sacred Canopy: Elements of a Sociological Theory of Religion (1967) (bahasa Indonesia: Langit Suci Agama sebagai Realitas Sosial, LP3ES, Jakarta, 1991)
• A Rumor of Angels: Modern Society and the Rediscovery of the Supernatural, 1970 (bahasa Indonesia: Kabar Angin Dari Langit: Makna Teologi dalam Masyarakat Modern, LP3ES, Jakarta, 1991)
Kini ia menulis tentang sosiologi agama dan kapitalisme:
• The Capitalist Spirit: Toward a Religious Ethic of Wealth Creation (editor, 1990).
• Peter Berger and the Study of Religion, 2001
• Homeless Mind : Modernization and Consciousness, 1974
• Redeeming Laughter: The Comic Dimension of Human Experience, 1997
• Many Globalizations: Cultural Diversity in the Contemporary World, 1974. with Samuel P. Huntington
• The Desecularization of the World: Resurgent Religion and World Politics. et al. 1999
• Questions of Faith: A Skeptical Affirmation of Christianity (Religion and the Modern World), 2003
• A Far Glory: The Quest for Faith in an Age of Credibility, 1992.
• Heretical Imperative: Contemporary Possibilities of Religious Affirmation
• The Limits of Social Cohesion: Conflict and Mediation in Pluralist Societies : A Report of the Bertelsmann Foundation to the Club of Rome
• Other Side of God, 1981, ISBN 0-385-17424-1
Penghargaan
Berger mendapatkan penghargaan Doktor Honoris Causa dari Universitas Loyola, Wagner College, Universitas Notre Dame, Universitas Jenewa, dan Universitas Munchen. Ia juga menjadi anggota kehormatan dari berbagai perhimpunan ilmiah.

2.2 Teori Peter Ludwig Berger
Manusia berbeda dengan binatang. Binatang telah dibekali insting oleh Tuhan, sejak dilahirkan hingga melahirkan-sampai mati. Manusia secara biologis dan sosial terus tumbuh dan berkembang, karenanya ia terus belajar dan berkarya membangun kelangsungannya. Upaya menjaga eksistensi itulah yang kemudian menuntut manusia menciptakan tatanan sosial. Jadi, tatanan sosial merupakan produk manusia yang berlangsung terus menerus-sebagai keharusan antropologis yang berasal dari biologis manusia. Tatanan sosial itu bermula dari eksternalisasi, yakni; pencurahan kedirian manusia secara terus menerus ke dalam dunia, baik dalam aktivitas fisis maupun mentalnya (Berger, 1991: 4-5)3.

Masyarakat sebagai realitas obyektif menyiratkan pelembagaan di dalamnya. Proses pelembagaan (institusionalisasi) diawali oleh eksternalisasi yang dilakukan berulang-ulang sehingga terlihat polanya dan dipahami bersama- yang kemudian menghasilkan pembiasaan (habitualisasi). Habitualisasi yang telah berlangsung memunculkan pengendapan dan tradisi. Pengendapan dan tradisi ini kemudian diwariskan ke generasi sesudahnya melalui bahasa. Disinilah terdapat peranan di dalam tatanan kelembagaan, termasuk dalam kaitannya dengan pentradisian pengalaman dan pewarisan pengalaman tersebut. Jadi, peranan mempresentasikan tatanan kelembagaan atau lebih jelasnya; pelaksanaan peranan adalah representasi diri sendiri. Peranan mempresentasikan suatu keseluruhan rangkaian perilaku yeng melembaga, misalnya peranan hakim dengan peran-peran lainnya di sektor hukum.

Masyarakat sebagai realitas obyektif juga menyiratkan keterlibatan legitimasi. Legitimasi merupakan obyektivasi makna tingkat kedua, dan merupakan pengetahuan yang berdimensi kognitif dan normatif-karena tidak hanya menyangkut penjelasan tetapi juga nilai-nilai. Legitimasi berfungsi untuk membuat obyektivasi yang sudah melembaga menjadi masuk akal secara subyektif.

Perlu sebuah universum simbolik yang menyediakan legitimasi utama keteraturan pelembagaan. Universum simbolik menduduki hirarki yang tinggi, metasbihkkan bahwa semua realitas adalah bermakna bagi individu –dan individu harus melakukan sesuai makna itu. Agar individu mematuhi makna itu, maka organisasi sosial diperlukan, sebagai pemelihara universum simbolik. Maka, dalam kejadian ini, organisasi sosial dibuat agar sesuai dengan universum simbolik (teori/legitimasi). Di sisi lain, manusia tidak menerima begitu saja legitimasi. Bahkan, pada situasi tertentu universum simbolik yang lama tak lagi dipercaya dan kemudian ditinggalkan. Kemudian manusia melalui organisasi sosial membangun universum simbolik yang baru. Dan dalam hal ini, legitimasi/teori dibuat untuk melegitimasi organisasi sosial. Proses ”legitimasi sebagai legitimasi lembaga sosial” menuju ”lembaga sosial sebagai penjaga legitimasi” terus berlangsung, dan dialektik. Dialektika ini terus terjadi, dan dialektika ini yang berdampak pada perubahan sosial.

Masyarakat sebagai kenyataan subyektif menyiratkan bahwa realitas obyektif ditafsiri secara subyektif oleh individu. Dalam proses menafsiri itulah berlangsung internalisasi. Internalisasi adalah proses yang dialami manusia untuk ’mengambil alih’ dunia yang sedang dihuni sesamanya (Samuel, 1993: 16). Internalisasi berlangsung seumur hidup melibatkan sosialisasi, baik primer maupun sekunder. Internalisasi adalah proses penerimaan definisi situasi yang disampaikan orang lain tentang dunia institusional. Dengan diterimanya definisi-definisi tersebut, individu pun bahkan hanya mampu mamahami definisi orang lain, tetapi lebih dari itu, turut mengkonstruksi definisi bersama. Dalam proses mengkonstruksi inilah, individu berperan aktif sebagai pembentuk, pemelihara, sekaligus perubah masyarakat.

2.3 Relevansi Teori Konstruksi Berger Dengan Perubahan Sosial
Realitas objektif dan subyektif Berger, adalah kenyataan yang terjadi pada masyarakat itu sendiri. Seperti pendapat Berger yang sepaham dengan Durkheim, struktur sosial yang objektif memiliki karakteristik sebagai berikut :
– Eksternalisasi (luar), adalah sebuah upaya untuk mengaktifkan atau mengeksiskan diri (manusia) terhadap dunia luar, salah satunya di dasari pada sebuah kebutuhan. Atau proses manusia menciptakan sesuatu.
– Objektivasi, usaha untuk mewadahkan objeknya, agar tidak sia-sia dan tidak musnah.
– Internalisasi (dalam), penyerapan nilai atau norma dalam diri manusia.
Pada sederhananya, teori Berger adalah tentang konstruk sosial, dalam kata lain adalah membangun masyarakat. Dalam istilah pembangunan itu sendiri, paradigma kita sudah pasti memahami akan adanya perubahan sosial, karena akibat dari adanya pembangunan itu sendiri, pasti akan ada perubahan sosial, baik bersifat fungsi, disfungsi, baik, buruk.
Dalam teorinya, berger menyinggung mengenai penemuan baru yang menjadi bagian dari realitas manusia itu sendiri secara berkelanjutan, penemuan baru, cepat atau lambat akan menyebabkan perubahan sosial. Kita angkat sebuah contoh, mengenai Ponsel atau handphone, yang sebagian besar orang tahu, bahwa ponsel terkenal atau dikenal masyarakat luas dari lapisan atas hingga bawah pada tahun 2000 (Abad Milenium)4, anggaplah tahun ini sebagai penemuan baru menganai ponsel. Perubahan yang terjadi pada masyarakat setelah penemuan itu dijalankan dengan tiga proses Berger diatas, terdapat perubahan yang sangat berarti, dari mulai dimudahkannya dalam hal komunikasi, pekerjaan, informasi, hingga meleburnya tradisi silaturrahmi secara tatap muka, karena dirasa cukup hanya dengan mengirim pesan singkat atau menelpon dari ponsel tersebut. Atau lebih terasa lagi saat ini, semua golongan hampir melahap ponsel, dan merubah tradisi menjadi pribadi individualistic dan konsumerisme, hal tersebut adalah beberapa bentuk perubahan sosial yang berhubungan dengan teori Berger.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi, atau eksternalisasi habitualisasi, dan tradisi, adalah sebuah proses dalam masyarakat5, dimama masyarakat berjalan dari proses tersebut dalam sebuah keteraturan. Baik realitas objektif atau subyektif, adalah kenyataan yang terjadi pada masyarakat itu sendiri. Binatang telah dibekali insting oleh Tuhan, sejak dilahirkan hingga melahirkan-sampai mati. Manusia diberi akal, yang secara biologis dan sosial terus tumbuh dan berkembang, karenanya ia terus belajar dan berkarya membangun kelangsungannya.
Upaya menjaga eksistensi itulah yang kemudian menuntut manusia menciptakan tatanan sosial. Jadi, tatanan sosial merupakan produk manusia yang berlangsung terus menerus-sebagai keharusan antropologis yang berasal dari biologis manusia. Tatanan sosial itu bermula dari eksternalisasi, yakni; pencurahan kedirian manusia secara terus menerus ke dalam dunia, baik dalam aktivitas fisis maupun mentalnya (Berger, 1991: 4-5).
Relevansinya dengan perubahan sosial sangat jelas, dimana tiga proses atau karakteristik realitas sosial yang disinggung diatas, adalah wujud nyata dari perubahan sosial itu sendiri, yang melahirkan adanya struktur sosial. Struktur sosial adalah bagian dari perubahan, dimanan terjadi karena adanya penemuan baru, konsep atau pengetahuan yang baru. Hingga saat ini, perubahan sosial yang terjadi di Indonesia, bahkan di dunia, telah mengalami perubahan sosial yang sangat jelas sekali, dari mulai perubahan dalam tatanan kelembagaan, hukum, politik, pembangunan, dan lainnya.

Endnote :
1http://citrariski.blogspot.com/2010/12/masyarakat-peter.l.berger.html (diakses pada tanggal 28 Februari 2013)
2Poloma. Margaret M, Sosiologi Kontemporer, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003, hal. 299.
3Ritzer, George, Sosiologi; Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, Jakarta, 1985, hal 51.
4Bungin, Burhan. Sosiologi Komunikasi Teori Paradigma dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Kencana : Jakarta, 2006, hal. 115.

DAFTAR PUSTAKA

Bungin, Burhan. Sosiologi Komunikasi Teori Paradigma dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Kencana : Jakarta, 2006.
Poloma. Margaret M, Sosiologi Kontemporer, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003.
Ritzer, George, Sosiologi; Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, Jakarta, 1985.
http://www.google//wikipedia.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: